Home / UMY

Haedar Nashir: Pendidikan Bukan Ajang Kekuasaan, Indonesia Perlu Roadmap Jangka Panjang

Senin, 6 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir saat memberikan amanatnya dalam peresmian Gedung Muhammadiyah Sapen Universal School (MSUS)

Ketum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir saat memberikan amanatnya dalam peresmian Gedung Muhammadiyah Sapen Universal School (MSUS)

JOGJAOKE.COM, Yogyakarta – Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., menegaskan bahwa Indonesia memerlukan roadmap pendidikan jangka panjang yang berorientasi pada cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan sekadar kebijakan yang berganti mengikuti siklus pemerintahan. Menurutnya, pendidikan tidak boleh dipandang sebagai instrumen kekuasaan ataupun kepentingan finansial.

Pernyataan tersebut disampaikan Haedar dalam amanatnya pada peresmian Gedung Muhammadiyah Sapen Universal School (MSUS), Sabtu (4/7/2026). Acara tersebut turut dihadiri Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Dr. Fajar Riza Ul Haq, M.A.

“Jangan letakkan pendidikan sebagai faktor kekuasaan, apalagi menjadi faktor uang. Salah kalau kita menempatkan pendidikan sebagai dua faktor tersebut. Siapa pun yang menjadi kepala dinas, direktur, atau pejabat publik lainnya, semua itu bukan urusan kekuasaan,” ujar Haedar.

Haedar menilai pendidikan merupakan salah satu sektor yang paling kompleks dalam kehidupan berbangsa. Namun, hingga kini Indonesia dinilai belum memiliki strategi jangka panjang yang mampu menjaga kesinambungan pembangunan pendidikan lintas pemerintahan.

Menurutnya, pergantian rezim maupun pemerintahan sejak masa pascakemerdekaan sering kali diikuti perubahan arah kebijakan sehingga pembangunan pendidikan lebih banyak didominasi program-program jangka pendek.

“Kita belum memiliki roadmap tentang bagaimana strategi jangka panjang mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai ultimate goal pendidikan. Yang sering terjadi adalah kebijakan-kebijakan praktis pada setiap periode pemerintahan. Itu memang penting, tetapi tidak cukup untuk menjawab kebutuhan jangka panjang,” imbuhnya.

Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) tersebut juga menilai visi Indonesia Emas 2045 perlu terus diarahkan agar tetap berpijak pada amanat konstitusi, bukan sekadar menjadi agenda politik yang berganti setiap lima tahun.

Menurut Haedar, negara memiliki kewajiban konstitusional untuk menyelenggarakan pendidikan bagi seluruh warga negara. Namun, ketika negara belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan tersebut, lembaga pendidikan swasta hadir sebagai mitra strategis dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Ketika pemerintah diberi kewajiban konstitusional untuk menyediakan pendidikan bagi semua warga negara, semestinya seluruh kebutuhan pendidikan dapat dipenuhi. Namun, ketika hal itu belum sepenuhnya dapat dilakukan, maka lembaga swasta hadir untuk mengambil bagian,” tuturnya.

Ia menegaskan, Muhammadiyah telah menjalankan peran tersebut selama lebih dari satu abad dengan menyediakan akses pendidikan bagi masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah, bahkan sejak sebelum Indonesia merdeka.

Kini, menurutnya, pengabdian Muhammadiyah di bidang pendidikan terus berkembang dengan menjangkau seluruh lapisan masyarakat sebagai bagian dari dakwah sekaligus ikhtiar mencetak generasi bangsa yang unggul.

“Hampir satu abad lebih Muhammadiyah mendidik anak-anak bangsa dari keluarga menengah ke bawah. Itu merupakan bentuk pengabdian yang luar biasa, bahkan telah dimulai sebelum Indonesia merdeka,” katanya.

Menutup sambutannya, Haedar mengajak Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal Muhammadiyah maupun ‘Aisyiyah untuk terus melakukan pembaruan dalam pengelolaan pendidikan agar mampu menjawab tantangan zaman.

Menurutnya, transformasi pendidikan harus dilakukan secara berkelanjutan melalui proses reaktualisasi, revitalisasi, reformasi, hingga transformasi kelembagaan.

“Yang diperlukan saat ini adalah reaktualisasi, revitalisasi, reformasi, bahkan transformasi dalam strategi pengelolaan pendidikan. Semua itu merupakan tahapan yang saling berkesinambungan untuk mewujudkan pendidikan yang lebih maju,” pungkasnya. (lsi)

Sumber : Humas Umy

Berita Terkait

Air Bersih Terbatas Pascabencana di Manggarai Timur, UMY Siapkan Teknologi Penjernihan Air
Jejaring Riset Internasional UMY Menguat di QS Asia 2027, MoU Harus Berujung Kolaborasi Nyata
Pererat Sinergi Kampus dan Kepolisian, UMY Gelar Fun Football Bersama Polres Bantul
UMY Masuk 15 Besar Universitas Terbaik di Indonesia dan naik 8 peringkat di QS Asia University Rankings 2027
UMY Melesat 162 Peringkat di QS Asia University Rankings 2027, Catat Kenaikan tertinggi ke-5 di Asia
Aksara Peduli UMY Salurkan Bantuan Kesehatan untuk Santri Ar Rahimiyah Pota
Tim Aksara Peduli UMY Salurkan Bantuan ke Puskesmas Pota, Siapkan Lima Paket Darurat
UMY Kirim Tim Aksara Peduli ke Manggarai Timur, Dukung Pemulihan Pascabencana

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 13:28 WIB

Air Bersih Terbatas Pascabencana di Manggarai Timur, UMY Siapkan Teknologi Penjernihan Air

Kamis, 5 November 2026 - 12:58 WIB

Jejaring Riset Internasional UMY Menguat di QS Asia 2027, MoU Harus Berujung Kolaborasi Nyata

Kamis, 5 November 2026 - 11:28 WIB

Pererat Sinergi Kampus dan Kepolisian, UMY Gelar Fun Football Bersama Polres Bantul

Kamis, 5 November 2026 - 08:36 WIB

UMY Masuk 15 Besar Universitas Terbaik di Indonesia dan naik 8 peringkat di QS Asia University Rankings 2027

Kamis, 5 November 2026 - 08:27 WIB

UMY Melesat 162 Peringkat di QS Asia University Rankings 2027, Catat Kenaikan tertinggi ke-5 di Asia

Berita Terbaru

Rakor ISEI Cabang Yogyakarta

Yogyakarta

Lima Kandidat Berebut Kursi Ketua ISEI Yogyakarta, Didi Unggul

Jumat, 6 Nov 2026 - 15:34 WIB