Lula Kamal di Yogyakarta: Tak Boleh Ada Diskriminasi dalam Layanan JKN

Minggu, 6 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lula Kamal (Joke)

Lula Kamal (Joke)

JOGJAOKE.COM, Yogyakarta — Peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) harus memperoleh pelayanan kesehatan yang setara tanpa membedakan sumber pembiayaan. Fasilitas kesehatan juga diminta memastikan tidak ada diskriminasi terhadap peserta JKN dalam memperoleh layanan.

Penegasan itu disampaikan Anggota Dewan Pengawas BPJS Kesehatan, Lula Kamal, saat menyerap aspirasi masyarakat di Yogyakarta, Sabtu (5/9/2026). Aspirasi masyarakat tersebut akan dibawa ke tingkat pusat sebagai bahan evaluasi dan perbaikan Program JKN.

”Pelayanannya harus baik dan setara. Tidak boleh ada diskriminasi peserta JKN diperlakukan dengan tidak baik,” ujar Lula dalam audiensi tersebut.

Menurut Lula, JKN merupakan bentuk gotong royong terbesar di Indonesia yang melibatkan lebih dari 290 juta penduduk. Besarnya cakupan program itu membuat kualitas dan kesetaraan pelayanan menjadi hal yang tidak dapat ditawar.

Ia mencontohkan, peserta JKN tidak semestinya mendapatkan fasilitas yang lebih buruk dibandingkan pasien dengan skema pembiayaan lain. Perbedaan kualitas ruang perawatan berdasarkan sumber pembiayaan, menurut Lula, tidak boleh terjadi.

”Pasien dari pembiayaan lain diberikan ruangan yang baik, terang, ber-AC, sedangkan JKN kurang baik, itu tidak boleh,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, Lula berdialog dengan empat kelompok masyarakat, yakni komunitas peserta Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis), pelaku usaha di kawasan Malioboro, pengajar bahasa Inggris, dan perwakilan badan usaha.

Dari pertemuan itu, sejumlah persoalan terkait pelayanan JKN mengemuka. Persoalan tersebut antara lain menyangkut penjaminan dan rujukan, pembatasan hari rawat inap, layanan kesehatan mental, serta kepesertaan penerima bantuan iuran (PBI) dan pekerja.

Lula mengatakan, penyerapan aspirasi secara langsung diperlukan untuk mengetahui persoalan yang dialami peserta ketika mengakses layanan kesehatan. Keluhan masyarakat selanjutnya akan menjadi masukan bagi perbaikan kebijakan dan pelayanan JKN.

”Melalui serap aspirasi saya ingin mendengar apa yang masih kurang di lapangan, apa lagi yang perlu kita perbaiki dan tingkatkan. Apa yang dirasa pelayanan JKN kurang, nanti kami bawa menjadi oleh-oleh ke pusat,” ujarnya.

Di sisi lain, Lula mendorong peserta memanfaatkan layanan digital untuk mengurangi waktu tunggu di fasilitas kesehatan. Salah satunya melalui aplikasi Mobile JKN yang memiliki fitur antrean daring.

Dengan fitur tersebut, peserta dapat menyesuaikan kedatangan dengan perkiraan waktu pelayanan sehingga tidak perlu mengantre sejak pagi. Peserta juga dapat memanfaatkan petugas BPJS Satu! yang tersedia di rumah sakit apabila membutuhkan bantuan.

Lula juga mengingatkan peserta untuk membayar iuran secara rutin setiap bulan. Menurut dia, kepatuhan membayar iuran merupakan bagian dari tanggung jawab bersama untuk menjaga keberlangsungan sistem JKN yang berlandaskan gotong royong.

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Yogyakarta Subkhan menyambut baik kegiatan tersebut. Ia menilai kolaborasi dengan masyarakat penting untuk memperoleh masukan langsung sekaligus memperkuat kualitas penyelenggaraan Program JKN.

”Masukan dari masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya memperbaiki dan memperkuat pelayanan JKN ke depan,” ujar Subkha (ihd)

Berita Terkait

Jogja Pertahankan Status Bebas Rabies, 3.000 Dosis Vaksin Ditebar untuk Kucing dan Anjing
Pemerintah Kota Yogyakarta Dorong Jelajah Budaya Antar-Kemantren
Abu Vulkanik Anak Krakatau Ganggu Penerbangan, KAI Tambah Kereta Yogyakarta-Jakarta
Tiga Pesan BPH UMY untuk Orang Tua Mahasiswa Baru: Jaga Karakter, Perkuat Doa, dan Tekun Menuntut Ilmu
Banjir Nepal akibat Keruntuhan Gletser, Pakar UMY: Alarm Dampak Perubahan Iklim
Bukan Sekadar Pesta Kopi, Jogja Coffee Week 2026 Hadirkan AI, Robot, dan Digital Human
Jogja Coffee Week 2026 Digelar, Pemkot Yogyakarta Buka Ruang Kolaborasi Pelaku Kopi
Jogja Coffee Week 2026 Dibuka, Industri Kopi dan UMKM Bertemu di 197 Booth

Berita Terkait

Minggu, 6 September 2026 - 18:17 WIB

Jogja Pertahankan Status Bebas Rabies, 3.000 Dosis Vaksin Ditebar untuk Kucing dan Anjing

Minggu, 6 September 2026 - 18:03 WIB

Pemerintah Kota Yogyakarta Dorong Jelajah Budaya Antar-Kemantren

Minggu, 6 September 2026 - 17:40 WIB

Lula Kamal di Yogyakarta: Tak Boleh Ada Diskriminasi dalam Layanan JKN

Sabtu, 5 September 2026 - 14:03 WIB

Tiga Pesan BPH UMY untuk Orang Tua Mahasiswa Baru: Jaga Karakter, Perkuat Doa, dan Tekun Menuntut Ilmu

Sabtu, 5 September 2026 - 11:18 WIB

Banjir Nepal akibat Keruntuhan Gletser, Pakar UMY: Alarm Dampak Perubahan Iklim

Berita Terbaru

Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan meninjau pameran show case Babad Siti Kemantren #4 di Taman Budaya Embung Giwangan, Sabtu (5/9/2026). (Joke/Pemkot)

Yogyakarta

Pemerintah Kota Yogyakarta Dorong Jelajah Budaya Antar-Kemantren

Minggu, 6 Sep 2026 - 18:03 WIB