Kerentanan pada Game Online Jadi Celah Baru Teroris Susupkan Ideologi ke Anak-anak

Selasa, 25 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JOGJAOKE.COM, Yogyakarta — Perubahan pola komunikasi di era digital dinilai membuka celah baru bagi kelompok teroris untuk menyusupkan ideologi kepada anak-anak. Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Prof Suciati menyebut gim daring kini berpotensi menjadi medium rekrutmen karena sifatnya yang interaktif dan tidak dibatasi ruang maupun waktu.

“Ideologi radikal sekarang bisa dipoles lewat media digital. Brainwash yang dulu offline, kini bisa online,” ujar Suciati di Yogyakarta, Selasa. Menurut dia, karakter teknologi digital yang memungkinkan komunikasi dua arah membuat proses penyusupan ideologi lebih mudah terjadi, terutama pada anak yang menghabiskan banyak waktu di dunia virtual.

Suciati menjelaskan, pola pemanfaatan ruang digital oleh kelompok teroris berkaitan erat dengan kerentanan pribadi anak, khususnya mereka yang mengalami kecanduan gim dan berasal dari keluarga tidak harmonis. Dua faktor tersebut, katanya, kerap menjadi pintu masuk bagi pelaku. “Kecanduan dan broken home menjadi kata kunci,” ujarnya.

Ketika anak sudah kecanduan gim atau media sosial, kemampuan mengendalikan perilaku menurun. Kondisi ini membuat waktu, perhatian, dan energi mereka sepenuhnya tersedot ke aktivitas digital. Jika situasi itu bertemu dengan keluarga yang kurang memberikan perhatian, anak menjadi lebih mudah menerima pengaruh dari luar yang hadir di ruang virtual mereka.

Menurut Suciati, proses perekrutan biasanya dimulai secara halus. Aktivitas permainan yang tampak biasa bisa menjadi langkah awal sebelum anak digiring ke ruang digital yang lebih tertutup. “Awalnya main gim seperti biasa. Lalu, karena kecanduan, mereka diarahkan ke platform khusus,” tuturnya.

Pada fase pencarian jati diri, anak yang kecanduan cenderung mencari penerimaan dan afeksi di dunia maya. Ketika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi di rumah, pengaruh dari kelompok tertentu menjadi lebih mudah masuk. “Kalau belum masuk ke kecanduan, masih bisa dikontrol. Tetapi ketika sudah kecanduan, anak sulit dihentikan. Hidupnya tertarik sepenuhnya ke media sosial dan gim,” kata Suciati. (ihd)

Berita Terkait

UMY Jajaki Kerja Sama dengan BNPT, Buka Peluang Magang dan Riset Mahasiswa
Perpustakaan Era Generasi C di UMY: KPDI 2026 Bahas Transformasi Budaya Digital
Banjir Beruntun di Sumatera, Pakar UMY Ingatkan Tata Ruang Sudah Tak Selaras Iklim
Dosen UMY: Kekurangan Dokter di Puskesmas Kian Akut, Bebani Layanan Primer dan JKN
Penguatan Tata Kelola Desa Didorong Lewat Sinergi IAI DIY dan UMY
Sultan di UMY: Green Democracy Didorong Jadi Paradigma Baru Politik Indonesia
Mahasiswa UMY Meniti Jejak Diri di Negeri Gajah Putih
1.153 PPPK di Pemda DIY Dilantik, Sultan Tekankan Kompetensi dan Adab

Berita Terkait

Minggu, 7 Desember 2025 - 09:55 WIB

UMY Jajaki Kerja Sama dengan BNPT, Buka Peluang Magang dan Riset Mahasiswa

Rabu, 3 Desember 2025 - 21:44 WIB

Perpustakaan Era Generasi C di UMY: KPDI 2026 Bahas Transformasi Budaya Digital

Rabu, 3 Desember 2025 - 13:03 WIB

Banjir Beruntun di Sumatera, Pakar UMY Ingatkan Tata Ruang Sudah Tak Selaras Iklim

Selasa, 2 Desember 2025 - 14:47 WIB

Dosen UMY: Kekurangan Dokter di Puskesmas Kian Akut, Bebani Layanan Primer dan JKN

Minggu, 30 November 2025 - 10:35 WIB

Penguatan Tata Kelola Desa Didorong Lewat Sinergi IAI DIY dan UMY

Berita Terbaru