Perayaan Waisak 2570 BE Dorong Penguatan Ruang Toleransi di Yogyakarta

Sabtu, 23 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JOGJAOKE.COM, YOGYAKARTA — Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo memaknai perayaan Hari Raya Waisak 2570 BE sebagai momentum memperkuat toleransi antarumat beragama sekaligus mempertegas identitas Yogyakarta sebagai kota keberagaman. Pemerintah Kota Yogyakarta pun menyiapkan penyambutan khusus bagi rombongan bhikkhu thudong yang berjalan kaki menuju Candi Borobudur dan melintasi Kota Yogyakarta.

Komitmen itu disampaikan Hasto di sela kegiatan open house di Balai Kota Yogyakarta, Rabu (20/5/2026), saat menjelaskan dukungan konkret pemerintah terhadap rangkaian Waisak tahun ini.

Menurut Hasto, kehadiran para bhikkhu yang melakukan perjalanan spiritual berjalan kaki dari Thailand hingga Indonesia menjadi simbol penting toleransi lintas agama yang perlu dirawat bersama.

“Waisak tahun ini kami maknai sebagai momentum mengedepankan toleransi beragama yang baik di Kota Yogyakarta. Ketika ada kehormatan kedatangan bhikkhu yang berjalan kaki dari Thailand, kami ingin ini disambut dengan baik di Malioboro,” kata Hasto.

Pemerintah Kota Yogyakarta telah menyiapkan penyambutan khusus di kawasan Malioboro hingga Alun-alun Utara menuju Keraton Yogyakarta. Bahkan, untuk mendukung prosesi tersebut, rekayasa lalu lintas dan penutupan sementara akses di Malioboro disiapkan agar rombongan bhikkhu dapat menjalani prosesi berjalan kaki secara khidmat.

“Kami mengondisikan Malioboro ditutup supaya bisa ada prosesi berjalan dari Teteg sampai depan Keraton sebelum menghadap Ngarso Dalem. Ini bentuk dukungan konkret pemerintah,” ujarnya.

Tak hanya itu, sejumlah elemen seni budaya lintas komunitas juga akan dilibatkan dalam penyambutan, mulai dari penampilan hadroh, kelompok seni tradisional, Kampung Menari, hingga seniman jalanan yang biasa tampil di kawasan Malioboro.

Bagi Hasto, kebijakan tersebut bukan sekadar agenda seremoni keagamaan, tetapi bagian dari strategi sosial-politik pemerintah kota untuk memperkuat ruang hidup toleransi di tengah masyarakat urban yang majemuk.

Ia menilai nilai-nilai Waisak seperti welas asih, kesederhanaan, kepedulian sosial, hingga penghormatan terhadap lingkungan sangat relevan diintegrasikan dalam pembangunan Kota Yogyakarta.

Hasto menyebut Pemkot Yogyakarta mendorong pendekatan pro-environment dan penguatan kesadaran hidup sederhana di tengah masyarakat.

“Para bhikkhu itu mengajarkan kesederhanaan. Jalan kaki itu filosofi hidup sederhana. Saya ingin masyarakat Kota Yogyakarta jangan ingin prestise sebelum punya prestasi,” katanya.

Selain aspek sosial, Hasto juga mengaitkan nilai Waisak dengan agenda pembangunan lingkungan. Ia menyoroti persoalan polusi udara dan tingginya penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil di perkotaan.

“Kalau kita bisa beralih ke kendaraan listrik, itu bentuk keberpihakan pada lingkungan. Filosofinya nyambung dengan semangat menjaga alam,” ujarnya.

Hasto menegaskan Pemerintah Kota Yogyakarta berupaya menjaga harmoni antarumat beragama dengan memberikan ruang setara bagi seluruh komunitas keagamaan untuk mengekspresikan tradisi budaya dan spiritualnya.

Ia mencontohkan dukungan terhadap perayaan Imlek, agenda takbir keliling di Malioboro, Nyadran Agung, hingga rencana festival Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang akan dikembangkan di kawasan Kotabaru.

“Kami tidak membeda-bedakan. Semua kegiatan keagamaan kami angkat. Tidak ada yang direndahkan atau diutamakan,” tegasnya.

Menurut Hasto, toleransi di Kota Yogyakarta harus dibangun melalui pengakuan terhadap keberagaman sekaligus menghadirkan ruang ekspresi publik yang inklusif bagi semua agama.

Karena itu, ia mengajak masyarakat menjaga semangat toleransi pada momentum Waisak dengan memperluas makna welas asih, tidak hanya kepada sesama manusia tetapi juga terhadap lingkungan hidup.

“Kita ini harus menjadi manusia yang bermanfaat bagi sekitar. Bukan hanya kepada sesama manusia, tapi juga kepada alam, tumbuhan, bahkan binatang,” pungkas Hasto. (Aga)

Berita Terkait

‎Viral Aksi Gerombolan Debt Collector Bantul, Polisi Dalami Pengerusakan Rumah Warga
Kodim Wonosobo Resmikan Jembatan Garuda, Buka Akses Majukan Desa Terpencil
‎Pemda Pastikan JLFR Tetap Meluncur, Pesepeda Bebas Melintas Malioboro
‎Bedah Film UWM Bongkar Tantangan Implementasi UU Pekerja Rumah Tangga
Ruwatan Ageng Bantul Doakan Keselamatan Bangsa dan Keseimbangan Alam
Takmir NHK Borong Sawi, Petani dan Jamaah Bahagia
‎Polda DIY dan Jogja Menyapa Bergerak Bantu Warga
Ahli Waris Klaim Tanah Masuk SHGB UMK, Minta Kejelasan Bukti

Berita Terkait

Kamis, 23 Juli 2026 - 16:35 WIB

‎Viral Aksi Gerombolan Debt Collector Bantul, Polisi Dalami Pengerusakan Rumah Warga

Kamis, 23 Juli 2026 - 15:07 WIB

Kodim Wonosobo Resmikan Jembatan Garuda, Buka Akses Majukan Desa Terpencil

Rabu, 22 Juli 2026 - 15:48 WIB

‎Pemda Pastikan JLFR Tetap Meluncur, Pesepeda Bebas Melintas Malioboro

Rabu, 22 Juli 2026 - 13:45 WIB

‎Bedah Film UWM Bongkar Tantangan Implementasi UU Pekerja Rumah Tangga

Rabu, 22 Juli 2026 - 09:39 WIB

Ruwatan Ageng Bantul Doakan Keselamatan Bangsa dan Keseimbangan Alam

Berita Terbaru