RSCM Ditetapkan Jadi Rumah Sakit Penyangga Nasional Terapi Sel Punca

Selasa, 2 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Simposium bersama Stem Cell and Cancer Research (SCCR) dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) di Semarang. (Dok RSCM)

Simposium bersama Stem Cell and Cancer Research (SCCR) dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) di Semarang. (Dok RSCM)

JOGJAOKE.COM, Semarang — Upaya pengembangan terapi sel punca di Indonesia memasuki tahap krusial. Riset yang kian intensif dan praktik klinis yang mulai tertata disorot dalam simposium bersama Stem Cell and Cancer Research (SCCR) dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) yang digelar di Semarang, akhir pekan lalu.

Pertemuan ilmiah tersebut mempertemukan peneliti, regulator, serta tenaga klinis untuk menyelaraskan arah hilirisasi riset menuju layanan medis yang aman, efektif, dan dapat diakses publik. Di tengah meningkatnya minat masyarakat, aspek regulasi dan sertifikasi ditegaskan sebagai kunci keselamatan pasien.

Ketua Komite Sel Punca Indonesia, Prof. Amin Soebandrio, menyampaikan bahwa hanya produk dan layanan dari laboratorium tersertifikasi serta fasilitas berizin yang boleh digunakan dalam praktik klinis. Hingga kini, baru sebagian laboratorium di Indonesia yang mengantongi sertifikasi dari Kementerian Kesehatan dan Badan POM. Kondisi ini, menurut dia, menunjukkan perlunya edukasi agar masyarakat tidak mudah tergiur layanan komersial yang belum tervalidasi secara ilmiah.

Pengawasan ketat, tambahnya, diperlukan untuk mencegah praktik berisiko dan memastikan terapi diberikan sesuai indikasi medis. “Keselamatan pasien harus menjadi pedoman utama,” ujarnya.

Direktur Utama RSCM, dr. Supriyanto Dharmoredjo, menegaskan bahwa RSCM telah ditetapkan sebagai rumah sakit pengampu nasional untuk terapi sel punca. Ia menilai kolaborasi dengan SCCR dan institusi riset menjadi elemen penting guna menjamin standar produksi, keamanan, dan layanan sebelum terapi diperluas ke publik.

Dalam diskusi, sejumlah peserta menyoroti biaya terapi sel punca yang saat ini masih relatif tinggi. Besaran biaya sangat dipengaruhi dosis, jenis terapi, dan kebutuhan sel yang disesuaikan dengan berat badan pasien. Hilirisasi dan peningkatan kapasitas produksi diyakini dapat menekan harga seiring skala ekonomi dan inovasi teknologi.

Contoh hilirisasi di sektor ini disampaikan Prof. Agung Putra, yang menyebutkan upaya pendaftaran produk stem cell ke Badan POM, termasuk gel penyembuh luka berbasis sel, sebagai bukti transformasi riset menuju produk yang dapat dijangkau masyarakat. Riset, kata dia, tidak hanya diarahkan pada terapi berbiaya tinggi, tetapi juga produk regeneratif yang aplikatif dan memberi manfaat publik.

Untuk memperkuat fondasi layanan, peserta simposium menyepakati sejumlah langkah prioritas: penyusunan pedoman praktik klinis nasional berbasis bukti; peningkatan kapasitas laboratorium tersertifikasi melalui pelatihan dan investasi infrastruktur; penguatan literasi publik mengenai manfaat dan risiko terapi; serta dukungan regulator dan industri agar hasil riset dapat menjadi produk terdaftar yang terjangkau.

Transformasi terapi sel punca, menurut para pembicara, bukan sekadar pencapaian ilmiah, melainkan kerja ekosistem yang menuntut kolaborasi jangka panjang antara SCCR, RSCM, pemerintah, dan komunitas riset. Dengan tata kelola yang disiplin dan transparan, Indonesia dinila Iini memiliki peluang besar menghadirkan teknologi regenerative medicine yang aman, efektif, dan dapat dinikmati lebih banyak warga. (ihd)

Berita Terkait

Sampah dan Parkir Liar Meningkat, Malioboro Full Pedestrian Hadapi Banyak PR
Jogja Masuk Tiga Terbaik ACFFEST 2025: Kreativitas Kampanye Antikorupsi Diakui KPK
Yogyakarta Raih Predikat Terbaik Keterbukaan Informasi Publik DIY 2025
Sate
Ketua DPRD Jogja Soroti Ormas sebagai Penghubung Aspirasi Warga dan Penggerak Sosial
Malam Ini, Menko AHY Akan Menerima Nanyang Distinguished Alumni Award 2025, Penghargaan Tertinggi NTU
UMY Naik 50 Peringkat dalam QS Sustainability 2026, Unggul Kinerja Riset Lingkungan
Pemkot Yogyakarta Kebut Perbaikan Dua Ruas Jalan Vital Menjelang Akhir Tahun

Berita Terkait

Selasa, 2 Desember 2025 - 15:08 WIB

RSCM Ditetapkan Jadi Rumah Sakit Penyangga Nasional Terapi Sel Punca

Senin, 1 Desember 2025 - 20:35 WIB

Sampah dan Parkir Liar Meningkat, Malioboro Full Pedestrian Hadapi Banyak PR

Minggu, 30 November 2025 - 10:26 WIB

Jogja Masuk Tiga Terbaik ACFFEST 2025: Kreativitas Kampanye Antikorupsi Diakui KPK

Kamis, 27 November 2025 - 19:00 WIB

Yogyakarta Raih Predikat Terbaik Keterbukaan Informasi Publik DIY 2025

Rabu, 26 November 2025 - 20:34 WIB

Sate

Berita Terbaru