JOGJAOKE COM, Yogyakarta — Siang itu, kotak-kotak makan mulai berdatangan ke puluhan titik di kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Isinya sederhana: nasi, lauk utama, sayur, dan pelengkap. Namun di balik menu harian itu, tersimpan eksperimen kebijakan yang lebih besar—mengatur ulang cara kampus memperlakukan kesejahteraan pegawainya.
Program “Makan Siang Berkah” sudah berjalan sembilan bulan di kampus UMY. Sekitar 1.500 dosen dan karyawan, dari tenaga administrasi hingga petugas kebersihan dan keamanan, menjadi sasaran. Distribusi dilakukan ke 59 titik unit kerja, termasuk rumah sakit gigi dan mulut serta fasilitas kesehatan yang terafiliasi.
Wakil Rektor Bidang Sumber Daya UMY, Dyah Mutiarin, menyebut program ini lahir dari kebutuhan sederhana: memastikan pegawai tidak melewatkan makan siang. “Kami ingin menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan efisien. Pegawai tidak lagi direpotkan urusan makan di tengah jam kerja,” ujarnya.
Namun, kebijakan ini tak semata soal makan. Di baliknya, ada upaya merapikan pengeluaran kampus. Selama ini, konsumsi rapat kerap membengkak—satu orang bisa menerima lebih dari satu paket konsumsi dalam sehari. Pola itu dinilai tidak efisien, bahkan berpotensi mubazir.
Kini, pendekatannya diubah. Satu orang, satu porsi makan siang terpusat. Anggaran yang sebelumnya tersebar di berbagai kegiatan dialihkan menjadi satu skema yang lebih terkendali. “Lebih hemat dan tepat sasaran,” kata Dyah.
Pada hari pertama pelaksanaan, sejumlah kendala teknis muncul, terutama pada distribusi. Namun evaluasi cepat dilakukan—mulai dari penyesuaian jumlah porsi hingga kecepatan pengiriman ke unit-unit kerja. Kampus menargetkan sistem ini akan lebih rapi dalam beberapa hari ke depan.
Di tingkat penerima, respons cenderung positif. Indira Prabasari, dosen Agroteknologi, mencicipi menu mangut lele pada hari pertama. Ia mengaku terbantu karena tak perlu lagi menyiapkan bekal atau mencari makan di luar kampus. “Lebih hemat waktu dan biaya,” ujarnya.
Meski begitu, catatan tetap ada. Variasi menu dan porsi protein diharapkan dapat ditingkatkan agar lebih memenuhi kebutuhan gizi pegawai.
Program ini, pada akhirnya, menjadi cermin bagaimana institusi pendidikan mencoba menyeimbangkan efisiensi anggaran dengan kesejahteraan sumber daya manusianya. Sebuah kebijakan yang tampak sederhana, tetapi menyentuh rutinitas paling dasar: makan siang. (aga/ihd)






