JOGJAOKE.COM, Yogyakarta — Upaya percepatan penurunan stunting di Kota Yogyakarta mendapat dorongan anggaran baru. Ketua Komisi A DPRD DIY, Eko Suwanto, memastikan setiap kelurahan di Kota Yogyakarta akan menerima alokasi sebesar Rp100 juta khusus untuk penanganan stunting mulai tahun anggaran 2026. Total dana yang digelontorkan mencapai Rp4,5 miliar.
“Anggaran ini 100 persen untuk mengatasi stunting. Bisa melalui pemberian makanan sehat bagi balita, ibu hamil, dan calon pengantin yang memerlukan perhatian,” ujar Eko dalam keterangan tertulis, Rabu (10/12/2025). Ia berharap dukungan anggaran tersebut mampu memperkuat intervensi gizi dan kesehatan masyarakat di tingkat kelurahan.
Saat menghadiri kegiatan di Danurejan, Eko menekankan pentingnya peran keluarga dalam mengawasi tumbuh kembang balita. Ia juga mengingatkan agar warga menjaga kebersihan rumah dan meminimalkan paparan asap rokok pada anak. Selain pemenuhan gizi, peningkatan kualitas lingkungan juga dinilai penting untuk mencegah tengkes di masa depan.
“Penguatan bank sampah perlu dijalankan sebagai langkah menjaga lingkungan tetap bersih. Mengatasi stunting bukan hanya soal makan dan minum, tetapi juga infrastruktur lingkungan yang mendukung,” tambah Eko. Ia mendorong perbaikan ruang publik seperti ketersediaan ruang terbuka hijau, layanan air bersih, dan kualitas udara.
Ia juga meminta Tim Pendamping Keluarga (TPK) memastikan bantuan tersalurkan tepat sasaran. “Ke depan, kita dorong partisipasi masyarakat melalui gotong royong,” tegasnya.
Lurah Tegalpanggung, Ikhwan, menyambut baik kebijakan tersebut. Ia menyebut, penguatan gizi dapat didukung dari produksi pangan warga sendiri. “Dana ini sangat bermanfaat. Kami upayakan kebutuhan lele dan telur dipenuhi dari usaha warga, misalnya melalui koperasi,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Komisi C DPRD Kota Yogyakarta, Puskesmas Danurejan, dan sejumlah kader PKK membahas sinergi program penanganan tengkes. Kepala Puskesmas Danurejan, Dewi Widyawati, mengingatkan pentingnya penimbangan rutin di posyandu serta pengolahan air yang benar guna mencegah penyakit yang dapat memperburuk kondisi balita.
“Kalau ada balita gizi kurang, perlu intervensi segera. Termasuk bagi ibu hamil dan calon pengantin. Air sumur juga berisiko bakteri e-coli, jadi pastikan air dimasak dengan benar,” ujarnya.
Melalui dukungan anggaran baru serta partisipasi masyarakat, pemerintah daerah berharap angka stunting di Kota Yogya dapat ditekan secara signifikan dalam beberapa tahun mendatang. (ihd)






