JOGJAOKE.COM, Jogja – Pemerintah Daerah DIY bersama Pemerintah Kota Yogyakarta memastikan penyelenggaraan Jogja Last Friday Ride tetap berlangsung tanpa pelarangan maupun pembatasan peserta massal.
Kepala Dinas Perhubungan DIY Chrestina Erni Widyastuti menegaskan, “Tidak ada kebijakan melarang pesepeda melintasi Malioboro, termasuk kegiatan JLFR,” tegasnya kepada publik.
Menurut Erni, seluruh pengguna jalan memiliki hak yang sama memanfaatkan kawasan Malioboro selama tetap mengedepankan keselamatan, ketertiban, serta saling menghormati bersama.
“Semuanya punya hak yang sama, tetapi semua juga harus berbagi ruang dan saling menghargai pengguna jalan lainnya,” ujar Erni menegaskan.
Penjelasan tersebut disampaikan untuk menjawab keresahan masyarakat setelah muncul isu larangan penuh terhadap kegiatan pesepeda di kawasan Malioboro belakangan ini.
Isu itu mencuat seusai penertiban peserta JLFR pada Jumat 26 Juni lalu ketika arus kendaraan meningkat selama momentum libur sekolah nasional.
Erni menjelaskan, “Penertiban saat itu bersifat situasional demi menjaga kelancaran lalu lintas, bukan berarti pemerintah melarang kegiatan bersepeda,” katanya kembali.
Ia memastikan pemerintah tetap mendukung aktivitas olahraga masyarakat sepanjang pelaksanaannya tertib, aman, serta tidak mengganggu kepentingan pengguna jalan lainnya bersama.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo juga memastikan pelaksanaan JLFR pada 31 Juli 2026 tetap berlangsung seperti agenda rutin bulanan selama ini.
“Kami tidak akan melakukan pengamanan berlebihan terhadap JLFR,” kata Hasto seraya menegaskan pendekatan yang dipilih lebih mengedepankan kebersamaan dengan peserta.
Menurut Hasto, Pemerintah Kota Yogyakarta bersama Forkopimda akan menerapkan pola “membersamai” para pesepeda agar suasana tetap nyaman, aman, dan tertib bersama.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu membangun komunikasi positif antara aparat, komunitas pesepeda, masyarakat, serta seluruh pengguna jalan di kawasan Malioboro nantinya.
Hasto menilai kolaborasi dan saling menghormati menjadi kunci agar aktivitas pesepeda maupun mobilitas masyarakat tetap berjalan berdampingan tanpa menimbulkan persoalan baru.
“Yang kami utamakan adalah kenyamanan bersama, bukan pembatasan kegiatan masyarakat,” tegas Hasto mengenai pelaksanaan JLFR mendatang di Kota Yogyakarta.
Pemerintah berharap seluruh peserta JLFR tetap mematuhi aturan lalu lintas, menjaga keselamatan, serta menghormati pejalan kaki dan pengguna jalan lainnya selama berkegiatan.
Dengan kepastian tersebut, JLFR dipastikan tetap digelar rutin setiap Jumat terakhir setiap bulan sebagai ruang olahraga, silaturahmi, sekaligus budaya bersepeda di Yogyakarta.(waw)






