IABI Gedor Kesadaran, UMY Perkuat Ketangguhan Hadapi Ancaman Bencana

Kamis, 7 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

‎JOGJAOKE.COM, Jogja – Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) menggelar Pertemuan Ilmiah Tahunan ke-9 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta selama tiga hari, 6 hingga 8 Mei 2026.

Forum nasional itu menjadi ajang berkumpulnya para ahli kebencanaan, akademisi, hingga pegiat kemanusiaan untuk memperkuat tata kelola risiko bencana di Indonesia.

Ketua Umum Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia, Harkunti Rahayu, menegaskan bahwa cara pandang masyarakat terhadap bencana harus segera diubah.

Menurutnya, bencana tidak bisa lagi dianggap sekadar peristiwa alam yang datang tiba-tiba tanpa sebab.

“Bencana dipengaruhi keputusan pembangunan, kualitas tata kota, hingga kapasitas adaptasi masyarakat. Karena itu mitigasi harus menjadi budaya bersama,” tegasnya.

Tema besar yang diusung tahun ini yakni “Penguatan Tata Kelola Risiko Bencana untuk Ketangguhan”.

Tema tersebut dinilai relevan dengan kondisi Indonesia yang masih menghadapi ancaman gempa, banjir, longsor, hingga perubahan iklim ekstrem.

“Ketangguhan masyarakat harus dibangun dari sekarang, bukan saat bencana sudah terjadi,” ujar Harkunti dalam forum ilmiah tersebut.

Pertemuan ilmiah itu juga bertepatan dengan peringatan 20 tahun Gempa Yogyakarta 2006 yang menjadi salah satu tragedi paling membekas di DIY.

Anggota Unsur Pengarah Penanggulangan Bencana dari Masyarakat Profesional untuk BNPB, Rahmawati Husein, menyebut Yogyakarta masih memiliki modal sosial yang sangat kuat dalam menghadapi bencana.

“Modal sosial itu terbukti efektif mempercepat masa pemulihan pasca Gempa 2006,” katanya.

Rahmawati menilai kekuatan gotong royong masyarakat DIY menjadi faktor penting dalam proses rehabilitasi dan pemulihan.

Ia menegaskan, pengalaman Yogyakarta harus menjadi pelajaran nasional dalam membangun kesiapsiagaan berbasis komunitas. “Solidaritas masyarakat menjadi energi besar saat kondisi krisis terjadi,” ungkapnya.

Selain presentasi paper ilmiah dari para ahli, kegiatan di UMY juga diisi pameran kebencanaan yang melibatkan berbagai lembaga kemanusiaan dan organisasi penanggulangan bencana.

Forum itu diharapkan melahirkan rekomendasi strategis sekaligus memperkuat kolaborasi lintas sektor demi menciptakan Indonesia yang lebih tangguh menghadapi ancaman bencana di masa depan. (waw)

Berita Terkait

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan PERMAI Penang Perkuat Edukasi Hukum bagi PMI Undocumented
Prof Triyono Tegaskan Pertanian Berkelanjutan Bukan Sekadar Soal Produksi
Jambret Kalung Emas di Sewon Akhirnya Dibekuk Polisi
‎Mahasiswa UMY Belajar Kultur Jaringan, Kenali Potensi Pertanian Kota Jogja
Ridho Al-Hamdi Kritik Sistem Proporsional Terbuka dalam Pemilu Indonesia
Simpan Pinjam RW 45 Kayen Perkuat Ekonomi dan Guyub Warga ‎
Pekan Budaya Lodji Paris Bangkitkan Kreativitas Generasi Muda Yogyakarta
Wacana Penghapusan Jejak Digital di RUU HAM Picu Perdebatan

Berita Terkait

Sabtu, 9 Mei 2026 - 14:59 WIB

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan PERMAI Penang Perkuat Edukasi Hukum bagi PMI Undocumented

Sabtu, 9 Mei 2026 - 13:20 WIB

Prof Triyono Tegaskan Pertanian Berkelanjutan Bukan Sekadar Soal Produksi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 00:33 WIB

Jambret Kalung Emas di Sewon Akhirnya Dibekuk Polisi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 00:30 WIB

‎Mahasiswa UMY Belajar Kultur Jaringan, Kenali Potensi Pertanian Kota Jogja

Jumat, 8 Mei 2026 - 14:23 WIB

Ridho Al-Hamdi Kritik Sistem Proporsional Terbuka dalam Pemilu Indonesia

Berita Terbaru