Humanisasi Pendidikan Jadi Kunci Transformasi Kampus
JOGJAOKE.COM, Yogyakarta — Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) terus menajamkan arah transformasinya menuju leading entrepreneurial university seiring meningkatnya tuntutan dunia kerja terhadap inovasi, empati, dan ketahanan intelektual. Melalui Kuliah Ahli Pimpinan Universitas yang menghadirkan Rektor Telkom University, Prof. Dr. Suyanto, M.Sc., jajaran pimpinan UMY meninjau kembali strategi pengembangan institusi untuk periode 2025–2030.
Wakil Rektor Bidang Mutu, Reputasi, dan Kemitraan UMY, Ir. Slamet Riyadi, M.Sc., Ph.D., menyebut momentum ini sebagai fase strategis bagi kampus. UMY, menurut dia, perlu memperkuat tata kelola, meningkatkan mutu akademik, membangun reputasi internasional, serta menjaga daya saing program studi di tengah dinamika penerimaan mahasiswa baru.
“Telkom University adalah kampus yang lebih muda dari kami, tetapi mampu tumbuh cepat dan konsisten dalam meningkatkan reputasi. Karena itu, kami ingin belajar dari praktik baik yang mereka terapkan,” ucap Slamet.
Fokus pada Manusia, Bukan Semata Teknologi
Dalam sesi utama, Rektor Telkom University, Prof. Dr. Suyanto, M.Sc., menawarkan perspektif berbeda mengenai pembangunan entrepreneurial university. Ketika banyak kampus mempercepat penggunaan kecerdasan buatan (AI), ia justru menekankan pentingnya kembali pada penguatan karakter manusia.
“Mahasiswa tahun pertama di Telkom University kami larang menggunakan AI. Mereka harus kembali membaca, menulis tangan, dan storytelling agar memahami manusia sebelum memahami teknologi,” ujar Suyanto.
Konsep yang ia sebut sebagai “de-digitalisasi” itu bukan sekadar kebijakan teknis, tetapi fondasi pedagogis. Membaca buku cetak, menurut dia, memperdalam empati dan kemampuan analisis; menulis tangan menumbuhkan ketelitian serta integritas; sementara storytelling membangun komunikasi sebagai modal kepemimpinan dan penciptaan nilai.
Karakter sebagai Fondasi Daya Saing
Suyanto menegaskan bahwa daya saing global tidak hanya bertumpu pada inovasi dan teknologi. Pertumbuhan institusi turut ditentukan karakter manusia, kualitas tata kelola, serta kemampuan menghasilkan solusi yang relevan bagi masyarakat. Filosofi “Harmonizing Empathy and Professionalism for Human Enlightenment” menjadi dasar transformasi menuju universitas wirausaha yang kokoh menghadapi disrupsi.
Empati, katanya, bukan sekadar rasa iba, melainkan kemampuan mengubah mereka yang sebelumnya disable menjadi able—baik secara intelektual, sosial, maupun finansial.
“Entrepreneurial university itu bukan sekadar kampus yang menghasilkan banyak inovasi dan teknologi, tetapi institusi yang mampu melahirkan talenta yang mencerdaskan umat manusia,” pungkas Suyanto. (ihd)






