Fikih Nahy Munkar Tegaskan Dakwah Santun Tanpa Main Hakim Sendiri Berlebihan

Sabtu, 20 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JOGJAOKE.COM, ‎Jogja – Konsep amar ma’ruf nahi munkar kembali menjadi sorotan setelah dipaparkan dalam materi “Fikih Nahy Munkar” pada kuliah Subuh di Masjid Gedhe Kauman, Sabtu (20/6/2026).

Materi tersebut menegaskan bahwa mencegah kemungkaran merupakan bagian penting dari ajaran Islam, tetapi pelaksanaannya harus mengikuti aturan syariat, bukan dilakukan secara serampangan.

‎Dalam penjelasannya disebutkan, amar ma’ruf nahi munkar memiliki kedudukan sebagai fardhu kifayah bagi masyarakat dan dapat menjadi fardhu ‘ain bagi individu dalam kondisi tertentu.

“Ma’ruf adalah setiap ucapan, perbuatan, atau perasaan yang baik menurut syariat. Sedangkan munkar adalah semua ucapan, perbuatan, dan perasaan yang buruk menurut syariat,” jelasnya.

‎Ia juga menegaskan bahwa kewajiban tersebut berlaku bagi siapa pun, baik pemimpin, pejabat, ulama, masyarakat awam, maupun orang yang masih memiliki kekurangan.

Namun, pelaksanaannya harus memenuhi sejumlah syarat, seperti mengetahui ilmunya, menyaksikan kemungkaran secara langsung, tidak menimbulkan bahaya yang lebih besar, serta memiliki harapan bahwa nasihat yang diberikan dapat membawa perubahan.

‎Menurut materi tersebut, tahapan nahi munkar harus dilakukan secara bertingkat.

“Paling tinggi nahy munkar dilakukan dengan tangan. Kemudian jika tidak mampu, maka dengan lisan. Yang paling lemah ialah nahy munkar dengan hati,” demikian bunyi penjelasannya.

Materi itu juga mengingatkan bahwa penggunaan kekerasan, termasuk dengan senjata atau tongkat, tidak dibenarkan kecuali atas izin penguasa yang berwenang.

‎Nur Fajri Romadhon turut menekankan pentingnya akhlak dalam berdakwah. Pelaku amar ma’ruf nahi munkar dianjurkan bersikap rendah hati, lembut, penuh kasih sayang, tegas, ikhlas, memahami syariat, serta menyelaraskan ucapan dengan perbuatan.

“Disunnahkan berakhlak mulia saat melakukan nahy munkar, cek dan ricek, serta tidak tergesa nahy munkar terhadap kesalahan sekali-dua kali,” tulisnya.

‎Selain itu, materi tersebut mengingatkan agar tidak mengumbar aib seseorang. Pelaku dosa yang melakukannya secara sembunyi-sembunyi justru wajib dinasihati secara personal.

“Haram membongkar dan memviralkan kemungkaran yang dilakukan sembunyi-sembunyi,” demikian penegasan dalam materi tersebut.

Pesan ini menjadi pengingat bahwa amar ma’ruf nahi munkar bertujuan memperbaiki, bukan mempermalukan atau menghakimi orang lain.(WAW)

Berita Terkait

Kodim Wonosobo Resmikan Jembatan Garuda, Buka Akses Majukan Desa Terpencil
‎Pemda Pastikan JLFR Tetap Meluncur, Pesepeda Bebas Melintas Malioboro
‎Bedah Film UWM Bongkar Tantangan Implementasi UU Pekerja Rumah Tangga
Ruwatan Ageng Bantul Doakan Keselamatan Bangsa dan Keseimbangan Alam
Takmir NHK Borong Sawi, Petani dan Jamaah Bahagia
‎Polda DIY dan Jogja Menyapa Bergerak Bantu Warga
Ahli Waris Klaim Tanah Masuk SHGB UMK, Minta Kejelasan Bukti
Komunitas Jogja Menyapa Ajak Warga Cerdas Tangkal Hoaks Bermedia Sosial

Berita Terkait

Kamis, 23 Juli 2026 - 15:07 WIB

Kodim Wonosobo Resmikan Jembatan Garuda, Buka Akses Majukan Desa Terpencil

Rabu, 22 Juli 2026 - 15:48 WIB

‎Pemda Pastikan JLFR Tetap Meluncur, Pesepeda Bebas Melintas Malioboro

Rabu, 22 Juli 2026 - 13:45 WIB

‎Bedah Film UWM Bongkar Tantangan Implementasi UU Pekerja Rumah Tangga

Rabu, 22 Juli 2026 - 09:39 WIB

Ruwatan Ageng Bantul Doakan Keselamatan Bangsa dan Keseimbangan Alam

Rabu, 22 Juli 2026 - 08:14 WIB

Takmir NHK Borong Sawi, Petani dan Jamaah Bahagia

Berita Terbaru