Mahasiswa UMY Meniti Jejak Diri di Negeri Gajah Putih

Kamis, 27 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aisyah Nabhan Syahidah (Suara Muhammadiyah)

Aisyah Nabhan Syahidah (Suara Muhammadiyah)

JENDELANUSANTARA.COM, Jakarta — Bagi Aisyah Nabhan Syahidah, atau akrab disapa Nabhan, Thailand bukan sekadar negeri dengan kuil-kuil megah dan ragam kuliner yang menggugah. Bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) angkatan 2022 itu, Negeri Gajah Putih menjadi ruang tumbuh; tempat ia menata langkah, mengenali diri, sekaligus menakar masa depan. Sejak 30 Oktober 2025, ia resmi menjalani program pertukaran mahasiswa di Walailak University, salah satu kampus berperingkat internasional versi Times Higher Education (THE).

Keinginan Nabhan untuk belajar di luar negeri sebenarnya tumbuh sejak kecil. Namun baru pada semester lima kesempatan itu hadir nyata. Walailak University dipilih bukan hanya karena reputasinya, tetapi juga karena harapannya untuk meraih kemandirian. Ia ingin keluar dari zona nyaman, membangun keberanian menghadapi lingkungan baru, sekaligus menguji batas kemampuan dirinya.

Namun langkah itu tidak serta-merta mendapatkan restu keluarga. Ia harus menyusun rencana serinci mungkin –tujuan keberangkatan, anggaran harian, biaya hidup, hingga gambaran aktivitas akademik. “Rasanya seperti sidang proposal,” ujar Nabhan sambil tertawa kecil. Setelah melalui diskusi yang panjang, restu itu akhirnya ia kantongi pada Juli 2025. Seluruh dokumen ia urus segera, ditopang dukungan UMY berupa subsidi Rp3 juta, pembebasan SPP variabel, dan penundaan pembayaran DPP satu semester.

Setiba di Thailand, tantangan menanti. Bahasa Thailand yang asing membuatnya mengandalkan bahasa Inggris dalam hampir seluruh aktivitas. Mencari makanan halal tidak selalu mudah, sementara kantin kampus berada cukup jauh dan harus ditempuh dengan bus. Perbedaan nilai tukar mata uang dan dinamika sosial yang tak serupa dengan Indonesia membuat masa adaptasinya terasa lebih panjang. Namun Nabhan, yang terbiasa hidup mandiri sejak SMP, mencoba teguh. “Ini sudah ketetapan terbaik dari Allah,” tuturnya. Rindu rumah tetap menyelinap, tetapi telepon rutin bersama keluarga menjadi perantara penguat hati.

Walailak University menyambutnya dengan hangat. Setibanya di bandara, ia disambut dosen dan para buddies kampus yang mendampingi selama empat hari pertama. Setiap akhir pekan, para mahasiswa internasional diajak menjelajahi kawasan Nakhon: Pantai Khanom, kuil-kuil bersejarah, hingga museum –semuanya tanpa dipungut biaya. Asrama gratis dengan fasilitas memadai, lingkungan yang bersih, budaya pemilahan sampah yang ketat, serta layanan bus kampus yang terjadwal membuatnya merasa dihargai sebagai mahasiswa tamu.

Di ruang kelas, ia menemukan suasana belajar yang hidup. Metode pengajaran aplikatif, diskusi interaktif, serta energi para dosen membuatnya lebih percaya diri. Pada awalnya, ia sempat minder melihat kefasihan mahasiswa lokal. Namun keterbatasan itu justru ia jadikan pemicu untuk belajar lebih tekun. Dalam interaksi sehari-hari, bahasa tubuh menjadi “bahasa ketiga” yang memperkaya pengalaman komunikasinya dengan warga lokal.

Lingkungan internasional memperluas pandangannya. Bahasa Inggris ia maknai bukan lagi sekadar mata kuliah, melainkan jembatan lintas budaya. Dari proses adaptasi hingga percakapan sederhana, Nabhan mulai menyusun rencana jangka panjang: melanjutkan pendidikan dan menjadi pendidik kreatif yang mampu bersaing di level global.

“Exchange bukan hanya tentang pengalaman baru. Ini membentuk karakter dan memperjelas arah karier saya sebagai calon pendidik internasional,” ujarnya. Ia pun menitip pesan kepada mahasiswa lain, “Jangan takut mengambil keputusan besar. Kesempatan tidak datang dua kali.”

Dari Yogyakarta menuju Nakhon, dari mimpi masa kecil menjadi langkah yang nyata, kisah Nabhan mengingatkan bahwa keberanian melampaui batas diri sering kali membuka pintu-pintu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. (Suara Muhammadiyah)

Berita Terkait

Limbah Tempurung Kelapa UMY Tembus Pasar Global, Diminati Eropa–Asia
UMY: Keprotokolan Seni Etika dan Komunikasi Penjaga Martabat Bangsa
Khutbah Jumat di UMY: Optimisme dan Spirit Kemajuan Hadapi Zaman Tak Pasti
UMY Rescue Buka Layanan Kesehatan Bergerak di Aceh Tengah, Akses Terhambat Banjir
UMY Buka Pendaftaran 2026/2027, Sediakan Beasiswa Hafizh hingga Dokter 
Pakar UMY: Perkebunan Sawit Takkan Pernah Bisa Gantikan Hutan Alami
UMY Rescue Buka Kembali Layanan Kesehatan di Aceh Tengah
Inaugurasi ATA UMY: 83 Alumni Rampungkan Program, Siap Melangkah ke Dunia Kerja

Berita Terkait

Kamis, 15 Januari 2026 - 20:28 WIB

Limbah Tempurung Kelapa UMY Tembus Pasar Global, Diminati Eropa–Asia

Kamis, 15 Januari 2026 - 20:05 WIB

UMY: Keprotokolan Seni Etika dan Komunikasi Penjaga Martabat Bangsa

Sabtu, 10 Januari 2026 - 13:51 WIB

Khutbah Jumat di UMY: Optimisme dan Spirit Kemajuan Hadapi Zaman Tak Pasti

Selasa, 6 Januari 2026 - 20:22 WIB

UMY Rescue Buka Layanan Kesehatan Bergerak di Aceh Tengah, Akses Terhambat Banjir

Senin, 5 Januari 2026 - 18:16 WIB

UMY Buka Pendaftaran 2026/2027, Sediakan Beasiswa Hafizh hingga Dokter 

Berita Terbaru

Jawa Barat

Kepala Desa Tajursindang Bantah Tudingan Penyelewengan Dana Desa

Jumat, 16 Jan 2026 - 13:03 WIB