Charina Anggie Simbolon: Dari Gagal hingga Berhasil Menggapai Sapta Abdi Praja

Selasa, 4 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JOGJAOKE.COM, Jatinangor – Tidak semua prestasi lahir dari jalan yang mulus. Bagi Charina Anggie Simbolon, menjadi salah satu lulusan terbaik atau Sapta Abdi Praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Angkatan XXXIII merupakan puncak perjalanan panjang yang dipenuhi penolakan, doa, dan keteguhan hati. Perempuan asal Kota Batam, Kepulauan Riau itu berjuang mewujudkan cita-cita ayahnya menjadi seorang perwira.

Anggie lahir dan besar di lingkungan rumah dinas Kodim di Batam. Ayahnya merupakan prajurit TNI Angkatan Darat berpangkat Pembantu Letnan Satu (Peltu), sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga. Kesederhanaan keluarga membentuknya menjadi pribadi yang selalu bersyukur dan pantang menyerah.

“Saya hidup dan tumbuh dengan kesederhanaan. Orang tua saya menidik saya untuk selalu bersyukur apa pun yang kita miliki,” tuturnya saat ditemui di Kampus IPDN Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Jumat (31/7/2026).

Di balik kesederhanaan itu, sang ayah menyimpan mimpi yang belum sempat terwujud. Keinginan menjadi seorang perwira akhirnya dititipkan kepada keempat anaknya. “Nak, karena papa tidak bisa, silakan kalian berempat berjuanglah menjadi seorang perwira, apa pun yang kalian mau, sekolah di kedinasan mana pun,” ujar Anggie kenang pesan ayahnya.

Perjalanan menuju IPDN tidak berlangsung mudah. Selepas lulus SMA, anak kedua tersebut beberapa kali mengikuti berbagai seleksi, mulai dari Akademi Kepolisian, Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kejaksaan, hingga seleksi IPDN tahun 2021, tetapi belum berhasil. Di tengah kondisi keluarga yang masih harus membiayai adik-adiknya, ia sempat ingin bekerja. Namun, keinginan itu tidak diizinkan sang ayah.

Masa penantian itu membawanya menjadi relawan selama sembilan bulan di sebuah shelter yang mendampingi korban perdagangan manusia maupun kekerasan terhadap perempuan dan anak. Pengalaman tersebut membuatnya semakin memahami arti perjuangan dan rasa syukur.

“Saya belajar bahwa hidup itu memang penuh perjuangan. Walaupun saya merasa saya gagal, tapi Tuhan tuh masih memberikan saya keluarga yang hangat untuk selalu men-support,” ujarnya.

Berbekal pengalaman dan tekad yang kuat, Anggie kembali mengikuti seleksi IPDN pada 2022. Saat hasil Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) muncul di layar komputer dengan nilai memuaskan, air matanya langsung mengalir. “Itu saya nangis. Saya berterima kasih sama Tuhan. Terima kasih Tuhan, mungkin ini memang langkahku untuk banggakan Papa-Mama,” terang Anggie.

Setelah dinyatakan lulus seluruh tahapan seleksi, Anggie resmi menjadi Praja IPDN. “Saya selalu mengandalkan Tuhan di dalam hidup saya,” ujarnya.

Kesempatan menjadi Praja IPDN itu tidak disia-siakannya. Setelah beradaptasi pada tahun pertama, Anggie berhasil menjadi peringkat pertama di program studinya pada tingkat dua dan kembali mempertahankan prestasi tersebut pada tingkat tiga. Konsistensi itu mengantarkannya menjadi penyandang Sapta Abdi Praja atau salah satu lulusan terbaik IPDN Angkatan XXXIII.

Bagi Anggie, penghargaan itu bukanlah pencapaian terbesar. Momen yang paling membahagiakan justru ketika kedua orang tuanya menyaksikan dirinya dilantik langsung oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai Pamong Praja Muda.

“Ini yang aku bisa kasih. Ini undangan, kalian (mama-papa) bisa duduk tenang, kalian bisa menyaksikan aku menjadi sepuluh besar, kalian bisa menyaksikan aku dilantik sama Pak Prabowo. Itu suatu kebanggaan untuk orang tua saya, dan itu suatu hal yang sangat saya syukuri,” ungkapnya.

Kini, setelah resmi menjadi aparatur sipil negara (ASN), Anggie ingin terus mengembangkan diri, termasuk melanjutkan pendidikan magister di luar negeri. Pengalaman mendampingi masyarakat yang membutuhkan juga memperkuat tekadnya menjadi pelayan publik. “Saya ingin menjadi seorang ASN yang benar-benar melayani, bukan untuk dilayani,” jelasnya.

Anggie menitipkan pesan kepada generasi muda agar tidak takut bermimpi meski berasal dari keluarga sederhana. “Ayo, jangan putus asa, jangan ragu dengan apa yang kamu miliki. Yang penting kamu niat, kamu punya motivasi, kamu belajar dengan sungguh-sungguh, dan itu semua harus kamu tutup dengan doa,” pesannya.(lsi)

Sumber : Puspen Kemendagri

Berita Terkait

PTUN Tolak Gugatan UGM, Dokumen Jokowi Makin Terbuka Publik
Warmindo Kampung Kepuh Jual Rokok Ilegal, Polisi Bergerak Cegah Konflik Dengan Warga
Lewat EducaTrip with JoCy, Jogja City Mall Hadirkan Wisata Edukasi yang Seru untuk Anak-anak
PAMDI Kudus Bangun Kolaborasi Inspiratif Bersama Rutan Sambut Kemerdekaan Warga Binaan
JAFF Market Buka Peluang Sineas Asia Lewat Proyek dan IP Unggulan
MK Selamatkan Anggaran Pendidikan, Guru Honorer Tagih Kesejahteraan Nyata Sekarang
Bayi Laki-laki Bertali Pusar Ditemukan di Kebun Semin, Dievakuasi ke Puskesmas
Dosen UWM: Kepemimpinan Digital Perkuat Budaya Organisasi dan Daya Saing Perusahaan

Berita Terkait

Selasa, 4 Agustus 2026 - 07:55 WIB

Charina Anggie Simbolon: Dari Gagal hingga Berhasil Menggapai Sapta Abdi Praja

Senin, 3 Agustus 2026 - 15:17 WIB

PTUN Tolak Gugatan UGM, Dokumen Jokowi Makin Terbuka Publik

Senin, 3 Agustus 2026 - 15:10 WIB

Warmindo Kampung Kepuh Jual Rokok Ilegal, Polisi Bergerak Cegah Konflik Dengan Warga

Senin, 3 Agustus 2026 - 14:08 WIB

Lewat EducaTrip with JoCy, Jogja City Mall Hadirkan Wisata Edukasi yang Seru untuk Anak-anak

Senin, 3 Agustus 2026 - 13:43 WIB

PAMDI Kudus Bangun Kolaborasi Inspiratif Bersama Rutan Sambut Kemerdekaan Warga Binaan

Berita Terbaru