JOGJAOKE.COM, MAGELANG – Upaya meningkatkan mutu kopi rakyat tidak hanya bertumpu pada proses pascapanen, tetapi juga membutuhkan pemahaman petani sejak tahap budidaya. Menjawab kebutuhan tersebut, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat memberikan pendampingan kepada Kelompok Tani Sumber Berkah di Dusun Jogahan, Desa Citrosono, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang, Jumat (29/5/2026).
Kegiatan ini diikuti 35 petani anggota Kelompok Tani Sumber Berkah. Fokus utama kegiatan adalah pengenalan cacat mutu biji kopi atau defect, serta faktor-faktor penyebabnya yang berkaitan dengan praktik budidaya yang dilakukan petani di kebun.
Materi disampaikan oleh Oki Wijaya, S.P., M.P., dosen Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian UMY, bersama Raihan Ilham Fadhilah, S.P., alumni Agribisnis UMY yang juga aktif sebagai penggiat kopi di Jawa Tengah. Keduanya memberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga mutu kopi sejak proses perawatan tanaman, pemanenan, hingga penanganan awal hasil panen.
Oki Wijaya selaku ketua pengabdian menjelaskan bahwa petani memiliki peran penting dalam menentukan kualitas kopi yang dihasilkan. Menurutnya, mutu kopi tidak hanya dipengaruhi oleh proses pengolahan setelah panen, tetapi juga oleh kondisi tanaman, pemilihan buah, cara panen, serta penanganan buah kopi setelah dipetik.
“Petani merupakan aktor utama dalam menjaga mutu kopi sejak dari kebun. Melalui kegiatan ini, kami ingin berbagi pengetahuan agar petani semakin memahami penyebab munculnya cacat mutu pada kopi dan dapat melakukan pencegahan sejak awal,” ujar Oki saat diwawancarai di UMY pada Rabu (03/06/2026).
Sementara itu, Raihan Ilham Fadhilah menjelaskan bahwa pengenalan cacat mutu biji kopi penting diberikan secara praktis agar mudah dipahami petani. Dengan mengenali ciri-ciri penurunan mutu dan penyebabnya, petani diharapkan dapat memperbaiki praktik budidaya dan penanganan panen secara bertahap sesuai dengan kondisi kebun masing-masing.
Dalam kegiatan tersebut, petani diajak berdiskusi mengenai berbagai faktor yang dapat menurunkan kualitas kopi, seperti pemeliharaan tanaman, kebersihan kebun, kematangan buah saat panen, serta cara penanganan hasil panen sebelum masuk ke tahap pengolahan. Materi disampaikan dengan pendekatan sederhana dan dekat dengan pengalaman petani sehari-hari.
Ketua Kelompok Tani Sumber Berkah, Khaerodin, menyambut baik kegiatan tersebut. Ia menilai pendampingan mengenai mutu kopi sangat relevan dengan kebutuhan petani, terutama dalam upaya meningkatkan kualitas panen dan nilai jual kopi yang dihasilkan anggota kelompok.
Melalui kegiatan ini, UMY berharap petani kopi di Grabag, Magelang, semakin memahami pentingnya menjaga mutu kopi sejak tahap budidaya. Peningkatan kapasitas petani dalam mengenali penyebab cacat mutu diharapkan dapat mendorong hasil panen yang lebih berkualitas dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih baik bagi anggota Kelompok Tani Sumber Berkah.
Sumber : Humas umy






