JOGJAOKE.COM, Yogyakarta — Laju disrupsi digital yang kian cepat tidak selalu seiring dengan peningkatan kualitas literasi masyarakat. Ketimpangan inilah yang, menurut kalangan akademisi, memicu krisis pengetahuan sekaligus memperlebar jurang polarisasi di ruang publik.
Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Prof Faris Al-Fadhat mengungkapkan, ruang digital kini menjadi lahan subur lahirnya kesimpulan instan, informasi menyesatkan, hingga pertengkaran emosional. Situasi tersebut mencerminkan era disruptif, ketika arus informasi melaju cepat, tetapi pemahaman mendalam justru tertinggal.
“Informasi beredar sangat cepat, tetapi tidak banyak yang benar-benar memahami substansinya,” ujar Faris saat membuka Musyawarah Daerah (Musda) XXII Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Daerah Istimewa Yogyakarta di UMY, Kamis (11/12/2025) malam.
Menurut dia, kemudahan mengakses informasi melalui media sosial kerap menimbulkan ilusi pengetahuan. Banyak orang merasa sudah tahu hanya karena membaca sepintas, padahal kemampuan menilai, memilah, dan mengolah informasi secara kritis masih lemah. Kondisi ini kemudian memicu polarisasi politik yang melampaui sekadar perbedaan pendapat.
Ruang digital, lanjut Faris, semakin dipenuhi komentar dangkal, respons instan, serta reaksi emosional. Perdebatan tidak lagi berangkat dari adu gagasan, melainkan sekadar penegasan posisi—siapa yang diikuti dan siapa yang ditentang.
Ia menilai persoalan tersebut sudah berada pada tahap mengkhawatirkan dan menjadi tantangan besar bagi bangsa Indonesia. Dalam konteks itu, Faris menyebut Muhammadiyah menawarkan jalan keluar melalui penguatan tradisi intelektual yang berakar pada ijtihad, tajdid, dan cara berpikir kritis.
“Bangsa ini perlu memetakan ulang cara pandangnya, termasuk dalam membaca dinamika sosial yang terus berubah,” kata Faris. (ihd)






