JOGJAOKE.COM, YOGYAKARTA – Pendidikan tinggi tidak cukup hanya diukur melalui indeks prestasi kumulatif (IPK), tetapi juga harus mampu membentuk kepribadian dan karakter mahasiswa yang teruji di tengah masyarakat. Pesan tersebut mengemuka dalam pelepasan 1.818 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Selasa (28/7).
Pelepasan mahasiswa dilaksanakan dalam Seremoni Penerjunan KKN Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 di Lapangan Upacara Kampus Terpadu UMY. Melalui program tersebut, mahasiswa didorong tidak hanya menerapkan pengetahuan akademik, tetapi juga mengembangkan kepekaan sosial, kebijaksanaan, serta kemampuan berinteraksi dengan masyarakat.
Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta, Dr. Muhammad Ikhwan Ahada, M.A., menegaskan bahwa KKN menjadi momentum untuk menguji kepribadian yang telah dibentuk selama mahasiswa menjalani proses pendidikan di kampus.
“Pada hakikatnya, pendidikan kita tidak sekadar mengejar IPK tinggi, meskipun hal itu penting dan harus tetap dipertahankan. Lebih dari itu, KKN merupakan momentum untuk mengonfirmasi kepribadian yang telah kita bentuk agar benar-benar menjadi manusia seutuhnya,” ujar Ikhwan.
Ikhwan, yang juga menjabat sebagai Bendahara Badan Pembina Harian (BPH) UMY, menyebut setiap mahasiswa membawa dua identitas sekaligus ketika menjalankan pengabdian, yakni sebagai bagian dari UMY dan Persyarikatan Muhammadiyah. Karena itu, mahasiswa dituntut mampu menjaga sikap, perilaku, dan nama baik institusi selama berada di tengah masyarakat.
Menurutnya, KKN tidak hanya menjadi ruang penerapan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan, tetapi juga sarana untuk menguji integritas, tanggung jawab, kepedulian, dan kemampuan mahasiswa dalam menghadapi realitas sosial.
Pesan senada disampaikan Wakil Rektor Bidang Pengembangan Universitas dan Al-Islam Kemuhammadiyahan UMY, Prof. Faris Al-Fadhat, M.A., Ph.D. Saat melepas mahasiswa secara resmi, Faris menekankan bahwa pengabdian merupakan jalan untuk memperoleh kebijaksanaan yang tidak cukup didapatkan hanya melalui pembelajaran akademik.
“Ilmu mengajarkan kita untuk berpikir, tetapi pengabdian mengajarkan kita menjadi pribadi yang bijaksana,” tutur Faris.
Ia menyampaikan tiga pesan utama kepada mahasiswa sebelum diberangkatkan ke lokasi KKN masing-masing. Pertama, mahasiswa harus hadir dengan kerendahan hati dan kesiapan untuk belajar bersama masyarakat, bukan menempatkan diri sebagai pihak yang paling mengetahui segala sesuatu.
Menurutnya, masyarakat memiliki pengetahuan, pengalaman, nilai, serta kearifan lokal yang perlu dihormati. Karena itu, mahasiswa harus mampu mendengarkan dan memahami kebutuhan masyarakat sebelum merancang maupun menjalankan program kerja.
Kedua, KKN harus diwujudkan dalam aksi nyata yang memberikan manfaat langsung. Program yang dijalankan tidak seharusnya berhenti sebagai pemenuhan kewajiban akademik, tetapi perlu menghasilkan dampak yang relevan dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Ketiga, Faris mengingatkan bahwa mahasiswa membawa identitas UMY sekaligus Muhammadiyah selama menjalankan pengabdian.
“Di pundak kanan, masyarakat akan mengetahui bahwa Anda adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Di pundak kiri, Anda akan dikenali sebagai bagian dari Muhammadiyah,” ujarnya.
Oleh karena itu, mahasiswa diminta menjaga akhlak, kesantunan, dan cara berkomunikasi selama berinteraksi dengan masyarakat. Sikap mahasiswa di lokasi KKN akan menjadi cerminan nilai-nilai yang dibangun UMY dan Muhammadiyah.
Faris mengungkapkan bahwa pelepasan mahasiswa diiringi perasaan bahagia sekaligus khawatir karena kampus tidak dapat mengendalikan seluruh kondisi yang akan dihadapi mahasiswa di lapangan. Meski demikian, ia memberikan kepercayaan penuh kepada mahasiswa untuk mampu menjaga diri, menjalankan program secara bertanggung jawab, serta membawa nama baik UMY dan Muhammadiyah.
Melalui pelaksanaan KKN, mahasiswa diharapkan tidak hanya memperoleh pengalaman pengabdian, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa, rendah hati, adaptif, dan peka terhadap persoalan masyarakat. Dengan demikian, keberhasilan pendidikan tidak hanya tercermin melalui capaian akademik, tetapi juga melalui kemampuan mahasiswa menghadirkan manfaat nyata bagi lingkungan sekitarnya. (LSI)
Sumber : humas umy






