JOGJAOKE.COM, SLEMAN – Deretan rumah berbentuk setengah lingkaran di kawasan Prambanan yang dulu terkenal sebagai “Rumah Teletubbies” kini berubah sunyi.
Kawasan wisata unik yang sempat menjadi ikon pascagempa besar Yogyakarta 2006 itu nyaris tak lagi didatangi wisatawan dalam tiga tahun terakhir.
Lorong kampung yang dahulu ramai pelancong kini tampak lengang dengan rumput liar tumbuh di berbagai sudut permukiman.
Dulu, rumah-rumah dome berwarna putih dengan bentuk unik itu selalu menarik perhatian wisatawan. Jalan setapak yang menghubungkan antar rumah juga didesain menarik sehingga tampak indah saat dilihat dari citra drone.
Namun kini suasana berbeda drastis. Tidak ada lagi rombongan wisatawan maupun tour guide yang memasukkan Rumah Dome dalam paket perjalanan wisata kawasan Prambanan.
“Sudah sekitar tiga tahun ini hampir tidak ada wisatawan yang masuk. Kalau ada paling hanya berhenti sebentar di jalan, lihat-lihat lalu pergi lagi,” ujar Lisa, salah seorang penghuni kawasan Rumah Dome saat ditemui Senin (25/5/2026).
Ia mengatakan banyak pengunjung membandingkan kondisi sekarang dengan masa kejayaan kawasan tersebut.
“Biasanya mereka bilang sekarang sudah tidak seperti dulu lagi,” katanya.
Dari total 71 rumah dome yang dibangun sebagai hunian tahan gempa pascabencana 2006, kini hanya sekitar 44 rumah yang masih dihuni warga.
Sisanya kosong dan mulai mengalami kerusakan di berbagai bagian bangunan. Cat dinding memudar dan mengelupas, sementara beberapa bagian atap serta dinding tampak retak.
Taman-taman kecil yang dulu menghiasi kawasan juga berubah menjadi semak dan ilalang sehingga daya tarik wisatanya perlahan memudar.
Rumah Dome dibangun melalui bantuan kemanusiaan setelah gempa bumi berkekuatan 5,9 magnitudo mengguncang Yogyakarta dan Jawa Tengah pada 27 Mei 2006.
Konsep rumah kubah dipilih karena dinilai lebih tahan terhadap guncangan gempa dibanding bangunan konvensional.
Kawasan ini kemudian berkembang menjadi wisata edukasi kebencanaan dan arsitektur unik.
Saat masa ramainya, kawasan tersebut dipenuhi mural warna-warni, taman mini, hingga kios warga yang menjual makanan dan cendera mata.
Kini, kemunculan destinasi baru seperti Obelix Hills, Tebing Breksi, hingga penataan ulang Candi Ijo membuat Rumah Dome kalah bersaing.
Sejumlah warga berharap kawasan itu bisa dibenahi kembali melalui penataan ulang, pengecatan, serta penguatan konsep wisata edukasi dan budaya.
“Kalau ditata lagi sebenarnya masih punya potensi besar karena lokasinya strategis di jalur wisata Prambanan,” ujar salah seorang warga. (waw)






