JOGJAOJE.COM, Yogyakarta — Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kian menguat dan terintegrasi dalam berbagai cabang teknik, termasuk rekayasa otomotif. Kehadiran AI tidak hanya mempercepat proses kerja di industri, tetapi juga secara mendasar menggeser peran insinyur di era teknologi digital.
Hal itu disampaikan dosen Program Studi Rekayasa Otomotif Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Ir. Ferriawan Yudhanto, S.T., M.T., dalam wawancara di Gedung AR Fachruddin B UMY, Senin (18/1/2026).
Ferriawan menjelaskan, peran insinyur kini mengalami transformasi signifikan. Jika sebelumnya identik dengan perhitungan teknis dan perancangan manual, insinyur saat ini dituntut menjadi pengambil keputusan berbasis data.
AI, menurut dia, berperan besar dalam mempercepat proses desain, simulasi, optimasi, hingga prediksi kegagalan sistem. Proses yang sebelumnya membutuhkan waktu lama kini dapat dilakukan dengan lebih cepat dan akurat.
“AI membantu memperkuat kerja insinyur, bukan menggantikannya. Teknologi ini efektif untuk otomatisasi perhitungan, simulasi teknis, analisis data, serta optimasi desain,” ujarnya.
Ferriawan menegaskan, AI tidak akan mampu menggantikan aspek-aspek fundamental yang melekat pada manusia. Tiga aspek tersebut, yakni humanisme, kreativitas, dan kemampuan berpikir multidisiplin, justru menjadi nilai tambah utama insinyur di tengah pesatnya otomasi.
Dalam praktik keteknikan, pemanfaatan AI juga berkontribusi pada peningkatan keselamatan kerja. Melalui pemantauan real-time, sistem inspeksi otomatis, serta kemampuan prediksi kegagalan, risiko kecelakaan dan kesalahan operasional dapat ditekan.
Meski demikian, Ferriawan mengingatkan adanya sejumlah tantangan serius, terutama di Indonesia. Keterbatasan literasi AI dan data, akses terhadap data berkualitas, serta infrastruktur digital yang belum merata masih menjadi hambatan utama.
“Masih banyak insinyur yang perlu meningkatkan kompetensi dalam pemrograman, analitik data, dan integrasi AI ke dalam sistem teknik. Biaya implementasi serta regulasi yang belum sepenuhnya matang juga menjadi tantangan,” katanya.
Ia juga menyoroti adaptasi kurikulum pendidikan teknik yang belum merata, sehingga berpengaruh terhadap kesiapan sumber daya manusia menghadapi disrupsi teknologi. Menurut dia, insinyur masa depan harus dibekali literasi AI dan data, kemampuan berpikir kritis, serta pemahaman sistem digital, di samping keterampilan komunikasi, etika profesi, dan kolaborasi lintas disiplin.
Dalam konteks tersebut, Ferriawan menegaskan peran strategis perguruan tinggi, termasuk Fakultas Teknik UMY, dalam menyiapkan lulusan yang adaptif terhadap perkembangan AI. Integrasi kurikulum berbasis teknologi digital, data, dan kecerdasan buatan dinilai menjadi kebutuhan mendesak.
“Mahasiswa perlu dibekali pembelajaran berbasis proyek, kolaborasi dengan industri, serta riset terapan berbantuan AI agar mampu memecahkan persoalan nyata,” ujarnya.
Ke depan, Ferriawan memandang hubungan ideal antara kecerdasan manusia dan kecerdasan buatan sebagai kemitraan yang saling melengkapi. AI berperan dalam analisis, simulasi, dan optimasi, sementara manusia tetap memegang kendali dalam pengambilan keputusan, kreativitas, dan tanggung jawab etis. (ihd)






