JOGJAOKE.COM, Yogyakarta — Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Agus Tri Basuki, S.E., M.Si., menilai kebijakan redenominasi rupiah perlu diiringi dengan langkah konkret memperkuat sektor ekspor agar stabilitas ekonomi nasional terjaga.
“Kalau pemerintah ingin nilai rupiah tetap kuat dan redenominasi berjalan stabil, maka ekspor harus digencarkan. Ekspor yang tinggi akan memperkuat kurs rupiah,” ujar Agus saat ditemui di Gedung AR Fachruddin UMY, Kamis (13/11).
Menurut Agus, peningkatan ekspor memiliki efek berganda terhadap perekonomian nasional. Selain memperkuat nilai tukar, ekspor juga mendorong peningkatan tabungan nasional, memperkuat APBN, dan membuka lapangan kerja baru. Ia mencontohkan Singapura sebagai negara yang berhasil menjadikan ekspor sebagai tulang punggung ekonomi.
“Singapura itu unik. Hampir seluruh aktivitas ekonominya berbasis ekspor dan impor. Barang keluar-masuk sangat efisien, dan itu membuat APBN mereka kuat,” jelasnya.
Agus menilai, Indonesia perlu melakukan transformasi ekspor dari komoditas mentah menuju produk industri bernilai tambah tinggi dan berteknologi canggih. Langkah tersebut, katanya, akan meningkatkan daya saing serta memperluas penyerapan tenaga kerja.
“Kita tidak bisa terus mengandalkan ekspor bahan mentah. Harus mulai beralih ke produk industri dan teknologi. Dengan begitu, kita bisa menjaga daya beli masyarakat sekaligus memperkuat fondasi ekonomi,” katanya.
Selain ekspor, Agus menekankan pentingnya stabilitas politik dan pengendalian inflasi sebagai faktor pendukung utama pertumbuhan ekonomi. Ketidakseimbangan di dua sektor itu, menurutnya, akan berdampak langsung pada industri dan daya beli masyarakat.
“Stabilitas ekonomi dan politik itu saling terkait. Kalau pengangguran tinggi dan inflasi tak terkendali, permintaan barang menurun, industri pun akan melemah,” ujarnya.
Ia menambahkan, redenominasi seharusnya bukan sekadar penyesuaian angka dalam sistem keuangan, melainkan momentum memperkuat struktur ekonomi nasional.
“Redenominasi tanpa ekspor yang kuat itu seperti kapal tanpa mesin. Pemerintah perlu fokus pada penciptaan produk-produk baru untuk pasar global agar kurs rupiah dan kepercayaan publik terhadap ekonomi nasional tetap terjaga,” pungkasnya. (ihd)






