JOGJAOKE.COM, Yogyakarta – Kemantren Tegalrejo kembali menyelenggarakan Tegalrejo Festival (Tejo Fest) untuk ketiga kalinya pada (20/6/26 – 21/6/26) di Halaman Parkir Museum Monumen Pangeran Diponegoro. Kegiatan ini menjadi wadah promosi potensi seni, budaya, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dari empat kelurahan di wilayah Kemantren Tegalrejo.
Pembukaan Tejo Fest dihadiri Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan yang memberikan apresiasi atas semangat masyarakat dalam mengembangkan kreativitas dan melestarikan budaya lokal. Menurutnya, Kemantren Tegalrejo memiliki beragam potensi yang layak terus dikembangkan sebagai kekuatan ekonomi dan pariwisata daerah.
“Saya cukup takjub dan senang sekali dengan potensi yang ada di sini, baik penari-penarinya, budayanya maupun UMKM-nya,” ujar Wawan.
Ia berharap Tejo Fest dapat berkembang menjadi agenda tahunan yang masuk dalam kalender event pariwisata Kota Yogyakarta. Dengan demikian, festival ini diharapkan mampu menarik lebih banyak pengunjung sekaligus memperluas promosi potensi lokal.
Wawan juga mendorong adanya kurasi produk UMKM yang ditampilkan sehingga mampu merepresentasikan ciri khas masing-masing kelurahan di Kemantren Tegalrejo. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat identitas wilayah sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal.
“Kita berharap Tejo Fest tahun depan bisa masuk dalam kalender event pariwisata di Yogyakarta. Produk yang dipamerkan perlu dikurasi sehingga mewakili empat kelurahan yang ada di sini sehingga memiliki ciri khas tersendiri,” katanya.
Selain pengembangan UMKM, Pemerintah Kota Yogyakarta juga memberikan perhatian terhadap potensi seni yang dimiliki masyarakat Tegalrejo. Wawan menilai para seniman di wilayah tersebut memiliki kualitas yang sangat baik dan berpeluang untuk tampil dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan pemerintah.
Sementara itu, Mantri Pamong Praja Kemantren Tegalrejo Agus Antariksa Purnama menjelaskan Tejo Fest 2026 melibatkan 25 pelaku UMKM yang menampilkan beragam produk unggulan. Berbagai kegiatan juga disiapkan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, mulai dari pameran UMKM, pentas seni budaya hingga jalan sehat yang diikuti sekitar seribu warga.
“Dari sore hingga malam akan ada penampilan kesenian dari masing-masing kelurahan,” jelas Agus.
Salah satu peserta UMKM, Intan, memperkenalkan produk souvenir hand painting yang dirintis dari hobi melukis bersama anaknya dan berkembang menjadi usaha keluarga sejak masa pandemi Covid-19. Berawal dari melukis di tembok rumah, kreativitas tersebut kemudian diaplikasikan pada kaleng bekas dan dipasarkan melalui media sosial hingga mendapat sambutan positif dari masyarakat.
Kini, produk hand painting tersebut telah dipasarkan ke berbagai daerah, termasuk luar Pulau Jawa, serta dipercaya menjadi souvenir berbagai instansi. Produk yang ditawarkan beragam, mulai dari cangkir lukis tangan hingga paket souvenir dengan harga yang bervariasi.
Melalui penyelenggaraan Tejo Fest, Kemantren Tegalrejo terus berkomitmen memperkuat kolaborasi antara seni, budaya, dan ekonomi kreatif sebagai upaya mendorong pemberdayaan masyarakat sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal. Festival ini diharapkan menjadi ruang promosi yang mampu memperkenalkan potensi khas Tegalrejo kepada masyarakat luas serta mendukung pertumbuhan ekonomi berbasis komunitas di Kota Yogyakarta. (Aga)






