Bregada Condongcatur Semarakkan Hari Jadi Sleman Penuh Khidmat Budaya

Minggu, 24 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

‎‎JOGJAOKE.COM, SLEMAN -Upacara Hari Jadi ke-110 Kabupaten Sleman berlangsung khidmat di Lapangan Denggung, Sabtu (23/5/2026).

Meski sempat diguyur hujan deras, semangat peserta tetap membara mengikuti seluruh rangkaian budaya hingga acara selesai sekitar pukul 17.00 WIB.

Kehadiran Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai Pengageng Upacara turut memperkuat nuansa sakral dan adiluhung budaya Jawa dalam momentum bersejarah tersebut.

Sebanyak 34 personel Barisan Bregada Kalurahan Condongcatur turut ambil bagian dalam upacara budaya tahunan itu.

Sebelum berangkat menuju Lapangan Denggung, seluruh personel mengikuti briefing dan foto bersama di halaman Kantor Kalurahan Condongcatur.

“Keikutsertaan Barisan Bregada Kalurahan Condongcatur ini menjadi bagian dari upaya nguri-uri budaya Jawa dan memperkuat kebersamaan antar kapanewon dan kalurahan di Kabupaten Sleman,” ujar Kamituwa Condongcatur, Al Thouvik Sofisalam.

Seluruh peserta tampil mengenakan pakaian adat Jawa gaya Yogyakarta lengkap.

Kontingen Kapanewon Depok bersama tiga kalurahan lainnya menempati Daerah Persiapan III di kawasan barat Dinas PUPKP Sleman sebelum memasuki Lapangan Denggung melalui pintu utara.

Kirab budaya semakin semarak dengan penampilan Marching Band STPN, iringan gendhing Jawa tradisional, hingga prosesi pusaka Tombak Kyai Turunsih yang menyita perhatian masyarakat.

Dalam Sabdatama peringatan Hari Jadi Sleman, Sri Sultan Hamengkubuwono X menegaskan bahwa peringatan hari jadi bukan sekadar seremoni tahunan.

“Peringatan Hari Jadi Kabupaten Sleman bukan sekadar seremoni tahunan, namun menjadi momentum untuk memperkuat persatuan, menjaga harmoni sosial, dan meneguhkan pengabdian kepada masyarakat serta negara,” ungkap Sri Sultan.

Ia juga mengingatkan pentingnya falsafah “Hamemayu Hayuning Bawana” sebagai pedoman menjaga keselamatan, ketenteraman, dan keharmonisan kehidupan masyarakat.

Tema “Nggendong Mikul Murih Rahayuning Sleman” dimaknai sebagai ajakan membangun Sleman secara menyeluruh, tidak hanya dari sisi fisik tetapi juga ketenteraman sosial dan kelestarian budaya.

“Rahayuning bawana tidak hanya berarti keselamatan lahiriah, tetapi juga ketenteraman hati, persatuan masyarakat, dan keharmonisan kehidupan bersama,” pesan Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Sementara Al Thouvik menambahkan, “Barisan bregada ini bukan hanya sekadar formasi upacara, tetapi juga menjadi simbol persatuan serta semangat Hanggayuh Mukti Sinembada dalam membangun Sleman yang maju, berbudaya, harmonis, dan tetap berakar pada kearifan lokal.” (ady)

Berita Terkait

‎Viral Aksi Gerombolan Debt Collector Bantul, Polisi Dalami Pengerusakan Rumah Warga
Kodim Wonosobo Resmikan Jembatan Garuda, Buka Akses Majukan Desa Terpencil
‎Pemda Pastikan JLFR Tetap Meluncur, Pesepeda Bebas Melintas Malioboro
‎Bedah Film UWM Bongkar Tantangan Implementasi UU Pekerja Rumah Tangga
Ruwatan Ageng Bantul Doakan Keselamatan Bangsa dan Keseimbangan Alam
Takmir NHK Borong Sawi, Petani dan Jamaah Bahagia
‎Polda DIY dan Jogja Menyapa Bergerak Bantu Warga
Ahli Waris Klaim Tanah Masuk SHGB UMK, Minta Kejelasan Bukti

Berita Terkait

Kamis, 23 Juli 2026 - 16:35 WIB

‎Viral Aksi Gerombolan Debt Collector Bantul, Polisi Dalami Pengerusakan Rumah Warga

Kamis, 23 Juli 2026 - 15:07 WIB

Kodim Wonosobo Resmikan Jembatan Garuda, Buka Akses Majukan Desa Terpencil

Rabu, 22 Juli 2026 - 15:48 WIB

‎Pemda Pastikan JLFR Tetap Meluncur, Pesepeda Bebas Melintas Malioboro

Rabu, 22 Juli 2026 - 13:45 WIB

‎Bedah Film UWM Bongkar Tantangan Implementasi UU Pekerja Rumah Tangga

Rabu, 22 Juli 2026 - 09:39 WIB

Ruwatan Ageng Bantul Doakan Keselamatan Bangsa dan Keseimbangan Alam

Berita Terbaru

Komjen Pol. Prof. Dr. Cryshnanda Dwilaksana (Ketua Pusat Studi Ilmu Kepolisian). (Foto Ist).

Jakarta

Polisi Masa Depan yang Dipercaya Publik

Sabtu, 25 Jul 2026 - 10:50 WIB