Akademisi Desak Tafsir Ulang Republik Demi Keadilan Berkelanjutan

Kamis, 30 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

‎JOGJAOKE.COM, SLEMAN – Sejumlah akademisi, penulis, dan aktivis berkumpul dalam forum Dialog Republik: Lahirnya Negara Indonesia di Ballroom University Club UGM, Kamis (30/4/2026).
‎
Diskusi yang diprakarsai Forum 2045 bersama Dewan Guru Besar UGM, LAB45, Nalar Institute, dan Institut Harkat Negeri ini membedah sejarah sebagai pembacaan kritis tentang bagaimana republik dibangun, diingat, dan dijalankan.
‎
“Persoalan republik bukan hanya politik, tapi juga soal pengetahuan dan konstruksi sejarah,” ujar salah satu peserta.
‎
Ketua Forum 2045, Pinurba Parama Pratiyudha, dalam pengantarnya menegaskan bahwa 17 Agustus 1945 merupakan “titik nol” Indonesia.
‎
Ia menyebut kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai lahirnya negara, tetapi juga mencakup dimensi ekonomi, ekologi, hingga epistemologi.
‎
“Peristiwa ini melampaui sekadar teks proklamasi, termasuk peran seperti Ibu Fatmawati menjahit bendera merah putih yang kerap luput dari ingatan kolektif,” katanya.
‎
Ketua Dewan Guru Besar UGM, Prof. Muhammad Baiquni, menekankan pentingnya integrasi kecerdasan, nurani, dan kepedulian lingkungan dalam membangun masa depan bangsa.
‎
“Solidaritas dengan hati menjadi pilar Indonesia bisa bangkit,” ujarnya. Sementara itu, Kepala LAB45, Dra. Jaleswari Pramodhawardani, mengingatkan bahwa proklamasi adalah proses berkelanjutan.
‎
“Kekuasaan lahir dari tindakan bersama rakyat dan selalu rentan ketika otoritas melupakan sumbernya,” tegasnya.
‎
Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, Prof. Alimatul Qibtiyah, menyebut proklamasi sebagai peristiwa kompleks yang melibatkan tindakan verbal, simbolik, dan struktural.
‎
“Pengibaran bendera menghadirkan negara di ruang publik sebagai simbol pengakuan kolektif,” ujarnya.
‎
Senada, dosen Fisipol UGM, Milda Longgeita Br. Pinem, mengkritik kecenderungan sejarah yang hanya mengingat aspek formal.
‎
“Teks menyatakan kemerdekaan, tapi bendera yang dijahit membuat kemerdekaan tampak,” katanya.
‎
Sastrawan Okky Madasari menilai tafsir proklamasi saat ini mengalami depolitisasi.
‎
“Kita tidak kekurangan tafsir sejarah, tapi kekurangan keberanian politik,” ujarnya.
‎
Kritik juga datang dari Ulya Niami Efrina Jamson yang menegaskan republik lahir dari konflik. Aktivis Kalis Mardiasih hingga Diah S Saminarsih menyoroti belum hadirnya negara bagi kelompok rentan.
‎
“Republik bukan sesuatu yang diwariskan, tetapi harus terus diulang,” tutup Jaleswari. (andriyani)

Berita Terkait

‎Warga Perum Polda Sleman Diajak Siaga Bencana dan Kamtibmas
Dirgahayu Kota Yogyakarta ke-270. Yogyakarta Otentik-Konkret, Maju dan Sejahtera.
Korem 072/Pamungkas Mengucapkan Selamat Hari Ulang Tahun ke-270 Kota Yogyakarta “Otentik, Konkret, dan Terus Bergerak untuk Jogja yang Semakin Istimewa.”
Satoria Hotel Yogyakarta Genap 9 Tahun, Tumbuh Bersama Lewat Aksi
Peringati HUT ke-81 TNI, Danrem 072/Pamungkas Pimpin Ziarah ke Makam Pahlawan
Peringati HUT ke-81 KAI, Daop 6 Yogyakarta Gelar Upacara di Campus Darman Prasetyo
Wujud Kepedulian, Joglo Resto Njeron Beteng Bantu Mahasiswa NTT Tetap Kuliah di Yogyakarta
14 Tahun The Rich Jogja Hotel, Beyond Running Jadi Ajang Perayaan dan Kebersamaan

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:05 WIB

‎Warga Perum Polda Sleman Diajak Siaga Bencana dan Kamtibmas

Rabu, 7 Oktober 2026 - 19:03 WIB

Dirgahayu Kota Yogyakarta ke-270. Yogyakarta Otentik-Konkret, Maju dan Sejahtera.

Rabu, 7 Oktober 2026 - 14:09 WIB

Korem 072/Pamungkas Mengucapkan Selamat Hari Ulang Tahun ke-270 Kota Yogyakarta “Otentik, Konkret, dan Terus Bergerak untuk Jogja yang Semakin Istimewa.”

Kamis, 1 Oktober 2026 - 16:55 WIB

Satoria Hotel Yogyakarta Genap 9 Tahun, Tumbuh Bersama Lewat Aksi

Senin, 28 September 2026 - 15:57 WIB

Peringati HUT ke-81 TNI, Danrem 072/Pamungkas Pimpin Ziarah ke Makam Pahlawan

Berita Terbaru