Home / UMY

Pencopotan Purbaya Mendadak, Guru Besar UMY Soroti Etika Kekuasaan

Rabu, 16 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto Guru Besar Partai Politik dan Sistem Kepartaian UMY, Prof. Dr. phil. Ridho Al-Hamdi, M.A.,

Foto Guru Besar Partai Politik dan Sistem Kepartaian UMY, Prof. Dr. phil. Ridho Al-Hamdi, M.A.,

JOGJAOKE.COM, YOGYAKARTA – Pergantian Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa secara mendadak menjadi sorotan karena berlangsung ketika agenda pemerintahan masih berjalan. Purbaya dicopot pada Senin (14/9/2026) dan digantikan Suahasil Nazara. Pada hari yang sama, Purbaya masih menghadiri rapat bersama Komite IV DPD RI untuk membahas sejumlah isu terkait Rancangan APBN 2027.

Purbaya bahkan meninggalkan agenda tersebut setelah menerima panggilan telepon dari Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi. Tidak lama setelah itu, Presiden Prabowo Subianto melantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan yang baru.

Guru Besar Partai Politik dan Sistem Kepartaian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. phil. Ridho Al-Hamdi, M.A., mengatakan pergantian menteri memang merupakan kewenangan presiden karena menteri berkedudukan sebagai pembantu presiden. Namun, menurutnya, kewenangan tersebut tetap dapat dilihat dari sisi kepatutan dalam proses pemerintahan.

“Dalam perspektif kekuasaan, pergantian menteri kapan saja merupakan hal yang dimungkinkan. Tetapi kalau dilihat dari perspektif kepatutan dan budaya kita, cara pemberhentian juga perlu diperhatikan. Seorang pemimpin tetap perlu menunjukkan bagaimana menghormati orang yang sebelumnya menjalankan tugas sebagai pembantunya,” ujar Prof. Ridho kepada Humas UMY, Rabu (16/9).

Dicopot Saat Agenda RAPBN Berjalan

Menurutnya, proses pemberhentian yang berlangsung ketika seorang menteri masih menjalankan agenda resmi pemerintahan dapat menimbulkan pertanyaan mengenai komunikasi dalam pengambilan keputusan. Ia menilai pemberitahuan secara lebih terstruktur kepada pejabat yang bersangkutan akan mencerminkan tata kelola pemerintahan yang lebih baik.

“Kalau memungkinkan, pemberitahuan disampaikan secara resmi dan orang yang bersangkutan dipanggil lebih dahulu. Jelaskan bahwa akan ada pergantian. Kekuasaan memang punya kewenangan untuk mengambil keputusan, tetapi kepatutan dan komunikasi tetap penting. Kekuasaan bisa terasa kejam ketika orang yang sedang bekerja tiba-tiba harus menerima keputusan seperti itu,” katanya.

Peristiwa tersebut juga berlangsung ketika pemerintah tengah menyiapkan RAPBN 2027. Sebelum meninggalkan rapat bersama DPD RI, Purbaya sempat memaparkan sejumlah isu terkait pengelolaan keuangan negara. Salah satunya mengenai Transfer ke Daerah (TKD) dalam RAPBN 2027 yang disebut mencapai Rp735 triliun.

Di sisi lain, setelah dilantik, Suahasil menyatakan akan melanjutkan pengelolaan keuangan negara dengan menjaga kesehatan dan kredibilitas APBN. Kementerian Keuangan juga mencatat serah terima jabatan dilakukan secara resmi dengan penyerahan laporan kinerja Purbaya kepada Suahasil.

Menurut Prof. Ridho, dinamika tersebut menunjukkan pentingnya komunikasi dalam proses pergantian pejabat publik. Pergantian figur di tingkat menteri bukan hanya berkaitan dengan keputusan politik, tetapi juga menyangkut keberlanjutan kerja birokrasi dan koordinasi pemerintahan.

Menurutnya, dinamika semacam itu juga dapat muncul ketika seorang menteri berkembang menjadi figur yang dikenal luas oleh masyarakat. Ia menyebutkan popularitas seorang menteri dapat menciptakan dinamika tersendiri dalam pemerintahan karena figur tersebut memiliki panggung dan pengaruh publik yang semakin besar.

“Ketika seorang menteri semakin dikenal dan menjadi bintang di tengah masyarakat, tentu muncul dinamika politik. Kekuasaan memiliki pertimbangan sendiri untuk menjaga keseimbangan. Karena itu, posisi seorang menteri tetap berada dalam struktur sebagai pembantu presiden,” jelas Prof. Ridho.

Dalam kasus Purbaya, Prof. Ridho melihat sejumlah langkah selama menjabat turut menjadi bagian dari dinamika tersebut. Ia menyinggung sikap Purbaya terhadap permintaan pendanaan Danantara serta penataan pejabat di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak dan Bea Cukai. Meski demikian, ia menekankan bahwa alasan resmi pergantian menteri tetap merupakan kewenangan presiden.

Menjaga Kesinambungan Birokrasi

Dari sisi birokrasi, pergantian pejabat secara tiba-tiba berpotensi memengaruhi dinamika internal kementerian, terutama ketika terdapat program dan penataan birokrasi yang sedang berjalan. Purbaya sendiri sebelumnya melakukan perombakan sejumlah pejabat di lingkungan Kementerian Keuangan.

“Kalau terjadi pergantian, yang harus dijaga adalah sistemnya. Jangan sampai perubahan figur kemudian membuat arah kerja birokrasi berubah secara mendadak dan mengganggu program yang sudah dirancang. Pemerintahan harus tetap berjalan berdasarkan aturan dan kepentingan publik,” pungkasnya.

Prof. Ridho menambahkan, kasus tersebut dapat menjadi pembelajaran mengenai bagaimana kekuasaan digunakan dalam pemerintahan. Ia mengingatkan agar keputusan politik tetap mempertimbangkan kepentingan masyarakat dan tidak semata-mata berorientasi pada kepentingan kekuasaan.

“Partai politik dan penguasa harus mengembangkan visi untuk kepentingan rakyat, bukan hanya kepentingan jabatan atau kelompoknya. Pada akhirnya, pemerintah akan berhadapan langsung dengan rakyat yang merasakan dampak dari setiap keputusan politik,” tegas Prof. Ridho. (GLA)

Sumber : humas umy

Berita Terkait

Jejaring Riset Internasional UMY Menguat di QS Asia 2027, MoU Harus Berujung Kolaborasi Nyata
Pererat Sinergi Kampus dan Kepolisian, UMY Gelar Fun Football Bersama Polres Bantul
UMY Masuk 15 Besar Universitas Terbaik di Indonesia dan naik 8 peringkat di QS Asia University Rankings 2027
UMY Melesat 162 Peringkat di QS Asia University Rankings 2027, Catat Kenaikan tertinggi ke-5 di Asia
Aksara Peduli UMY Salurkan Bantuan Kesehatan untuk Santri Ar Rahimiyah Pota
Tim Aksara Peduli UMY Salurkan Bantuan ke Puskesmas Pota, Siapkan Lima Paket Darurat
UMY Kirim Tim Aksara Peduli ke Manggarai Timur, Dukung Pemulihan Pascabencana
Beasiswa Full Study UMY 2026 Jangkau 113 Mahasiswa, Termasuk dari Filipina

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 12:58 WIB

Jejaring Riset Internasional UMY Menguat di QS Asia 2027, MoU Harus Berujung Kolaborasi Nyata

Kamis, 5 November 2026 - 11:28 WIB

Pererat Sinergi Kampus dan Kepolisian, UMY Gelar Fun Football Bersama Polres Bantul

Kamis, 5 November 2026 - 08:36 WIB

UMY Masuk 15 Besar Universitas Terbaik di Indonesia dan naik 8 peringkat di QS Asia University Rankings 2027

Kamis, 5 November 2026 - 08:27 WIB

UMY Melesat 162 Peringkat di QS Asia University Rankings 2027, Catat Kenaikan tertinggi ke-5 di Asia

Selasa, 3 November 2026 - 13:20 WIB

Aksara Peduli UMY Salurkan Bantuan Kesehatan untuk Santri Ar Rahimiyah Pota

Berita Terbaru