Kemenham Desak Penghentian Kekerasan di Papua, Ribuan Warga Mengungsi

Kamis, 20 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JOGJAOKE.COM, Jakarta — Kementerian Hak Asasi Manusia (Kemenham) menyerukan penghentian segera spiral kekerasan di Papua setelah operasi militer di Kabupaten Lanny Jaya, Papua Pegunungan, memicu gelombang pengungsian massal. Ribuan warga dilaporkan meninggalkan rumah mereka dan dua orang masih dinyatakan hilang.

Direktur Jenderal Pelayanan dan Kepatuhan HAM Kemenham, Munafrizal Manan, di Jakarta, Kamis, menegaskan bahwa kekerasan bersenjata yang terus berulang hanya memperdalam lingkaran konflik tanpa menyelesaikan akar persoalan. Dampaknya, warga sipil kembali menjadi kelompok paling rentan.

“Kekerasan bersenjata sering menimbulkan gelombang pengungsi dari warga sipil tak bersenjata. Mereka selalu menjadi korban dari konflik tersebut,” ujarnya.

Akses Dasar Minim di Kamp Pengungsian

Manan yang meninjau langsung Lanny Jaya pada Jumat (14/11) menyebut kondisi pengungsian memprihatinkan. Warga yang mengungsi dikabarkan kesulitan memperoleh kebutuhan dasar, mulai dari makanan, air bersih, layanan kesehatan, hingga tempat tinggal yang layak.

Ia menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar merupakan hak asasi yang tidak dapat ditawar. Karena itu, Kemenham meminta Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan, Pemerintah Kabupaten Lanny Jaya, serta Kementerian Sosial segera mengambil langkah cepat dan terkoordinasi.

Dorong Pendekatan Dialog

Selain penanganan darurat, Kemenham mendorong pemerintah dan seluruh pihak terkait untuk mengembalikan situasi keamanan agar warga dapat kembali pulang dengan aman.

“Kementerian HAM RI akan terus memantau situasi dan mendorong koordinasi antar kementerian, lembaga, serta pemerintah daerah untuk memastikan penanganan yang tepat,” kata Manan.

Ia berharap kekerasan tidak kembali terulang dan meminta negara mengedepankan penyelesaian konflik berbasis dialog dan pendekatan kemanusiaan. Menurut dia, pola operasi bersenjata terbukti hanya melahirkan siklus baru kekerasan dan pengungsian.

“Pendekatan kekerasan harus diganti dengan dialog dan kemanusiaan sebagai jalan resolusi konflik,” ujarnya. (ihd)

Berita Terkait

Pakar UMY Soroti Kekeliruan Penggunaan Rehabilitasi dalam Keputusan Presiden
UMY Soroti Rekrutmen Teroris via Media Digital yang Kian Halus dan Masif
Revisi KUHAP Disahkan, UMY Sorot soal Kontrol Kekuasaan Penegak Hukum
Eko Suwanto Dorong Penguatan Mitigasi Bencana di DIY,  Manfaatkan Anggaran Darurat
Muhammadiyah Tegaskan Netralitas Politik, Fokus pada Dakwah dan Pencerahan Umat
Tiga Dosen UGM Diadili Perkara Korupsi Pembelian Fiktif Biji Kakao Rp6,7 Miliar
UMY Dorong Transportasi Rendah Emisi untuk Wujudkan Kota Hijau Yogyakarta
KPK Periksa Biro Haji di Yogyakarta, Korupsi Kuota Rugikan Negara Rp1 Triliun
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 28 November 2025 - 18:03 WIB

Pakar UMY Soroti Kekeliruan Penggunaan Rehabilitasi dalam Keputusan Presiden

Sabtu, 22 November 2025 - 21:26 WIB

UMY Soroti Rekrutmen Teroris via Media Digital yang Kian Halus dan Masif

Kamis, 20 November 2025 - 13:12 WIB

Kemenham Desak Penghentian Kekerasan di Papua, Ribuan Warga Mengungsi

Rabu, 19 November 2025 - 20:07 WIB

Revisi KUHAP Disahkan, UMY Sorot soal Kontrol Kekuasaan Penegak Hukum

Rabu, 5 November 2025 - 17:26 WIB

Eko Suwanto Dorong Penguatan Mitigasi Bencana di DIY,  Manfaatkan Anggaran Darurat

Berita Terbaru