JOGJAOKE.COM, YOGYAKARTA – Pakar intelijen Universitas Indonesia, Dr. Stepi Andriani, memaparkan peluang Indonesia menghadapi dinamika geopolitik global yang terus berubah sangat cepat saat ini.
Stepi mengatakan geopolitik dunia telah memasuki era 5.0 dengan kekuatan siber menjadi garda terdepan dalam persaingan antarnegara di berbagai kawasan.
“Geopolitik saat ini masuk era 5.0, garda terdepannya adalah cyber power,” ujar Stepi saat seminar kebangsaan di
Universitas PGRI Yogyakarta, Selasa.
(14/7/2026).
Ia mencontohkan serangan awal Rusia ke Ukraina yang menyasar jaringan internet sebagai bukti pentingnya dominasi kekuatan siber dalam konflik modern global.
Menurut Stepi, geopolitik 5.0 juga ditandai meningkatnya konflik konektivitas yang melibatkan dukungan kekuatan besar di belakang negara-negara yang berkonflik tersebut.
“Yang dilihat bukan sekadar besar kecil negaranya, tetapi siapa kekuatan besar yang berada di belakangnya,” tegas Stepi kepada peserta seminar.
Dalam pemaparannya, Stepi menjelaskan terdapat dua mazhab utama keamanan nasional, yakni realisme dan liberalisme yang memiliki pendekatan sangat berbeda mendasar.
Ia menyebut mazhab realisme lebih menitikberatkan kepentingan negara dengan mengutamakan keamanan nasional sebagai prioritas utama dalam berbagai kebijakan strategis negara.
Sebaliknya, liberalisme menempatkan nilai kemanusiaan sebagai pijakan utama sehingga menjunjung tinggi hak-hak sipil serta prinsip praduga tak bersalah setiap individu.
”Dalam mazhab liberalisme, kesalahan sebesar apa pun tetap menggunakan asas praduga tak bersalah,” kata Stepi menjelaskan kepada para mahasiswa peserta.
Stepi menilai pendekatan terbaik bukan memilih salah satu mazhab, melainkan menggabungkan keduanya secara seimbang sesuai tantangan keamanan nasional yang berkembang.
“Kalau hanya berbeda pendapat, demonstrasi, atau mengkritik pemerintah, itu tidak boleh dikontra, justru harus didengarkan,” tegasnya kembali dalam seminar tersebut.
Membaca situasi global, Stepi menilai posisi Indonesia kini semakin diperhitungkan banyak negara sehingga arah kebijakan luar negeri menjadi perhatian dunia internasional.
“Indonesia sekarang menjadi negara yang dicari arah keberpihakannya dalam kancah global,” ujar Stepi menyoroti posisi strategis Indonesia di dunia internasional.
Ia optimistis fondasi ekonomi Indonesia masih kuat, namun mengingatkan tantangan terbesar ke depan berada pada aspek geo-ekonomi yang semakin kompetitif dan kompleks.
Stepi menekankan penguatan literasi digital, pendidikan politik, serta komunikasi publik menjadi tiga bekal utama menghadapi tantangan geopolitik masa depan Indonesia yang dinamis.
Seminar kebangsaan tersebut turut menghadirkan Prof. Zuly Qodir dari UMY serta Dr. M. Iqbal Birsyada dari UPY sebagai pembicara pendamping membahas perspektif sejarah. (WAW)






