Home / UMY

Dari Pacitan hingga Banyuwangi, Sentakamudya UMY Sajikan Keberagaman Seni Nusantara dalam Satu Panggung

Minggu, 28 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JOGJAOKE.COM, Kesenian tradisional dari tiga penjuru Jawa yaitu Pacitan, Banyuwangi, dan Yogyakarta tampil dalam satu panggung pada malam Pagelaran Seni Sentakamudya (PSS) 2026. Acara ini digelar oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Sentakamudya Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), di Auditorium Besar Sekolah Menengah Musik (SMM) pada Minggu malam (28/6).

Pagelaran menampilkan empat sajian seni yang masing-masing membawa akar budaya berbeda.
Tari Baduk Molan, tarian tradisional khas Pacitan yang biasa disajikan dalam prosesi ruwatan tolak balak di wilayah Tegalombo, membuka pertunjukan dengan gerak jenaka dan improvisatif diiringi gamelan Jawa.
Disusul Konser Medley Karawitan yang membawakan dua karya: Langgang Ella Elok, sebuah narasi musikal tentang dinamika asmara dan kerinduan, serta sebuah komposisi berbentuk teka-teki Bahasa Jawa karya Kijong Romasito (1959) yang mengandung kritik sosial.

Repertoar dilanjutkan dengan Tari Jejer Jaran Dawuk, tari tradisional khas Banyuwangi ciptaan Sumitro pada 1981 yang awalnya dibawakan oleh penari pria dalam perayaan musim panen, serta Tari Golek Ayun-Ayun, tari klasik Yogyakarta ciptaan KRT. Sasminta Mardawa yang menggambarkan seorang gadis Jawa beranjak dewasa.

Malam ditutup dengan puncak acara Sendratari SAS-PA (Sasmita Pati), karya kolosal yang mengisahkan Ki Ageng Mangir Wanabaya, pemimpin tanah mardikan Mangir yang menolak tunduk kepada Mataram dan akhirnya kalah melalui siasat Panembahan Senopati.

Ketua Umum UKM Sentakamudya UMY, Febrina Putri Humaira Latuconsina, menyatakan bahwa keberagaman repertoar yang ditampilkan bukan kebetulan.

“Kami percaya bahwa seni adalah nafas budaya, cerminan jiwa, dan kekuatan yang mampu menyatukan beragam perbedaan,” ujar Febrina.

Dalam kesempatan yang sama, Febrina juga menyampaikan pentingnya penggunaan alat musik tradisional gamelan, seperti yang ditunjukkan dalam seluruh penampilan dari PSS 2026.

“Kehadiran gamelan bukan hanya akan menunjang proses latihan dan pembelajaran, tetapi juga menjadi bentuk dukungan nyata terhadap keberlangsungan pelestarian seni tradisional di lingkungan kampus UMY,” tuturnya.

PSS 2026 sekaligus menutup rangkaian Pekan Kesenian Muda Mendunia (PAKEM) 2026 kompetisi Lomba Tari Kreasi tingkat DIY yang berlangsung sehari sebelumnya, 27 Juni 2026, di tempat yang sama.

Sumber : Humas Umy

Berita Terkait

Pakar UMY: Ada Resiko Kemiskinan Baru yang Diciptakan Digitalisasi Bansos
Digitalisasi Bansos Diterapkan di 43 Daerah, Pakar UMY Ingatkan Akurasi Data
Tarif Naturalisasi Rp75 Juta Berlaku 1 Agustus, Pakar UMY Minta Kebijakan Dievaluasi Berkala
63,8 Persen Dokter Spesialis Jantung Terpusat di Jawa, Pakar UMY Soroti Pemerataan
Pemerataan Layanan Jantung Masih Terkendala SDM, Dosen UMY: Infrastruktur Harus Diimbangi Tata Kelola
Bangun Kampus Ramah Disabilitas, UMY Tingkatkan Infrastruktur dan Layanan Inklusif
UMY Perkuat Komitmen Kampus Inklusif Lewat Talkshow dan Peluncuran UMY Magz Edisi ke-7
ChatGPT Hanya Permukaan, Dosen UMY Jelaskan Mengapa AI Menentukan Masa Depan Geopolitik Dunia

Berita Terkait

Rabu, 22 Juli 2026 - 17:03 WIB

Pakar UMY: Ada Resiko Kemiskinan Baru yang Diciptakan Digitalisasi Bansos

Rabu, 22 Juli 2026 - 16:56 WIB

Digitalisasi Bansos Diterapkan di 43 Daerah, Pakar UMY Ingatkan Akurasi Data

Rabu, 22 Juli 2026 - 14:29 WIB

Tarif Naturalisasi Rp75 Juta Berlaku 1 Agustus, Pakar UMY Minta Kebijakan Dievaluasi Berkala

Rabu, 22 Juli 2026 - 11:21 WIB

63,8 Persen Dokter Spesialis Jantung Terpusat di Jawa, Pakar UMY Soroti Pemerataan

Rabu, 22 Juli 2026 - 11:09 WIB

Pemerataan Layanan Jantung Masih Terkendala SDM, Dosen UMY: Infrastruktur Harus Diimbangi Tata Kelola

Berita Terbaru