Imlek Jogja Tegaskan Toleransi Warga Bergerak Jaga Lingkungan Bersama

Senin, 16 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JOGJAOKE.COM, Jogja – Perayaan Imlek 2577 Tahun Kuda Api di Kelenteng Fuk Ling Miau, Gondomanan, Yogyakarta, Senin malam (16/2), menghadirkan suasana hangat penuh makna.

Lampion merah menyala di sepanjang area kelenteng, menandai perayaan yang tidak hanya sarat ritual, tetapi juga menegaskan nilai toleransi dan kebersamaan warga.

“Bagi Jogja, Imlek bukan sekadar perayaan etnis atau agama, melainkan pengingat pentingnya keberagaman sebagai fondasi sosial,” demikian suasana yang tergambar dalam perayaan bertajuk Harmoni Imlek Nusantara itu.

Sejak pukul 19.30 WIB, kawasan Jalan Brigjend Katamso dipadati masyarakat dengan busana bernuansa merah.

Berbagai elemen masyarakat hadir, termasuk Komunitas SatSet Geliat Putri Mataram yang menegaskan semangat kebangsaan lintas agama.

“Prinsip saya, kita tetap NKRI. Kita berkumpul bersama, bahagia, dan nyaman merayakan malam Imlek ini tanpa tendensi apa pun,” ujar Mbak Ros di sela acara.

Koordinator kegiatan SatSet, Ipung, menambahkan bahwa nilai Bhinneka Tunggal Ika harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan sekadar slogan.

Komitmen komunitas tersebut terlihat dari aksi sosial yang dilakukan sebelum perayaan.

Sekitar 150 anggota SatSet—mayoritas ibu-ibu—menggelar kegiatan bersih-bersih di kelenteng pada Kamis sebelumnya.

Komunitas yang berdiri sejak Maret 2025 itu berfokus pada isu lingkungan dan sosial, dengan kegiatan lintas agama seperti membersihkan gereja, pura, dan masjid.

Mereka juga aktif membersihkan ruang publik, mulai dari Ring Road, Stadion Maguwoharjo, Selokan Mataram, hingga Kali Code, serta mengedukasi masyarakat tentang pemilahan sampah dari tingkat rumah tangga.

Perayaan Imlek tahun ini memperlihatkan wajah Yogyakarta yang inklusif dan berorientasi masa depan.

Tradisi dirayakan dengan khidmat, sementara kepedulian terhadap kebersihan lingkungan ditegaskan sebagai tanggung jawab bersama.

Momentum tersebut menunjukkan bahwa toleransi sosial dan kesadaran ekologis dapat berjalan seiring.

Di tengah berbagai tantangan sosial dan lingkungan, perayaan Imlek menjadi pengingat bahwa masa depan kota bergantung pada kemauan warganya untuk saling menghormati serta menjaga ruang hidup bersama.

(waw)

Berita Terkait

Dandim Wonosobo Resmikan Jembatan Garuda, Warga: Impian Lama Terwujud
‎Perempuan Melahirkan Bekerja, Mengapa Beban KB Masih Ditanggung Sendiri?
Founder Occol Artisan Ungkap Mindset “If I Want It” Sukses
‎Sarasehan Budaya Ungkap Pesan Leluhur Tegal Menjaga Alam
BGN DIY Buka Hotline Lapor Mas Kareg, Awasi Program MBG
‎Nuzulul Qur’an Teguhkan Cahaya Peradaban Saat Dunia Dilanda Krisis
UMY Dampingi Wirokerten Transformasi Digital Desa Wisata Berbasis Keamanan Siber
‎Forum Inklusi Muhammadiyah Dorong Kemandirian Akar Rumput dan Solidaritas Ramadan

Berita Terkait

Selasa, 10 Maret 2026 - 21:50 WIB

Dandim Wonosobo Resmikan Jembatan Garuda, Warga: Impian Lama Terwujud

Selasa, 10 Maret 2026 - 21:34 WIB

‎Perempuan Melahirkan Bekerja, Mengapa Beban KB Masih Ditanggung Sendiri?

Selasa, 10 Maret 2026 - 11:46 WIB

‎Sarasehan Budaya Ungkap Pesan Leluhur Tegal Menjaga Alam

Senin, 9 Maret 2026 - 11:56 WIB

BGN DIY Buka Hotline Lapor Mas Kareg, Awasi Program MBG

Senin, 9 Maret 2026 - 10:34 WIB

‎Nuzulul Qur’an Teguhkan Cahaya Peradaban Saat Dunia Dilanda Krisis

Berita Terbaru