Home / UMY

Karhutla Kalimantan Meluas, Pakar UMY: El Niño Perparah Kekeringan, Aktivitas Manusia Jadi Pemicu Utama

Kamis, 27 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JOGJAOKE.COM,  YOGYAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas di sejumlah wilayah Kalimantan tidak terlepas dari kondisi cuaca yang semakin kering akibat fenomena El Niño. Kendati demikian, faktor iklim bukan satu-satunya penyebab. Aktivitas manusia tetap menjadi salah satu pemicu utama munculnya titik api yang kemudian berkembang menjadi kebakaran lebih luas.

Pakar Kebijakan Lingkungan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rijal Ramdani, M.P.A., Ph.D., menjelaskan bahwa El Niño berkontribusi terhadap berkurangnya curah hujan dan memperpanjang kondisi kering. Akibatnya, vegetasi dan lahan gambut kehilangan kelembapan sehingga semakin mudah terbakar.

Kondisi tersebut sejalan dengan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Pada akhir Agustus 2026, BMKG mencatat El Niño kategori sangat kuat masih menjadi salah satu faktor utama yang mendukung kondisi kering di sebagian besar wilayah Indonesia. Kondisi tersebut meningkatkan kerentanan terhadap kekeringan dan karhutla di sejumlah provinsi.

“Musim kemarau itu bisa menjadi lebih panjang karena El Niño. Akibatnya, ketersediaan ilalang dan hutan yang kering menjadi rentan untuk terbakar,” ujar Rijal saat diwawancarai secara daring, Kamis (27/8).

Menurut Rijal, kondisi tersebut dapat diperparah oleh cuaca panas dan angin kencang yang mempercepat penyebaran api. Namun, El Niño pada dasarnya merupakan faktor yang menciptakan kondisi lingkungan semakin kering dan mudah terbakar, bukan sumber api yang secara langsung menyebabkan kebakaran.

Pandangan tersebut juga sejalan dengan penjelasan BMKG bahwa sistem peringatan karhutla memetakan kondisi cuaca yang mendukung terjadinya kebakaran apabila terdapat sumber api atau hotspot. Dengan kata lain, kondisi meteorologis dapat meningkatkan kerentanan, tetapi tetap dibutuhkan sumber penyulut untuk memulai kebakaran.

Aktivitas Manusia Jadi Faktor Penting Karhutla

Rijal menilai sumber api dalam banyak kejadian karhutla justru berkaitan dengan aktivitas manusia. Salah satunya adalah praktik pembukaan lahan untuk berkebun atau bercocok tanam dengan menggunakan metode pembakaran.

“Kalau tidak ada El Niño, sebenarnya praktik membakar untuk bercocok tanam bisa dikendalikan. Tetapi, karena kondisi kering dan angin kencang, api menjadi sulit dikendalikan,” jelasnya.

Kementerian Lingkungan Hidup juga menyebut berbagai penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar kebakaran hutan dan lahan bukan merupakan bencana alam murni. Penyebabnya banyak berkaitan dengan aktivitas manusia, baik yang dilakukan secara sengaja maupun akibat kelalaian.

Selain pembukaan lahan, Rijal menyoroti sejumlah aktivitas sehari-hari yang tanpa disadari berpotensi menjadi sumber api. Di antaranya adalah pencarian madu hutan yang menggunakan asap untuk mengusir lebah serta aktivitas di kawasan hutan yang meninggalkan api tanpa dipadamkan sepenuhnya.

Kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan juga perlu diwaspadai, terutama ketika dilakukan di kawasan gambut yang telah mengering.

“Serbuk-serbuk kecil dari gambut yang kering juga bisa terbakar,” ungkap Rijal.

Karakteristik lahan gambut membuat risiko tersebut semakin besar. Ketika kehilangan kelembapan, gambut dapat menjadi bahan bakar yang mudah terbakar. Api juga dapat merambat hingga ke bawah permukaan sehingga proses pemadamannya menjadi jauh lebih sulit.

Pencegahan Harus Menyasar Sumber Api

Rijal menjelaskan, kombinasi antara kondisi kering akibat El Niño dan sumber api dari aktivitas manusia membuat risiko karhutla meningkat selama musim kemarau. Semakin kering kondisi vegetasi dan lahan, semakin besar kemungkinan api kecil berkembang menjadi kebakaran yang sulit dikendalikan.

Karena itu, memahami faktor penyebab karhutla menjadi penting agar penanganannya tidak hanya berfokus pada pemadaman setelah kebakaran terjadi. Strategi pencegahan perlu diarahkan pada pengurangan sumber api sekaligus menjaga kondisi lahan agar tidak semakin rentan terbakar.

Edukasi kepada masyarakat mengenai risiko pembakaran lahan, penggunaan api di kawasan hutan dan gambut, hingga pembuangan puntung rokok perlu menjadi bagian dari strategi pencegahan jangka panjang. Upaya tersebut perlu berjalan bersama patroli, deteksi dini, pembasahan gambut, dan pemantauan kondisi cuaca.

BMKG sendiri telah mengingatkan sejak April 2026 bahwa periode kritis karhutla diperkirakan berlangsung mulai Mei hingga September, dengan risiko meningkat pada Agustus–September seiring meluasnya wilayah dengan curah hujan di bawah normal.

Menurut Rijal, pendekatan tersebut penting untuk memutus pola penanganan karhutla yang selama ini lebih banyak berfokus pada pemadaman setelah api meluas.

“Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa dalam kondisi sangat kering, aktivitas yang menghasilkan api sekecil apa pun dapat menjadi pemicu kebakaran. Pencegahan harus dilakukan sebelum api muncul dan meluas,” pungkasnya. (GLA)

 

Sumber : humas umy

Berita Terkait

Jejaring Riset Internasional UMY Menguat di QS Asia 2027, MoU Harus Berujung Kolaborasi Nyata
Pererat Sinergi Kampus dan Kepolisian, UMY Gelar Fun Football Bersama Polres Bantul
UMY Masuk 15 Besar Universitas Terbaik di Indonesia dan naik 8 peringkat di QS Asia University Rankings 2027
UMY Melesat 162 Peringkat di QS Asia University Rankings 2027, Catat Kenaikan tertinggi ke-5 di Asia
Aksara Peduli UMY Salurkan Bantuan Kesehatan untuk Santri Ar Rahimiyah Pota
Tim Aksara Peduli UMY Salurkan Bantuan ke Puskesmas Pota, Siapkan Lima Paket Darurat
UMY Kirim Tim Aksara Peduli ke Manggarai Timur, Dukung Pemulihan Pascabencana
Beasiswa Full Study UMY 2026 Jangkau 113 Mahasiswa, Termasuk dari Filipina

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 12:58 WIB

Jejaring Riset Internasional UMY Menguat di QS Asia 2027, MoU Harus Berujung Kolaborasi Nyata

Kamis, 5 November 2026 - 11:28 WIB

Pererat Sinergi Kampus dan Kepolisian, UMY Gelar Fun Football Bersama Polres Bantul

Kamis, 5 November 2026 - 08:36 WIB

UMY Masuk 15 Besar Universitas Terbaik di Indonesia dan naik 8 peringkat di QS Asia University Rankings 2027

Kamis, 5 November 2026 - 08:27 WIB

UMY Melesat 162 Peringkat di QS Asia University Rankings 2027, Catat Kenaikan tertinggi ke-5 di Asia

Selasa, 3 November 2026 - 13:20 WIB

Aksara Peduli UMY Salurkan Bantuan Kesehatan untuk Santri Ar Rahimiyah Pota

Berita Terbaru