Hasto Akselerasi Transportasi Rendah Emisi melalui Pengembangan Becak Listrik

Minggu, 7 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JOGJAOKE.COM, YOGYAKARTA – Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menegaskan komitmen Pemerintah Kota Yogyakarta untuk mendorong transformasi transportasi rendah emisi sebagai bagian dari strategi pembangunan kota yang berkelanjutan. Komitmen tersebut ditunjukkan melalui kegiatan Flag Off Parade Kendaraan Nir Emisi dan Bazar UMKM Jogja Bersinar yang digelar di Jalan Ipda Tut Harsono, Sabtu (6/6/2026).

Puluhan kendaraan berbasis listrik, mulai dari becak listrik hingga mobil listrik, dilepas langsung oleh Hasto untuk berparade melintasi sejumlah ruas jalan utama Kota Yogyakarta, di antaranya Jalan Timoho, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Margo Utomo, Jalan Malioboro, Jalan Senopati, hingga Jalan Kusuma Negara.

Dalam kesempatan itu, Hasto menegaskan bahwa penggunaan kendaraan rendah emisi telah menjadi bagian dari arah pembangunan Kota Yogyakarta ke depan. Menurutnya, isu lingkungan tidak lagi dapat dipisahkan dari kebijakan pembangunan daerah, termasuk sektor transportasi dan pariwisata.

“Upaya mendorong transportasi rendah emisi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan bagian dari kebutuhan dan arah pembangunan Kota Yogyakarta di masa depan,” kata Hasto.

Ia menjelaskan, parade kendaraan nir emisi bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan upaya membangun kesadaran publik terhadap pentingnya transisi menuju sistem transportasi yang lebih ramah lingkungan.

Menurut Hasto, pemerintah daerah telah mengambil sejumlah langkah konkret untuk mendukung agenda tersebut, mulai dari penataan kawasan pedestrian Malioboro, pengembangan jalur sepeda, penguatan ruang publik yang berpihak kepada pejalan kaki, hingga program konversi becak motor menjadi becak listrik.

“Langkah-langkah ini merupakan bagian dari upaya menghadirkan kota yang lebih sehat, manusiawi, dan berkelanjutan tanpa meninggalkan identitas khas Jogja,” ujarnya.

Hasto menilai becak listrik menjadi salah satu simbol transformasi pembangunan yang tetap menjaga karakter lokal Yogyakarta. Di satu sisi, kendaraan tersebut mendukung pengurangan emisi, sementara di sisi lain tetap mempertahankan eksistensi moda transportasi tradisional yang telah menjadi bagian dari identitas kota.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa transformasi menuju transportasi ramah lingkungan harus memperhatikan aspek sosial dan ekonomi masyarakat. Pemerintah, kata dia, tidak ingin perubahan yang dilakukan justru menciptakan kesenjangan baru di tengah masyarakat.

“Kita tidak ingin perubahan ini justru menimbulkan kesenjangan baru. Sebaliknya, kita ingin memastikan bahwa transformasi menuju kota yang lebih hijau juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.

Karena itu, Hasto menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, media, dan masyarakat dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan di Kota Yogyakarta.

Menurutnya, keberhasilan transisi menuju kota rendah emisi tidak dapat dilakukan hanya oleh pemerintah, melainkan membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat.

“Saya berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai sebuah perayaan semata, melainkan berkembang menjadi gerakan bersama untuk menghadirkan Kota Yogyakarta yang lebih bersih, sehat, rendah emisi, dan nyaman bagi generasi mendatang,” ujarnya.

Di sisi lain, kebijakan pengembangan becak listrik mulai dirasakan manfaatnya oleh para pengemudi. Salah satunya Warsidi, pengemudi becak listrik yang telah beroperasi selama sekitar satu tahun.

Ia mengaku biaya operasional yang dikeluarkan jauh lebih hemat dibandingkan saat masih menggunakan becak motor berbahan bakar minyak.

“Lebih irit dibanding dulu pakai bentor karena tidak perlu beli bensin lagi. Jadi pengeluaran sehari-hari bisa berkurang,” kata Warsidi.

Menurutnya, dukungan pemerintah terhadap pengembangan becak listrik tidak hanya membantu mengurangi polusi udara, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi para pengemudi sekaligus menjaga keberlangsungan transportasi tradisional khas Yogyakarta di tengah perkembangan teknologi. (Aga)

Berita Terkait

‎Viral Aksi Gerombolan Debt Collector Bantul, Polisi Dalami Pengerusakan Rumah Warga
Kodim Wonosobo Resmikan Jembatan Garuda, Buka Akses Majukan Desa Terpencil
‎Pemda Pastikan JLFR Tetap Meluncur, Pesepeda Bebas Melintas Malioboro
‎Bedah Film UWM Bongkar Tantangan Implementasi UU Pekerja Rumah Tangga
Ruwatan Ageng Bantul Doakan Keselamatan Bangsa dan Keseimbangan Alam
Takmir NHK Borong Sawi, Petani dan Jamaah Bahagia
‎Polda DIY dan Jogja Menyapa Bergerak Bantu Warga
Ahli Waris Klaim Tanah Masuk SHGB UMK, Minta Kejelasan Bukti

Berita Terkait

Kamis, 23 Juli 2026 - 16:35 WIB

‎Viral Aksi Gerombolan Debt Collector Bantul, Polisi Dalami Pengerusakan Rumah Warga

Kamis, 23 Juli 2026 - 15:07 WIB

Kodim Wonosobo Resmikan Jembatan Garuda, Buka Akses Majukan Desa Terpencil

Rabu, 22 Juli 2026 - 15:48 WIB

‎Pemda Pastikan JLFR Tetap Meluncur, Pesepeda Bebas Melintas Malioboro

Rabu, 22 Juli 2026 - 13:45 WIB

‎Bedah Film UWM Bongkar Tantangan Implementasi UU Pekerja Rumah Tangga

Rabu, 22 Juli 2026 - 09:39 WIB

Ruwatan Ageng Bantul Doakan Keselamatan Bangsa dan Keseimbangan Alam

Berita Terbaru

Komjen Pol. Prof. Dr. Cryshnanda Dwilaksana (Ketua Pusat Studi Ilmu Kepolisian). (Foto Ist).

Jakarta

Polisi Masa Depan yang Dipercaya Publik

Sabtu, 25 Jul 2026 - 10:50 WIB