JOGJAOKE.COM, YOGYAKARTA – Karakter permukiman yang berdiri di atas laut menghadirkan tantangan tersendiri dalam pengelolaan sampah. seperti kawasan daratan, proses pengumpulan dan pengangkutan sampah dari rumah warga menuju fasilitas pengolahan membutuhkan sistem yang menyesuaikan dengan kondisi geografis setempat.
Persoalan tersebut dihadapi masyarakat Desa Mola Nelayan Bakti, Pulau Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Sebagian permukiman masyarakat berada di atas laut sehingga pengangkutan sampah menggunakan sistem konvensional tidak mudah dilakukan.
Sampah yang ditemukan di kawasan tersebut juga tidak seluruhnya berasal dari aktivitas rumah tangga masyarakat. Sebagian dapat terbawa arus laut dari kawasan lain dan kemudian terakumulasi di sekitar permukiman.
Kondisi tersebut mendorong Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tapak Pengabdi Khatulistiwa (Tabik) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengembangkan rocket stove sebagai salah satu teknologi tepat guna untuk membantu penanganan sampah residu di kawasan tersebut.
“Desa Mola Nelayan Bakti ini berdiri di atas laut sehingga sampah sangat sulit diangkut keluar menggunakan cara konvensional. Karena itu, dibutuhkan solusi pengelolaan sampah yang tersedia langsung di lokasi. Rocket stove menjadi salah satu inovasi yang kami kembangkan untuk menjawab persoalan spesifik tersebut,” kata Ketua Tim KKN Tabik UMY, Muhammad Fathur Hamzah, saat dihubungi Humas UMY secara daring, Selasa (1/9/2026).
Rocket Stove Dibangun Permanen di Permukiman
Berbeda dengan rocket stove yang umumnya dikenal sebagai tungku sederhana atau portabel, fasilitas yang dikembangkan di Desa Mola Nelayan Bakti dibuat dalam bentuk bangunan permanen.
Konstruksinya menggunakan semen, batako, pasir, dan rangka besi. Proses pembangunan melibatkan tenaga konstruksi setempat sebelum dilanjutkan dengan plester dan tahap penyelesaian akhir.
Menurut Fathur, desain tersebut dikembangkan agar fasilitas dapat digunakan dalam jangka lebih panjang oleh masyarakat setelah program KKN selesai.
Program ini juga bukan sepenuhnya dimulai dari awal. Pengembangan rocket stove merupakan kelanjutan dari program KKN Tabik UMY generasi sebelumnya.
“Program ini sebenarnya telah dimulai oleh KKN Tabik generasi sebelumnya. Namun, kapasitas unit yang tersedia dan jangkauan edukasi kepada masyarakat masih terbatas sehingga generasi keenam melanjutkan sekaligus mengembangkan program tersebut,” lanjutnya.
Keberlanjutan antargenerasi KKN menjadi bagian penting dari pendekatan program. Dengan demikian, mahasiswa tidak selalu memulai program baru setiap periode, tetapi dapat mengevaluasi, melanjutkan, dan mengembangkan program yang sebelumnya telah dijalankan berdasarkan kebutuhan masyarakat.
Pengelolaan Sampah Tidak Berhenti pada Pembakaran
Meski rocket stove dikembangkan sebagai salah satu fasilitas penanganan sampah, pengelolaan sampah di Desa Mola Nelayan Bakti tidak hanya bertumpu pada teknologi tersebut.
Tim KKN juga menyediakan 20 tong sampah untuk mendukung pengumpulan dan pemilahan sampah di kawasan permukiman. Selain itu, mahasiswa menjalankan program Save Our Sea (SOS) melalui aksi bersih lingkungan dan laut bersama masyarakat.
Keterlibatan warga menjadi penting karena persoalan sampah di kawasan pesisir tidak dapat diselesaikan hanya dengan pembangunan fasilitas.
Pengurangan sampah dari sumber, pemilahan, penggunaan kembali, dan daur ulang tetap menjadi bagian penting dalam pengelolaan sampah. WHO juga merekomendasikan pengurangan produksi sampah, pemilahan, penggunaan kembali, dan daur ulang sebagai langkah utama untuk mengurangi dampak sampah terhadap lingkungan dan kesehatan.
Pembakaran Sampah Plastik Perlu Diwaspadai
Dalam pengoperasiannya, jenis sampah yang dimasukkan ke rocket stove perlu menjadi perhatian. Pembakaran sampah plastik secara tidak terkendali tidak dapat diposisikan sebagai solusi utama pengelolaan sampah.
WHO menyebut pembakaran sampah dapat melepaskan berbagai polutan udara yang berdampak terhadap kesehatan dan lingkungan. Paparan emisi pembakaran sampah dalam jangka pendek maupun panjang antara lain berkaitan dengan batuk, iritasi, serta gangguan pernapasan.
Kementerian Kesehatan RI juga mengingatkan bahwa pembakaran limbah plastik dapat menghasilkan zat yang berbahaya bagi kesehatan, termasuk polutan yang mengganggu sistem pernapasan.
Karena itu, penggunaan rocket stove perlu disertai pemilahan jenis sampah, prosedur operasional, serta evaluasi terhadap keamanan dan emisinya. Klaim mengenai kemampuan fasilitas menekan emisi juga membutuhkan pengukuran teknis agar dapat dipastikan efektivitasnya.
Warga Disiapkan Menjadi Operator
Selain pembangunan fasilitas, keberlanjutan program menjadi perhatian Tim KKN Tabik UMY. Mahasiswa mendorong terbentuknya mekanisme operasional yang melibatkan masyarakat sebagai pihak yang nantinya menggunakan dan merawat fasilitas.
“Yang ingin kami bangun bukan sekadar alat, tetapi juga kemandirian masyarakat untuk mengelolanya. Nantinya sudah ada warga yang terlibat sebagai operator sehingga pengelolaan sampah tetap dapat berjalan setelah tim KKN kembali. Dengan adanya unit tambahan dan 20 tong sampah, kami berharap masyarakat memiliki sistem yang lebih baik dibanding sebelumnya,” ungkap Fathur.
Pelibatan warga juga diperlukan agar penggunaan fasilitas dapat disesuaikan dengan kondisi lapangan. Operator tidak hanya bertugas menjalankan rocket stove, tetapi idealnya juga memahami jenis sampah yang dapat dan tidak dapat diproses serta prosedur keselamatan selama pengoperasian.
Dari Teknologi Menuju Sistem Pengelolaan Sampah
Program KKN Tabik UMY di Desa Mola Nelayan Bakti menunjukkan bahwa persoalan sampah di kawasan pesisir membutuhkan pendekatan yang menyesuaikan dengan karakter geografis dan kehidupan masyarakat setempat.
Dalam konteks permukiman di atas laut, keterbatasan akses pengangkutan membuat solusi pengelolaan sampah perlu dirancang berbeda dari kawasan daratan.
Karena itu, teknologi tepat guna perlu ditempatkan sebagai salah satu bagian dari sistem yang lebih luas. Penyediaan sarana pengumpulan, pemilahan sampah, edukasi masyarakat, aksi pembersihan laut, pengurangan sampah dari sumber, serta keterlibatan warga menjadi unsur yang saling melengkapi.
Melalui keberlanjutan program dari satu generasi KKN ke generasi berikutnya, mahasiswa UMY berharap pengelolaan sampah di Desa Mola Nelayan Bakti tidak berhenti setelah masa pengabdian selesai.
Keterlibatan masyarakat sebagai pengelola menjadi kunci agar program dapat berkembang menjadi sistem pengelolaan sampah yang lebih mandiri dan sesuai dengan karakter permukiman pesisir Wakatobi. (GLA)
Sumber : humas umy






