JOGJAOKE.COM, Yogyakarta — Deru ekonomi global yang berubah cepat memaksa banyak pihak kembali menengok kesiapan generasi muda. Di tengah arus persaingan yang menghapus sekat geografis dan menyisakan ruang hanya bagi mereka yang adaptif, perguruan tinggi ditantang untuk tidak sekadar mencetak lulusan, tetapi juga menyiapkan mereka untuk bertahan dan tumbuh.
Di hadapan ratusan wisudawan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rabu (10/12/2025), Rektor UMY, Achmad Nurmandi, mengingatkan bahwa dunia kerja hari ini tak lagi berkutat pada gelar dan nilai semata. Kompetensi lintas disiplin, kecakapan teknologi, serta kesiapan mobilitas global kini menjadi mata uang baru yang menentukan nasib profesional muda.
“Kami mendorong untuk membuka diri terhadap peluang karier di luar negeri, yang membutuhkan banyak tenaga profesional,” ujarnya. Kalimat itu, meski disampaikan singkat, terasa sebagai undangan sekaligus peringatan bahwa pasar kerja internasional semakin menuntut.
UMY merespons perubahan itu dengan sejumlah kebijakan akademik. Salah satu yang kini menjadi standar ialah Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI), yang memuat rekam keterampilan tambahan para lulusan. Di samping itu, sertifikasi profesi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) turut didorong agar mahasiswa memiliki pengakuan kompetensi yang diakui secara luas.
Dalam wisuda kali ini, sebanyak 298 lulusan telah mengantongi sertifikasi tersebut. Kemampuan bahasa Inggris pun kini menjadi syarat, baik di jenjang Diploma hingga Doktor, sebagai bekal agar mereka tidak gentar menyeberang ke pasar kerja global.
Di tengah ruang Sportorium yang riuh oleh tepuk tangan keluarga, pesan itu mengendap perlahan. Bahwa ijazah hanya pintu pertama, sementara dunia nyata menuntut keberanian untuk bergerak lebih jauh —lintas batas, lintas kesempatan. (ihd)






