JOGJAOKE.COM, Jogjakarta — Pemimpin memiliki peran sentral dalam menentukan arah dan kualitas pengembangan organisasi. Hal tersebut disampaikan Mantan Ketua Pengadilan Tinggi Banten, Dr. Suharjono, MH, Senin (27/4/2026).
Menurut Suharjono, dalam sebuah organisasi terdapat dua variabel utama yang tidak dapat dipisahkan, yakni sumber daya manusia (SDM) dan sistem tata kelola organisasi. Keduanya harus berjalan secara sinergis agar organisasi dapat berkembang secara berkelanjutan.
“Dalam tata kelola organisasi, SDM dan sistem merupakan dua variabel penting yang harus berjalan beriringan secara sinergis. Tanpa itu, organisasi sulit mencapai perkembangan yang optimal,” ujarnya.
Ia menjelaskan, SDM berperan sebagai penggerak utama organisasi, sementara sistem menjadi instrumen yang mengarahkan jalannya aktivitas organisasi secara terukur dan terstruktur. Keduanya saling mempengaruhi dan saling bergantung dalam menentukan kualitas organisasi.
“Semakin tinggi kualitas SDM dan sistem yang digunakan, maka semakin baik pula kualitas organisasi. Sebaliknya, jika keduanya rendah, maka organisasi juga akan mengalami penurunan kualitas,” tambahnya.
Suharjono menegaskan bahwa pemimpin merupakan elemen kunci dalam menggerakkan SDM sekaligus memastikan sistem berjalan dengan baik. Pemimpin, kata dia, tidak hanya berperan sebagai pengarah, tetapi juga sebagai pengendali dalam pencapaian tujuan organisasi.
Secara sosiologis, dalam setiap kelompok manusia secara alamiah akan muncul figur pemimpin yang bertugas menggerakkan anggota melalui sistem yang berlaku. Sistem tersebut harus berbasis nilai dan manajemen yang terukur agar organisasi dapat berkembang secara efektif dan berkelanjutan.
Dalam konteks modern, ia menekankan pentingnya penerapan sistem manajemen yang efektif, efisien, dan transparan. Pemimpin juga dituntut mampu mengimplementasikan fungsi manajemen secara menyeluruh, mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, hingga pengawasan.
“Pengembangan organisasi saat ini harus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu, sistem yang digunakan harus berbasis IPTEK dengan prinsip efektivitas, efisiensi, dan transparansi,” jelasnya.
Ia juga menyoroti berbagai instrumen pengembangan organisasi modern seperti ISO, akreditasi, zona integritas, reformasi birokrasi, pelayanan terpadu satu pintu, hingga sistem antisuap yang menjadi standar peningkatan mutu organisasi.
Menurutnya, sistem-sistem tersebut bukan hanya sekadar formalitas, melainkan menjadi ukuran objektif dalam menilai kualitas suatu organisasi. Oleh karena itu, penerapan sistem harus dilakukan secara konsisten, disiplin, dan berkelanjutan.
“Pemahaman terhadap sistem pengembangan organisasi harus menjadi kesadaran, bukan keterpaksaan. Ini penting, terutama bagi pemimpin dalam mengelola organisasi,” pungkasnya.
(Yuyi Rohmatunisa)






