Rumah Dome Prambanan Mati Suri, Warga Berharap Wisata Bangkit Lagi

Senin, 25 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

‎JOGJAOKE.COM, SLEMAN – Deretan rumah berbentuk setengah lingkaran di kawasan Prambanan yang dulu terkenal sebagai “Rumah Teletubbies” kini berubah sunyi.

Kawasan wisata unik yang sempat menjadi ikon pascagempa besar Yogyakarta 2006 itu nyaris tak lagi didatangi wisatawan dalam tiga tahun terakhir.

Lorong kampung yang dahulu ramai pelancong kini tampak lengang dengan rumput liar tumbuh di berbagai sudut permukiman.

Dulu, rumah-rumah dome berwarna putih dengan bentuk unik itu selalu menarik perhatian wisatawan. Jalan setapak yang menghubungkan antar rumah juga didesain menarik sehingga tampak indah saat dilihat dari citra drone.

Namun kini suasana berbeda drastis. Tidak ada lagi rombongan wisatawan maupun tour guide yang memasukkan Rumah Dome dalam paket perjalanan wisata kawasan Prambanan.

“Sudah sekitar tiga tahun ini hampir tidak ada wisatawan yang masuk. Kalau ada paling hanya berhenti sebentar di jalan, lihat-lihat lalu pergi lagi,” ujar Lisa, salah seorang penghuni kawasan Rumah Dome saat ditemui Senin (25/5/2026).

Ia mengatakan banyak pengunjung membandingkan kondisi sekarang dengan masa kejayaan kawasan tersebut.

“Biasanya mereka bilang sekarang sudah tidak seperti dulu lagi,” katanya.

‎Dari total 71 rumah dome yang dibangun sebagai hunian tahan gempa pascabencana 2006, kini hanya sekitar 44 rumah yang masih dihuni warga.

Sisanya kosong dan mulai mengalami kerusakan di berbagai bagian bangunan. Cat dinding memudar dan mengelupas, sementara beberapa bagian atap serta dinding tampak retak.

Taman-taman kecil yang dulu menghiasi kawasan juga berubah menjadi semak dan ilalang sehingga daya tarik wisatanya perlahan memudar.

Rumah Dome dibangun melalui bantuan kemanusiaan setelah gempa bumi berkekuatan 5,9 magnitudo mengguncang Yogyakarta dan Jawa Tengah pada 27 Mei 2006.

Konsep rumah kubah dipilih karena dinilai lebih tahan terhadap guncangan gempa dibanding bangunan konvensional.

Kawasan ini kemudian berkembang menjadi wisata edukasi kebencanaan dan arsitektur unik.

Saat masa ramainya, kawasan tersebut dipenuhi mural warna-warni, taman mini, hingga kios warga yang menjual makanan dan cendera mata.

Kini, kemunculan destinasi baru seperti Obelix Hills, Tebing Breksi, hingga penataan ulang Candi Ijo membuat Rumah Dome kalah bersaing.

Sejumlah warga berharap kawasan itu bisa dibenahi kembali melalui penataan ulang, pengecatan, serta penguatan konsep wisata edukasi dan budaya.

“Kalau ditata lagi sebenarnya masih punya potensi besar karena lokasinya strategis di jalur wisata Prambanan,” ujar salah seorang warga. (waw)

Berita Terkait

Mahasiswa Unisa Yogyakarta Kolaborasi Akademisi Hong Kong Teliti Kampung Berkelanjutan
Pembimas Buddha DIY Sebut IWFP 2026 Jadi Simbol Perdamaian dan Toleransi
Hasto Wardoyo Apresiasi Kehadiran Tokoh Lintas Agama dalam Perayaan Waisak
Bhikkhu Lintas Negara Jalan Damai Sambut Waisak di Yogyakarta
Gerakan Minum Jamu Serentak UGM Bangkitkan Warisan Sehat Nusantara
Kota Yogyakarta Didorong Jadi Kota Wakaf Demi Kesejahteraan Warga
Kemenag Yogya Genjot SPI Demi Pertahankan Predikat WBBM Berintegritas
Loman Tawarkan Pengalaman Healing Berbasis Budaya dan Kesehatan di Yogyakarta

Berita Terkait

Senin, 25 Mei 2026 - 21:04 WIB

Rumah Dome Prambanan Mati Suri, Warga Berharap Wisata Bangkit Lagi

Senin, 25 Mei 2026 - 20:57 WIB

Mahasiswa Unisa Yogyakarta Kolaborasi Akademisi Hong Kong Teliti Kampung Berkelanjutan

Senin, 25 Mei 2026 - 20:44 WIB

Hasto Wardoyo Apresiasi Kehadiran Tokoh Lintas Agama dalam Perayaan Waisak

Senin, 25 Mei 2026 - 20:40 WIB

Bhikkhu Lintas Negara Jalan Damai Sambut Waisak di Yogyakarta

Senin, 25 Mei 2026 - 15:49 WIB

Gerakan Minum Jamu Serentak UGM Bangkitkan Warisan Sehat Nusantara

Berita Terbaru