Ironi Hardiknas: Wacana Tutup Prodi Dinilai Ancam Peradaban

Minggu, 3 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

‎JOGJAOKE.COM, Jogja – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) justru diwarnai kritik tajam terhadap arah kebijakan pendidikan tinggi.

Dosen Program Studi Hukum Fakultas Hukum Universitas Widya Mataram Yogyakarta, Bagus Anwar Hidayatulloh, menyoroti wacana Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) yang berencana menutup program studi (prodi) yang dianggap tak relevan dengan kebutuhan industri.

“Ini momentum refleksi, bukan sekadar seremoni,” tegas Bagus.

Menurutnya, kebijakan tersebut memunculkan pertanyaan mendasar soal orientasi pendidikan tinggi.

Ia menilai, jika kampus hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja, maka makna pendidikan akan menyempit.

“Apakah perguruan tinggi hanya menjadi pemasok tenaga kerja industri?” ujarnya. “Kalau iya, itu penyederhanaan fungsi yang berbahaya.”

Bagus menjelaskan, secara normatif pendidikan tinggi di Indonesia memiliki beragam bentuk, mulai dari universitas, institut, sekolah tinggi, hingga politeknik dan akademi.

Masing-masing punya karakter dan tujuan berbeda.

“Universitas dan institut mengembangkan ilmu pengetahuan secara luas, sementara vokasi memang lebih dekat dengan kebutuhan praktis,” katanya.

Ia menolak penggunaan satu indikator tunggal berupa relevansi industri untuk menilai seluruh prodi.

Bagus menegaskan, pendidikan tinggi memiliki tiga pilar utama.

“Ada pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Tidak bisa direduksi hanya jadi kepentingan industri,” ujarnya.

Ia mencontohkan filsafat yang kerap dianggap tak relevan.

“Padahal filsafat membentuk nalar kritis, etika, dan logika—itu fondasi semua ilmu.”
‎Lebih jauh, Bagus mengingatkan risiko kebijakan yang terlalu tunduk pada pasar.

“Kalau pendidikan hanya mengikuti tren industri, kita akan selalu tertinggal,” katanya.

Ia mendorong pemerintah melakukan pemetaan dan diferensiasi antarperguruan tinggi.

“Prodi keilmuan harus dilindungi, vokasi diperkuat. Pendidikan tinggi bukan pabrik tenaga kerja, tapi fondasi peradaban,” pungkasnya.(waw)

Berita Terkait

‎Viral Aksi Gerombolan Debt Collector Bantul, Polisi Dalami Pengerusakan Rumah Warga
Kodim Wonosobo Resmikan Jembatan Garuda, Buka Akses Majukan Desa Terpencil
‎Pemda Pastikan JLFR Tetap Meluncur, Pesepeda Bebas Melintas Malioboro
‎Bedah Film UWM Bongkar Tantangan Implementasi UU Pekerja Rumah Tangga
Ruwatan Ageng Bantul Doakan Keselamatan Bangsa dan Keseimbangan Alam
Takmir NHK Borong Sawi, Petani dan Jamaah Bahagia
‎Polda DIY dan Jogja Menyapa Bergerak Bantu Warga
Ahli Waris Klaim Tanah Masuk SHGB UMK, Minta Kejelasan Bukti

Berita Terkait

Kamis, 23 Juli 2026 - 16:35 WIB

‎Viral Aksi Gerombolan Debt Collector Bantul, Polisi Dalami Pengerusakan Rumah Warga

Kamis, 23 Juli 2026 - 15:07 WIB

Kodim Wonosobo Resmikan Jembatan Garuda, Buka Akses Majukan Desa Terpencil

Rabu, 22 Juli 2026 - 15:48 WIB

‎Pemda Pastikan JLFR Tetap Meluncur, Pesepeda Bebas Melintas Malioboro

Rabu, 22 Juli 2026 - 13:45 WIB

‎Bedah Film UWM Bongkar Tantangan Implementasi UU Pekerja Rumah Tangga

Rabu, 22 Juli 2026 - 09:39 WIB

Ruwatan Ageng Bantul Doakan Keselamatan Bangsa dan Keseimbangan Alam

Berita Terbaru