JOGJAOKE.COM, Yogyakarta — Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengembangkan pendekatan pengabdian masyarakat yang inklusif melalui peluncuran Program Pengabdian Dosen Skema Disabilitas dengan metode Equine Assisted Activities atau terapi berbasis aktivitas berkuda. Program tersebut diluncurkan di AFIF Stable Horse Training, Banguntapan, Bantul, Jumat (6/2/2026).
Program ini menjadi bagian dari upaya UMY menghadirkan inovasi pengabdian berbasis riset dan kolaborasi lintas disiplin, dengan melibatkan Pusat Studi Gender, Anak, Lansia, dan Disabilitas (PSGALD) UMY, Subdirektorat Pengabdian Dosen UMY, mitra akademik dari Jepang, pengelola AFIF Stable, serta komunitas pemerhati disabilitas.
Sekretaris PSGALD UMY, Arni Surwanti, menjelaskan bahwa pada tahun 2026 terdapat sekitar 15 tim dosen yang terlibat dalam skema pengabdian disabilitas. Beragam pendekatan dikembangkan, mulai dari penguatan Sekolah Luar Biasa (SLB), peningkatan kapasitas pendidik, hingga intervensi langsung bagi penyandang disabilitas.
“Salah satu pendekatan yang kami perkenalkan adalah aktivitas berkuda bagi difabel. Metode ini relatif baru di Indonesia, tetapi di sejumlah negara seperti Jepang dan Malaysia telah menunjukkan manfaat positif secara fisik maupun psikologis,” ujar Arni.
Menurut Arni, terapi berkuda dapat membantu meningkatkan fleksibilitas tubuh, kepercayaan diri, serta kesehatan mental penyandang disabilitas. Pendekatan serupa juga dinilai relevan untuk lansia maupun pasien dengan gangguan saraf tertentu.
Kepala Subdirektorat Pengabdian Dosen UMY, Laelia Dwi Anggraini, menyampaikan bahwa program ini merupakan bagian dari 15 skema khusus pengabdian masyarakat UMY yang dirancang untuk berjalan berkelanjutan hingga tiga tahun ke depan. Khusus skema disabilitas, kegiatan melibatkan dosen lintas bidang dengan fokus pada dampak jangka panjang.
“Kami ingin pengabdian dosen tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi benar-benar memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat,” kata Laelia.
Dari sisi kolaborasi internasional, Project Leader Equine Assisted Activities for Persons with Disabilities in ASEAN and Japan, Ryuhei Sano, menekankan pentingnya konsep human–horse well-being, yakni kesejahteraan manusia dan kuda secara bersamaan. Menurut dia, pendekatan ini membuka peluang pengembangan komunitas disabilitas lintas negara sekaligus memperkuat jejaring akademik ASEAN–Jepang.
Sementara itu, pemilik AFIF Stable, Rosyidatus Syarifeini, mengatakan keterlibatan pihaknya berangkat dari kepedulian terhadap anak-anak penyandang disabilitas. Latar belakangnya di bidang psikologi mendorong pemanfaatan terapi berbasis alam sebagai bagian dari proses pemulihan dan penguatan mental.
Peluncuran program ini menandai langkah awal UMY dalam memperkuat peran perguruan tinggi sebagai agen perubahan sosial melalui pengabdian masyarakat yang inklusif, inovatif, dan berkelanjutan. (ihd)






