Guru Besar UMY: Literasi Tertinggal, Ruang Digital Kian Memperlebar Polarisasi

Sabtu, 13 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Prof Faris Al-Fadhat (Dok UMY)

Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Prof Faris Al-Fadhat (Dok UMY)

JOGJAOKE.COM, Yogyakarta — Laju disrupsi digital yang kian cepat tidak selalu seiring dengan peningkatan kualitas literasi masyarakat. Ketimpangan inilah yang, menurut kalangan akademisi, memicu krisis pengetahuan sekaligus memperlebar jurang polarisasi di ruang publik.

Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Prof Faris Al-Fadhat mengungkapkan, ruang digital kini menjadi lahan subur lahirnya kesimpulan instan, informasi menyesatkan, hingga pertengkaran emosional. Situasi tersebut mencerminkan era disruptif, ketika arus informasi melaju cepat, tetapi pemahaman mendalam justru tertinggal.

“Informasi beredar sangat cepat, tetapi tidak banyak yang benar-benar memahami substansinya,” ujar Faris saat membuka Musyawarah Daerah (Musda) XXII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Daerah Istimewa Yogyakarta di UMY, Kamis (11/12/2025) malam.

Menurut dia, kemudahan mengakses informasi melalui media sosial kerap menimbulkan ilusi pengetahuan. Banyak orang merasa sudah tahu hanya karena membaca sepintas, padahal kemampuan menilai, memilah, dan mengolah informasi secara kritis masih lemah. Kondisi ini kemudian memicu polarisasi politik yang melampaui sekadar perbedaan pendapat.

Ruang digital, lanjut Faris, semakin dipenuhi komentar dangkal, respons instan, serta reaksi emosional. Perdebatan tidak lagi berangkat dari adu gagasan, melainkan sekadar penegasan posisi—siapa yang diikuti dan siapa yang ditentang.

Ia menilai persoalan tersebut sudah berada pada tahap mengkhawatirkan dan menjadi tantangan besar bagi bangsa Indonesia. Dalam konteks itu, Faris menyebut Muhammadiyah menawarkan jalan keluar melalui penguatan tradisi intelektual yang berakar pada ijtihad, tajdid, dan cara berpikir kritis.

“Bangsa ini perlu memetakan ulang cara pandangnya, termasuk dalam membaca dinamika sosial yang terus berubah,” kata Faris. (ihd)

Berita Terkait

Mataf UMY: 7.131 Mahasiswa Memulai Perjalanan: Belajar Ilmu sekaligus Kehidupan 
Ketika Cita-cita Menjadi Dokter Harus Diperjuangkan hingga ke Ujung Sinyal
UMY Siapkan Sustainability Center, Belajar dari Smart Eco Campus ITS
HMI Tunas Bangsa UMY Salurkan Bantuan untuk Korban Gempa Flores di NTT
Jawab Keresahan Soal LKS Mahal, Bupati Aep Gratiskan Modul Siswa SD-SMP di Karawang
Kreatif dan Bernilai Jual, Singkong Jadi Sushi di Program Pengabdian Untirta
UMY Perkuat Reputasi Global di Tengah Ketatnya Persaingan Kampus Asia
UMY Ubah Pola Konsumsi Rapat, 1.500 Pegawai Makan Siang Gratis Terpusat

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 15:15 WIB

Mataf UMY: 7.131 Mahasiswa Memulai Perjalanan: Belajar Ilmu sekaligus Kehidupan 

Minggu, 6 September 2026 - 18:32 WIB

Ketika Cita-cita Menjadi Dokter Harus Diperjuangkan hingga ke Ujung Sinyal

Sabtu, 5 September 2026 - 18:20 WIB

UMY Siapkan Sustainability Center, Belajar dari Smart Eco Campus ITS

Selasa, 1 September 2026 - 21:09 WIB

HMI Tunas Bangsa UMY Salurkan Bantuan untuk Korban Gempa Flores di NTT

Jumat, 24 Juli 2026 - 09:07 WIB

Jawab Keresahan Soal LKS Mahal, Bupati Aep Gratiskan Modul Siswa SD-SMP di Karawang

Berita Terbaru