JOGJAOKE.COM, Yogyakarta – Bulan Ramadan selalu menghadirkan suasana spiritual yang khas bagi umat Islam. Selain menjadi waktu untuk memperbanyak ibadah, Ramadan juga menjadi momentum refleksi diri. Di antara berbagai keistimewaan bulan suci ini, terdapat satu malam yang paling dinanti, yakni Lailatul Qadar—malam yang dalam Alquran disebut lebih mulia daripada seribu bulan.
Dosen Pendidikan Bahasa Arab Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Talqis Nurdianto, mengatakan Lailatul Qadar merupakan anugerah besar yang diberikan Allah SWT kepada umat Nabi Muhammad SAW. Malam tersebut memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi karena setiap amal ibadah yang dilakukan pada saat itu dilipatgandakan pahalanya.
“Allah SWT secara tegas menyebutkan dalam Surah Al-Qadr bahwa Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan. Artinya, satu malam itu memiliki nilai yang dapat melampaui ibadah selama puluhan tahun,” ujar Talqis.
Menurut dia, kesempatan ini seharusnya dimanfaatkan umat Islam dengan memperbanyak amalan seperti salat malam, membaca Alquran, berzikir, serta memperbanyak doa. Momentum tersebut bukan sekadar ritual, melainkan juga kesempatan memperkuat hubungan spiritual antara manusia dan Sang Pencipta.
Dirahasiakan Waktunya
Sejumlah hadis Rasulullah SAW menyebutkan bahwa Lailatul Qadar terjadi pada sepuluh malam terakhir Ramadan, terutama pada malam-malam ganjil. Namun, waktu pastinya tidak pernah disebutkan secara tegas.
Talqis menilai, ketidakpastian waktu tersebut justru menyimpan hikmah yang mendalam. Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk menghidupkan seluruh malam di penghujung Ramadan dengan ibadah, sehingga perhatian tidak hanya tertuju pada satu malam tertentu.
“Dengan begitu, umat Islam terdorong untuk meningkatkan ibadah secara konsisten sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadan,” katanya.
Sejumlah riwayat memang menyebutkan tanda-tanda yang sering dikaitkan dengan datangnya Lailatul Qadar, seperti suasana malam yang terasa tenang, udara yang sejuk, serta matahari yang terbit dengan cahaya lembut pada pagi harinya. Namun, Talqis menegaskan bahwa tanda-tanda tersebut tidak dapat dijadikan patokan mutlak.
Yang lebih penting, menurut dia, adalah kesungguhan dalam menjalankan ibadah.
Puncak Pendidikan Spiritual
Talqis menjelaskan, dirahasiakannya waktu pasti Lailatul Qadar merupakan bentuk pendidikan spiritual bagi umat Islam. Jika waktunya diketahui secara pasti, manusia mungkin hanya akan beribadah dengan sungguh-sungguh pada malam itu saja.
“Inilah cara Allah mendidik umat-Nya agar lebih tekun dan istiqamah dalam beribadah, tidak hanya pada satu momen tertentu,” ujarnya.
Ia menambahkan, pencarian Lailatul Qadar sejatinya bukan sekadar menunggu tanda-tanda alam, melainkan proses memperbaiki diri secara sungguh-sungguh. Sepuluh malam terakhir Ramadan menjadi kesempatan penting untuk memperbanyak doa, memperkuat iman, serta menumbuhkan kesadaran spiritual.
“Ramadan adalah ruang latihan bagi umat Islam. Lailatul Qadar menjadi puncak motivasi agar ibadah tidak sekadar rutinitas, melainkan benar-benar menghadirkan hati dan kesungguhan,” kata Talqis.
Bagi umat Islam, Lailatul Qadar bukan sekadar malam penuh misteri. Malam tersebut menjadi simbol kasih sayang Allah SWT sekaligus peluang untuk meraih pahala berlipat ganda. Ramadan pun menjadi bulan pembelajaran spiritual yang mengajarkan kesabaran, keikhlasan, serta ketekunan dalam beribadah.
Karena itu, alih-alih menunggu tanda-tanda tertentu, umat Islam dianjurkan menjadikan setiap malam di penghujung Ramadan sebagai kesempatan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. (aga/ihd)






