Koridor Gajah Sumatera Terancam, Jerat Listrik Picu Krisis

Senin, 13 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JOGJAOKE.COM, Jakarta – Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) kembali menghadapi ancaman serius di Bentang Alam Bukit Tiga Puluh, Jambi.

Populasi sekitar 120 ekor kini terdesak oleh ekspansi kebun sawit, karet, hingga permukiman.

“Tekanan terhadap habitat semakin nyata dan memicu konflik antara manusia dan gajah,” ungkap pihak pemerhati lingkungan dalam diskusi publik, Minggu (12/4/2026).

Lembaga Geopix mengungkap kondisi koridor gajah di Area Konservasi Satwa Liar (WCA) dalam konsesi PT Lestari Asri Jaya (PT LAJ) kian memprihatinkan.

Perambahan besar-besaran disebut memicu fragmentasi habitat. “Koridor gajah terputus, padahal itu jalur vital pergerakan mereka,” kata perwakilan Geopix.

‎Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, menyoroti adanya jerat listrik sepanjang 70 kilometer di wilayah konsesi Michelin Group di Jambi.

“Sebanyak 46,6 kilometer bahkan berada di dalam kawasan konservasi yang seharusnya dilindungi,” tegas Annisa.

Ia menambahkan, “Koridor bukan sekadar pelengkap, tapi ruang hidup utama bagi gajah.”

Annisa menekankan bahwa gajah membutuhkan ruang jelajah hingga 15–20 kilometer per hari.

“Kalau koridor terputus, itu sama saja memutus masa depan gajah sumatera,” ujarnya.

Ia juga mengkritik paradigma lama yang menganggap koridor ekologis sebagai ruang kompromi. “Padahal ini ruang strategis yang tidak boleh dikorbankan,” katanya.

Direktur Jenderal KSDAE, Satyawan Pudyatmoko, mengakui ancaman terhadap gajah semakin serius.

“Dengan tata kelola yang sekarang, kita belum mampu menghentikan penurunan populasi,” ujarnya. Ia memaparkan, “Dulu ada 42 kantong habitat di Sumatera, sekarang tinggal 21 saja.”

Sementara itu, Donny Gunaryadi dari Forum Konservasi Gajah Indonesia menegaskan pentingnya koridor yang aman dan dekat sumber air.

“Gajah butuh makan dan minum, itu kunci utama,” katanya.

Jurnalis Betahita, Aryo Bhawono, juga menyoroti peran media.

“Kami memberitakan kondisi nyata di lapangan agar publik tahu, karena satwa ini milik bangsa,” ujarnya.(waw)

Berita Terkait

KP-MBG Soroti Kecelakaan Kerja Head of Chef MBG, Laporan Disampaikan ke Penasihat Khusus Presiden
Melalui Mediasi Dasco Ahmad, PWI Pusat dan Hotman Paris Tempuh Jalan Damai
Sidang Praperadilan Refill Gas Portable Digelar, Pemohon Bacakan Permohonan di PN Jakarta Utara
Menteri Ekraf Dukung Garuda Finishers Perkuat Ekonomi Kreatif dan Industri Olahraga
Perbedaan Proses Penahanan Mantan Jampidsus Disorot, Praktisi Pertanyakan Konsistensi SOP Kejaksaan
Polisi Masa Depan yang Dipercaya Publik
​PFII Solusi Krisis Fiskal Daerah: Dr. Agus Syabarrudin Ajak SMSI dan BPD Kawal Transformasi Pembiayaan Daerah
Memasuki Pekan Ketiga Gerakan Langit Biru, AHY Dorong Komitmen Kader Demokrat Jaga Kelestarian Lingkungan

Berita Terkait

Rabu, 29 Juli 2026 - 18:31 WIB

KP-MBG Soroti Kecelakaan Kerja Head of Chef MBG, Laporan Disampaikan ke Penasihat Khusus Presiden

Rabu, 29 Juli 2026 - 07:57 WIB

Melalui Mediasi Dasco Ahmad, PWI Pusat dan Hotman Paris Tempuh Jalan Damai

Senin, 27 Juli 2026 - 13:29 WIB

Sidang Praperadilan Refill Gas Portable Digelar, Pemohon Bacakan Permohonan di PN Jakarta Utara

Minggu, 26 Juli 2026 - 11:24 WIB

Menteri Ekraf Dukung Garuda Finishers Perkuat Ekonomi Kreatif dan Industri Olahraga

Sabtu, 25 Juli 2026 - 11:46 WIB

Perbedaan Proses Penahanan Mantan Jampidsus Disorot, Praktisi Pertanyakan Konsistensi SOP Kejaksaan

Berita Terbaru