Anggur Impor Tercemar Sianida, Pakar UMY Soroti Celah Pengawasan Pascapanen

Senin, 17 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pakar Pascapanen Buah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Chandra Kurnia Setiawan, S.P., M.Sc., Ph.D (Dok UMY)

Pakar Pascapanen Buah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Chandra Kurnia Setiawan, S.P., M.Sc., Ph.D (Dok UMY)

JOGJAOKE.COM, Yogyakarta — Temuan kandungan sianida pada anggur hijau impor yang beredar di Sukoharjo kembali memunculkan perhatian publik terhadap prosedur penanganan pascapanen buah impor. Hasil uji laboratorium yang mengungkap adanya zat berbahaya itu menempatkan proses fumigasi dan standar kebersihan distribusi buah dalam sorotan.

Pakar Pascapanen Buah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Chandra Kurnia Setiawan, S.P., M.Sc., Ph.D., menjelaskan bahwa fumigasi merupakan praktik umum dalam menjaga kualitas buah selama distribusi. Namun, ia mengingatkan bahwa sejumlah bahan kimia berbahaya –termasuk sodium sianida– sebenarnya telah lama dilarang karena risiko toksisitas yang tinggi.

“Ada bahan yang sudah lama dilarang dalam fumigasi, tetapi tampaknya masih digunakan, yaitu sodium sianida. Jika residunya menempel pada buah, itu dapat muncul sebagai kontaminan. Dalam data FAO ditegaskan bahwa bahan ini tidak boleh lagi dipakai dalam perdagangan internasional,” ujar Chandra saat ditemui di kampus UMY, Senin (17/10).

Di luar proses fumigasi, ia menyebut bahwa faktor lingkungan seperti kualitas air pencucian, bahan pembersih, hingga kebersihan wadah penyimpanan juga dapat menjadi sumber kontaminasi kimia. Dalam standar HACCP, air harus diperiksa secara berkala karena menjadi bagian langsung dari proses penanganan pangan.

“Air itu faktor yang sangat rentan. Jika pencucian tidak sesuai standar dan airnya mengandung residu tertentu, kontaminasi bisa menempel pada buah,” kata Chandra.

Ia menilai lemahnya pengawasan impor turut membuka celah masuknya buah yang diperlakukan dengan bahan pascapanen yang tak sesuai standar internasional. Kasus serupa, menurutnya, juga pernah muncul di negara lain sebelum kemudian terjadi di Indonesia.

“Regulasi harus benar-benar kuat untuk menyaring produk impor. Pemeriksaan kualitas tak bisa hanya formalitas; harus ada random check yang konsisten. Tahun sebelumnya juga ada kasus anggur, meski berbeda bahan dan lebih dulu mencuat di Thailand,” tegasnya.

Chandra menyarankan agar produsen dan importir memastikan proses pascapanen bebas bahan kimia terlarang, mengingat alternatif fumigan yang lebih aman telah tersedia. Pada saat yang sama, ia menilai perlunya penguatan pengawasan karantina di pintu masuk impor.

Bagi konsumen, langkah paling sederhana menurut Chandra adalah mencuci buah secara benar dan berhati-hati terhadap produk impor. “Jika ingin lebih aman, kulit anggur bisa dikupas untuk mengurangi potensi paparan bahan kimia,” ujarnya. (ihd)

Berita Terkait

Mataf UMY: 7.131 Mahasiswa Memulai Perjalanan: Belajar Ilmu sekaligus Kehidupan 
Ketika Cita-cita Menjadi Dokter Harus Diperjuangkan hingga ke Ujung Sinyal
UMY Siapkan Sustainability Center, Belajar dari Smart Eco Campus ITS
HMI Tunas Bangsa UMY Salurkan Bantuan untuk Korban Gempa Flores di NTT
Jawab Keresahan Soal LKS Mahal, Bupati Aep Gratiskan Modul Siswa SD-SMP di Karawang
Kreatif dan Bernilai Jual, Singkong Jadi Sushi di Program Pengabdian Untirta
UMY Perkuat Reputasi Global di Tengah Ketatnya Persaingan Kampus Asia
UMY Ubah Pola Konsumsi Rapat, 1.500 Pegawai Makan Siang Gratis Terpusat

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 15:15 WIB

Mataf UMY: 7.131 Mahasiswa Memulai Perjalanan: Belajar Ilmu sekaligus Kehidupan 

Minggu, 6 September 2026 - 18:32 WIB

Ketika Cita-cita Menjadi Dokter Harus Diperjuangkan hingga ke Ujung Sinyal

Sabtu, 5 September 2026 - 18:20 WIB

UMY Siapkan Sustainability Center, Belajar dari Smart Eco Campus ITS

Selasa, 1 September 2026 - 21:09 WIB

HMI Tunas Bangsa UMY Salurkan Bantuan untuk Korban Gempa Flores di NTT

Jumat, 24 Juli 2026 - 09:07 WIB

Jawab Keresahan Soal LKS Mahal, Bupati Aep Gratiskan Modul Siswa SD-SMP di Karawang

Berita Terbaru

Yogyakarta

Langgeng Purnomo Jadi Kapolda DIY, Gantikan Anggoro Sukartono

Minggu, 4 Okt 2026 - 12:29 WIB

Yogyakarta

Susanto Dorong Honor RT RW Bulanan, Naik dan Transportasi Rapat

Minggu, 4 Okt 2026 - 12:20 WIB