Kirab Ruwahan Ngampem Bareng, Kampung Miliran Rawat Toleransi

Minggu, 8 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JOGJAOKE.COM, Jogja – Warga Kampung Miliran, Kelurahan Muja Muju, Kemantren Umbulharjo, Kota Yogyakarta, menggelar Kirab Budaya Ruwahan bertajuk “Ngampem Bareng” lintas agama, Minggu (8/2/2026). ‎Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan budaya sekaligus penegasan nilai toleransi yang tumbuh dari tradisi lokal Jawa. Kirab tersebut merupakan agenda tahunan yang telah memasuki penyelenggaraan ketiga.

Tradisi ruwahan dimaknai sebagai doa bersama menjelang Ramadan, ungkapan syukur kepada Tuhan, sekaligus sarana mempererat hubungan sosial antarmasyarakat yang majemuk. Ketua Pelaksana Kegiatan, Herry Santoso Wibowo, menegaskan kirab ini dirancang bukan sekadar perayaan seremonial.
“Ngampem Bareng kami gagas sebagai upaya melestarikan budaya Jawa sekaligus memperkuat persaudaraan lintas iman. Ini simbol rasa syukur dan kebersamaan,” ujar Herry.

Menurutnya, konsep pluralisme menjadi pembeda utama kegiatan ini. “Ruwahan tidak hanya diikuti umat Muslim, tetapi juga saudara-saudara dari agama lain. Kampung Miliran hidup dalam keberagaman, dan itu justru menjadi kekuatan kami,” katanya.
‎Ia menyebut warga Muslim, Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, hingga Konghucu hidup berdampingan secara harmonis.

Kirab menampilkan Gunungan Apem raksasa sebagai simbol utama ruwahan, dikawal Bregada Wira Praja Manggala, serta diikuti karnaval warga dengan busana adat Nusantara. Sebelum gunungan dibagikan, doa lintas agama dipanjatkan bersama.
‎“Ini bukti budaya lokal mampu berjalan seiring dengan semangat toleransi,” pungkas Herry.

Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, yang hadir langsung dalam kegiatan tersebut, memberikan apresiasi tinggi.
“Kirab ini tidak hanya bernilai budaya, tetapi juga berpotensi mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat. Yang paling penting, ini menunjukkan wajah Yogyakarta sebagai kota toleran dan berbudaya,” ujarnya.

Menurut Wawan, Kampung Miliran layak menjadi contoh Kampung Rukun Beragama. “Tradisi seperti Ngampem Bareng harus terus dirawat agar tidak tergerus modernisasi. Kami juga berharap generasi muda terlibat aktif, bukan hanya menonton, tetapi menjadi penggerak,” katanya. Ia menutup dengan harapan agar warisan budaya lokal terus hidup secara dinamis di tangan generasi berikutnya.(waw)

Berita Terkait

Antisipasi Dampak Geopolitik Global, OPD Pandeglang Dorong Ketahanan UMKM
Kapolda Banten Ucapkan Selamat HUT ke-26 Ombudsman RI, Dorong Penguatan Pengawasan Pelayanan Publik
Kunjungi Bukit Si Nyonya, Peserta SSDN Lemhannas Soroti Potensi Wisata dan Ketahanan Pangan
Program Ramadhan Berbagi, Yayasan Irsyadul ‘Ibad Salurkan Bantuan kepada Masyarakat Majasari
Wagub Dimyati Natakusumah Dorong Pengusaha Muda HIPMI Banten Bangun Usaha secara Profesional
Gubernur Banten Dukung Pengembangan Musik sebagai Penggerak Ekonomi Kreatif
Polda Banten Dukung Program Asta Cita Presiden Melalui Penanaman Jagung
Polda Banten Siapkan Layanan Penitipan Kendaraan untuk Cegah Pencurian saat Mudik

Berita Terkait

Selasa, 10 Maret 2026 - 23:58 WIB

Antisipasi Dampak Geopolitik Global, OPD Pandeglang Dorong Ketahanan UMKM

Selasa, 10 Maret 2026 - 23:47 WIB

Kapolda Banten Ucapkan Selamat HUT ke-26 Ombudsman RI, Dorong Penguatan Pengawasan Pelayanan Publik

Selasa, 10 Maret 2026 - 15:57 WIB

Kunjungi Bukit Si Nyonya, Peserta SSDN Lemhannas Soroti Potensi Wisata dan Ketahanan Pangan

Selasa, 10 Maret 2026 - 15:51 WIB

Program Ramadhan Berbagi, Yayasan Irsyadul ‘Ibad Salurkan Bantuan kepada Masyarakat Majasari

Senin, 9 Maret 2026 - 22:47 WIB

Wagub Dimyati Natakusumah Dorong Pengusaha Muda HIPMI Banten Bangun Usaha secara Profesional

Berita Terbaru