Limbah Tempurung Kelapa UMY Tembus Pasar Global, Diminati Eropa–Asia

Kamis, 15 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Inovasi Muhammad Aryo bersama timnya mengolah tempurung kelapa menjadi briket ramah lingkungan yang kini diminati pasar Eropa dan Asia. (Humas UMY)

Inovasi Muhammad Aryo bersama timnya mengolah tempurung kelapa menjadi briket ramah lingkungan yang kini diminati pasar Eropa dan Asia. (Humas UMY)

JOGJAOKE.COM, Yogyakarta  — Limbah tempurung kelapa yang selama ini kerap dipandang tak bernilai ekonomi, justru menjelma menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi melalui inovasi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Muhammad Aryo Lambang, mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan angkatan 2023, bersama timnya mengolah tempurung kelapa menjadi briket ramah lingkungan yang kini diminati pasar Eropa dan Asia.

Gagasan tersebut berangkat dari keprihatinan terhadap melimpahnya limbah biomassa di Indonesia yang belum dimanfaatkan optimal. Tempurung kelapa yang memiliki kandungan karbon tinggi, sekitar 60–70 persen, diolah menjadi arang, dicampur tepung kanji sebagai perekat, lalu dicetak menjadi briket siap pakai. Briket ini mampu menghasilkan panas stabil dengan durasi pembakaran dua hingga tiga jam, sekaligus lebih bersih dibandingkan bahan bakar konvensional.

“Di Eropa, batok kelapa justru diburu karena dipandang sebagai sumber energi hijau. Sementara di Indonesia, pemanfaatannya masih sangat terbatas,” ujar Aryo saat ditemui di Kampus UMY, Kamis (15/1/2026).

Produk briket tempurung kelapa ini telah menembus pasar Prancis, Portugal, dan Belanda, serta merambah kawasan Asia, termasuk Jepang, Korea, dan Asia Tenggara. Permintaan yang terus meningkat sejalan dengan menguatnya kesadaran global akan pentingnya energi bersih dan berkelanjutan. Aryo menilai peluang pasar luar negeri masih jauh lebih besar dibandingkan pasar domestik yang umumnya terbatas pada kebutuhan kuliner.

Inovasi tersebut sekaligus mematahkan stigma bahwa mahasiswa Ilmu Pemerintahan hanya berkutat pada isu politik dan birokrasi. Menurut Aryo, pendekatan strategis, kemampuan membaca peluang, dan keberanian berinovasi menjadi bekal penting dalam mengembangkan usaha berbasis keberlanjutan.

Melalui pengembangan briket tempurung kelapa, mahasiswa UMY tidak hanya membangun kemandirian ekonomi, tetapi juga berkontribusi pada penguatan ekonomi hijau. Semangat sociopreneurship yang diusung menunjukkan bahwa inovasi bisnis dapat berjalan seiring dengan kepedulian sosial dan lingkungan. (ihd)

Berita Terkait

UMY Perkuat Reputasi Global di Tengah Ketatnya Persaingan Kampus Asia
UMY Ubah Pola Konsumsi Rapat, 1.500 Pegawai Makan Siang Gratis Terpusat
25 Tahun bersama UMY, Ratih Herningtyas Buktikan Dedikasi dan Komitmen Kunci Sukses 
Pakar UMY: Lonjakan Harga Plastik Cermin Rapuhnya Struktur Industri Nasional
Lulusan UMY, Menjaga Diplomasi dengan Sentuhan Manusiawi
UMY Tanam Harapan di Lereng Merapi, Greenhouse Cangkringan Jadi Awal Kemandirian Warga
Pakar UMY: Gejolak Timur Tengah Jadi Ujian Ketahanan Ekonomi Nasional
UMY Kukuhkan 1.390 Lulusan, Rektor Tekankan Sinergi Kompetensi Global dan Nilai Kemanusiaan

Berita Terkait

Kamis, 7 Mei 2026 - 10:52 WIB

UMY Perkuat Reputasi Global di Tengah Ketatnya Persaingan Kampus Asia

Sabtu, 25 April 2026 - 22:53 WIB

UMY Ubah Pola Konsumsi Rapat, 1.500 Pegawai Makan Siang Gratis Terpusat

Selasa, 21 April 2026 - 11:26 WIB

25 Tahun bersama UMY, Ratih Herningtyas Buktikan Dedikasi dan Komitmen Kunci Sukses 

Rabu, 15 April 2026 - 21:27 WIB

Pakar UMY: Lonjakan Harga Plastik Cermin Rapuhnya Struktur Industri Nasional

Selasa, 14 April 2026 - 23:22 WIB

Lulusan UMY, Menjaga Diplomasi dengan Sentuhan Manusiawi

Berita Terbaru