Banjir Beruntun di Sumatera, Pakar UMY Ingatkan Tata Ruang Sudah Tak Selaras Iklim

Rabu, 3 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kayu gelondongan menumpuk di hilir pasca banjir besar Sumatera. (Joke)

Kayu gelondongan menumpuk di hilir pasca banjir besar Sumatera. (Joke)

JOGJAOKE.COM, Yogyakarta — Rangkaian banjir besar yang melanda Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara dalam beberapa hari terakhir kembali menorehkan duka mendalam. Lebih dari 600 orang dilaporkan meninggal, ribuan warga mengungsi, dan infrastruktur di berbagai daerah mengalami kerusakan parah. Aktivitas sosial ekonomi pun lumpuh. Di balik curah hujan ekstrem, bencana hidrometeorologi ini disebut bukan sekadar fenomena alam semata.

Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jazaul Ikhsan, menilai banjir yang terjadi hampir bersamaan tersebut merupakan buah dari kombinasi cuaca ekstrem dan tata ruang yang tidak adaptif.

“Curah hujan tinggi memang menjadi pemicu awal, tetapi kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS), sistem drainase yang tidak memadai, dan alih fungsi lahan memperparah dampaknya,” ujarnya dalam wawancara daring, Selasa (2/12).

Menurut Ikhsan, sejumlah indikator teknis menunjukkan bahwa infrastruktur pengendali banjir di banyak daerah tidak lagi relevan dengan kondisi iklim saat ini. Kapasitas sistem drainase jauh lebih kecil dari intensitas hujan aktual, sementara sedimentasi, penumpukan sampah, dan desain berbasis data historis membuat air mudah meluap ke permukiman.

Faktor lingkungan turut memperbesar risiko. Konversi hutan menjadi permukiman dan perkebunan mengikis area resapan air alami.

“Penebangan hutan mengurangi kemampuan tanah menyerap air. Aliran permukaan meningkat cepat menuju hilir dan memicu banjir serta longsor,” katanya.

Jika pola ini tetap berulang setiap musim hujan, dampaknya diperkirakan semakin berat. Secara ekologis, banjir berulang dapat merusak ekosistem, menurunkan kualitas tanah, dan mencemari sungai akibat limpasan limbah. Dari sisi sosial, bencana berkepanjangan berpotensi memicu perpindahan penduduk, trauma psikologis, hingga ketegangan sosial. Kerugian ekonomi pun diyakini meningkat seiring mahalnya biaya pemulihan dan kerusakan infrastruktur.

“Ketika banjir menjadi siklus tahunan, pembangunan akan terhambat dan kemiskinan semakin mengakar,” ujar Ikhsan.

Ia menegaskan bahwa rangkaian banjir di Sumatera adalah sinyal keras perlunya evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan tata ruang dan adaptasi desain infrastruktur agar selaras dengan iklim yang kian sulit diprediksi. (ihd)

Berita Terkait

UMY Ubah Pola Konsumsi Rapat, 1.500 Pegawai Makan Siang Gratis Terpusat
25 Tahun bersama UMY, Ratih Herningtyas Buktikan Dedikasi dan Komitmen Kunci Sukses 
Pakar UMY: Lonjakan Harga Plastik Cermin Rapuhnya Struktur Industri Nasional
Lulusan UMY, Menjaga Diplomasi dengan Sentuhan Manusiawi
UMY Tanam Harapan di Lereng Merapi, Greenhouse Cangkringan Jadi Awal Kemandirian Warga
Pakar UMY: Gejolak Timur Tengah Jadi Ujian Ketahanan Ekonomi Nasional
UMY Kukuhkan 1.390 Lulusan, Rektor Tekankan Sinergi Kompetensi Global dan Nilai Kemanusiaan
UMY Kembangkan Akuaponik dari Air Wudhu, Dorong Kemandirian Pangan Warga Sleman

Berita Terkait

Sabtu, 25 April 2026 - 22:53 WIB

UMY Ubah Pola Konsumsi Rapat, 1.500 Pegawai Makan Siang Gratis Terpusat

Selasa, 21 April 2026 - 11:26 WIB

25 Tahun bersama UMY, Ratih Herningtyas Buktikan Dedikasi dan Komitmen Kunci Sukses 

Rabu, 15 April 2026 - 21:27 WIB

Pakar UMY: Lonjakan Harga Plastik Cermin Rapuhnya Struktur Industri Nasional

Selasa, 14 April 2026 - 23:22 WIB

Lulusan UMY, Menjaga Diplomasi dengan Sentuhan Manusiawi

Minggu, 12 April 2026 - 22:04 WIB

UMY Tanam Harapan di Lereng Merapi, Greenhouse Cangkringan Jadi Awal Kemandirian Warga

Berita Terbaru