JOGJAOKE.COM, Jogja– Ganjar Pranowo mengunjungi pameran Jalan Menuju Media Kreatif (JMMK) #18 di Yogyakarta, Senin (26/10/2026), sekaligus mengapresiasi inovasi seniman.
Ganjar berkeliling area pameran, mencermati detail karya, serta berinteraksi langsung dengan panitia dan seniman yang menghadirkan beragam inovasi seni media rekam.
Kunjungan tersebut menjadi momentum penting ketika perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin memengaruhi proses kreatif, produksi, dan praktik berkesenian masa kini.
Ganjar mengaku kagum terhadap kualitas karya yang dipamerkan, terutama keberagaman gagasan dan kemampuan para kreator menghadirkan inovasi melalui berbagai medium seni media rekam.
Ia menilai perkembangan teknologi menuntut seniman terus meningkatkan kemampuan, membaca perubahan zaman, dan menemukan pendekatan kreatif tanpa meninggalkan prinsip etika dalam berkarya.
”Para pelaku dan karya seni media rekam saat ini dituntut untuk selalu bersiap, beradaptasi, dan berinovasi di tengah derasnya arus disrupsi AI,” tegas Ganjar.
Menurutnya, perubahan teknologi tidak seharusnya membuat pelaku seni berhenti berkarya, melainkan mendorong lahirnya eksplorasi baru yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Namun, Ganjar mengingatkan pemanfaatan teknologi harus disertai tanggung jawab.
”Yang paling utama dan tidak boleh kita abaikan adalah etika dalam menggunakan serta memanfaatkan teknologi AI itu sendiri,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi sorotan dalam kunjungan Ganjar, mengingat AI menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi seniman dalam menjaga orisinalitas, integritas, dan tanggung jawab kreatif.
Sebelum meninggalkan lokasi, Ganjar mengajak masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya menyaksikan langsung pameran internasional tersebut, yang menawarkan pengalaman seni kontemporer dengan beragam pendekatan.
JMMK #18 berlangsung pada 23–29 Oktober 2026 di Yogyakarta, menghadirkan ruang pertemuan seniman, mahasiswa, komunitas kreatif, serta masyarakat untuk menikmati perkembangan seni media rekam.
Pameran tahunan ini resmi dibuka pada Jumat (23/10/2026) oleh Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X, melalui seremoni pembukaan yang berlangsung khidmat.
Mengusung tema “Re; Definition, Re; Interpretation, Re; Application”, JMMK #18 mengajak publik meninjau ulang praktik seni, interpretasi karya, dan penerapan teknologi dalam proses kreatif.
Tema tersebut sekaligus menjadi respons ekosistem seni terhadap disrupsi teknologi, khususnya AI, yang mendorong perubahan cara manusia menciptakan, memaknai, serta menikmati karya seni.
Penyelenggaraan JMMK #18 merupakan hasil kolaborasi Fakultas Seni Media Rekam ISI Yogyakarta, Pendhapa Art Space, dan Project Eleven dari Australia.
Sebanyak 161 karya seni pilihan dipamerkan, mencakup fotografi, film fiksi, dokumenter, eksperimental, video musik, video-art, animasi, hingga instalasi interaktif berbasis teknologi.
Salah satu sajian istimewa menampilkan karya fotografi cetak tua atau alternative process photography milik Rektor ISI Yogyakarta, Prof. Dr. Irwandi, S.Sn., M.Sn.
Pameran khusus tersebut digelar untuk memperingati pengukuhan Irwandi sebagai Guru Besar bidang ilmu seni media rekam, sekaligus memperkenalkan eksplorasi fotografi kepada pengunjung.
JMMK #18 juga menghadirkan seniman dari 12 negara, termasuk Australia, Turkiye, Malaysia, Thailand, Italia, Hungaria, Jerman, Rumania, Peru, Singapura, Uruguay, dan Tiongkok.
Keterlibatan kurator internasional asal Australia, Dr. Fassih Keiso, memperkuat dimensi global pameran sekaligus membuka peluang pertukaran gagasan antara seniman Indonesia dan mancanegara.
Selain memperluas jejaring internasional, panitia memperhatikan aksesibilitas melalui kerja sama dengan Unit Layanan Disabilitas ISI Yogyakarta demi pengalaman kunjungan yang inklusif.
Sebanyak 10 gallery sitter mendapat pelatihan khusus untuk mendampingi pengunjung penyandang disabilitas agar dapat menikmati karya secara setara, aman, dan nyaman selama pameran.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, JMMK #18 menegaskan peran seni media rekam sebagai ruang eksplorasi, dialog teknologi, dan kolaborasi lintas negara yang terbuka bagi publik.(waw)






