JOGJAOKE.COM, Yogyakarta — Masa bulan madu bus listrik di Kota Yogyakarta berakhir. Mulai 1 Januari 2026, armada ramah lingkungan yang sempat dinikmati warga secara cuma-cuma itu resmi memungut tarif.
Setelah setahun lebih diuji coba, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta menetapkan ongkos Rp 2.700 per perjalanan, angka yang sama dengan tarif Trans Jogja berbahan bakar diesel.
Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan DIY, Wulan Sapto Nugroho, mengatakan kebijakan ini menandai fase baru operasional bus listrik.
“Tarifnya sama seperti Trans Jogja, Rp 2.700 per perjalanan,” ujarnya, Jumat, 2 Januari 2026.
Informasi tersebut, kata dia, sudah diumumkan melalui akun resmi Instagram Dinas Perhubungan DIY.
Namun, tidak semua penumpang membayar penuh. Pemerintah tetap memberi karpet merah bagi kelompok tertentu.
Lansia dan penyandang disabilitas pemegang Kartu Khusus Lansia dan Kartu Khusus Difabel hanya dikenai Rp2.000 per perjalanan.
Sementara pelajar dengan Kartu Khusus Pelajar membayar jauh lebih murah: Rp 500 sekali naik.
Selama masa uji coba yang berakhir 31 Desember 2025, penumpang hanya diminta melakukan tap kartu uang elektronik dengan nilai nol rupiah.
Menurut Wulan, skema itu semata untuk pendataan dan pengujian sistem. “Bukan pungutan, hanya untuk uji coba,” katanya.
Bus listrik sempat berkeliling di sejumlah rute strategis, mulai dari Adisutjipto–Malioboro, Terminal Ngabean–Malioboro, hingga Jombor–Malioboro.
Memasuki 2026, pilihan rute dipersempit. Armada listrik kini fokus melayani lintasan Terminal Jombor–Malioboro, rute yang dinilai paling diminati penumpang.
Lintasan tersebut akan melewati Terminal Jombor–Jalan Magelang–Simpang Empat Pingit–Tugu Jogja–Jalan Mangkubumi–Kleringan–Jalan Abu Bakar Ali–Malioboro–Jalan KH Ahmad Dahlan–Jalan Bhayangkara–Jlagran–Jalan Tentara Pelajar–Jalan Magelang–kembali ke Terminal Jombor.
Rute ini bersifat tetap dan tidak akan bergeser setidaknya selama satu tahun ke depan. Pembayaran pun diproyeksikan sepenuhnya non-tunai.
Kepala Dinas Perhubungan DIY, Chrestina Erni Widyastuti, menyebut keputusan memilih rute Jombor–Malioboro didasarkan pada evaluasi penumpang.
“Dari hasil evaluasi, trayek Jombor paling layak karena peminatnya tinggi,” katanya. Survei kemampuan dan kemauan membayar (ATP–WTP) juga menunjukkan tarif setara bus diesel masih dapat diterima publik.
Dengan tarif resmi dan rute tetap, bus listrik Yogyakarta kini tak lagi sekadar proyek uji coba. Ia memasuki fase operasional penuh, diuji bukan hanya oleh teknologi, tetapi juga oleh kesediaan warga membayar transportasi hijau di kota budaya ini. (ihd)






