Bangun Budaya Bersih, Pemkot Yogyakarta Jadikan Ngepel Malioboro sebagai Simbol Kepedulian

Sabtu, 13 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JOGJAOKE.COM, YOGYAKARTA – Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta memanfaatkan momentum peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia untuk memperkuat komitmen pembangunan kota yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui aksi “Ngepel Malioboro” yang melibatkan ribuan peserta dari unsur pemerintah, komunitas, pelaku usaha, lembaga pendidikan, hingga masyarakat, Jumat (12/6/2026).

Kegiatan yang dipusatkan di kawasan Malioboro itu tidak hanya menjadi aksi simbolis membersihkan ruang publik, tetapi juga bagian dari gerakan kolektif membangun kesadaran lingkungan di seluruh wilayah Kota Yogyakarta.

Penjabat Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta, Dedi Budiono, mengatakan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini dilaksanakan secara lebih luas melalui kerja bakti serentak di 150 titik yang tersebar di berbagai kawasan kota.

Menurutnya, pendekatan tersebut menunjukkan bahwa persoalan kebersihan tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah atau petugas kebersihan, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

“Kita ingin menegaskan bahwa kebersihan kota bukan hanya urusan petugas kebersihan atau pemerintah, tetapi menjadi budaya seluruh warga,” kata Dedi.

Ia menjelaskan, Malioboro dipilih sebagai lokasi utama kegiatan karena kawasan tersebut merupakan ikon wisata sekaligus wajah Kota Yogyakarta di tingkat nasional maupun internasional. Oleh karena itu, menjaga kebersihan dan kenyamanan Malioboro dinilai menjadi bagian penting dari strategi pembangunan citra kota yang ramah, tertata, dan berkelanjutan.

Menurut Dedi, kualitas ruang publik yang bersih dan nyaman akan memperkuat daya tarik wisata sekaligus mendukung visi pembangunan Kota Yogyakarta yang menempatkan aspek lingkungan sebagai salah satu prioritas.

“Ketika wisatawan datang ke Kota Yogyakarta, salah satu tempat pertama yang mereka kunjungi adalah Malioboro. Karena itu, kita ingin setiap tamu yang datang ke Kota Yogyakarta merasakan ruh Jogja Berhati Nyaman yang sesungguhnya,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia berharap semangat gotong royong yang ditunjukkan dalam aksi tersebut dapat berkembang menjadi budaya masyarakat yang diterapkan secara konsisten, baik di lingkungan permukiman, sekolah, perkantoran, tempat ibadah, maupun kawasan usaha.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta, Rajwan Taufiq, menegaskan bahwa kegiatan tersebut juga menjadi momentum memperkuat sistem pengelolaan sampah yang selama ini dikembangkan Pemkot Yogyakarta.

Dalam kesempatan itu, Pemkot menerima dukungan berupa 600 unit ember organik dari Perseroda BPR Bank Jogja. Bantuan tersebut akan digunakan untuk memperluas pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat yang saat ini telah mengoperasikan sekitar 1.200 ember organik dengan kapasitas pengolahan mencapai 30 ton sampah per hari.

Selain itu, bantuan sarana pengelolaan sampah berupa biopori juga disalurkan kepada sejumlah pondok pesantren di Kota Yogyakarta sebagai bagian dari pengembangan Gerakan Mas JOS berbasis santri.

Menurut Rajwan, program tersebut sejalan dengan kebijakan Pemkot dalam mendorong pengurangan sampah dari sumbernya sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan. Saat ini, Kota Yogyakarta telah memiliki sekitar 800 unit biopori jumbo yang berfungsi mendukung pengelolaan sampah organik dan meningkatkan daya serap air di kawasan perkotaan.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap partisipasi masyarakat dan wilayah yang aktif menjaga kebersihan lingkungan, Pemkot Yogyakarta juga memberikan penghargaan kepada titik kerja bakti terbaik dalam kegiatan tersebut.

Kelurahan Patangpuluhan berhasil meraih juara pertama melalui kegiatan di Jalan Patangpuluhan. Posisi kedua diraih Kelurahan Cokrodiningratan di kawasan Jalan Dr. Sardjito hingga Jalan RW Monginsidi, sedangkan juara ketiga diberikan kepada Kelurahan Suryatmajan di sepanjang Jalan Abu Bakar Ali.

Adapun penghargaan harapan pertama diraih Kelurahan Gowongan di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, sementara harapan kedua diberikan kepada Kelurahan Muja Muju di Jalan Kenari.

Melalui gerakan kolaboratif tersebut, Pemkot Yogyakarta berharap agenda pelestarian lingkungan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial tahunan, tetapi berkembang menjadi gerakan sosial yang mampu memperkuat kualitas lingkungan hidup, meningkatkan daya saing kota, serta mendukung keberlanjutan pembangunan daerah. (Aga)

Berita Terkait

‎Viral Aksi Gerombolan Debt Collector Bantul, Polisi Dalami Pengerusakan Rumah Warga
Kodim Wonosobo Resmikan Jembatan Garuda, Buka Akses Majukan Desa Terpencil
‎Pemda Pastikan JLFR Tetap Meluncur, Pesepeda Bebas Melintas Malioboro
‎Bedah Film UWM Bongkar Tantangan Implementasi UU Pekerja Rumah Tangga
Ruwatan Ageng Bantul Doakan Keselamatan Bangsa dan Keseimbangan Alam
Takmir NHK Borong Sawi, Petani dan Jamaah Bahagia
‎Polda DIY dan Jogja Menyapa Bergerak Bantu Warga
Ahli Waris Klaim Tanah Masuk SHGB UMK, Minta Kejelasan Bukti

Berita Terkait

Kamis, 23 Juli 2026 - 16:35 WIB

‎Viral Aksi Gerombolan Debt Collector Bantul, Polisi Dalami Pengerusakan Rumah Warga

Kamis, 23 Juli 2026 - 15:07 WIB

Kodim Wonosobo Resmikan Jembatan Garuda, Buka Akses Majukan Desa Terpencil

Rabu, 22 Juli 2026 - 15:48 WIB

‎Pemda Pastikan JLFR Tetap Meluncur, Pesepeda Bebas Melintas Malioboro

Rabu, 22 Juli 2026 - 13:45 WIB

‎Bedah Film UWM Bongkar Tantangan Implementasi UU Pekerja Rumah Tangga

Rabu, 22 Juli 2026 - 09:39 WIB

Ruwatan Ageng Bantul Doakan Keselamatan Bangsa dan Keseimbangan Alam

Berita Terbaru

Komjen Pol. Prof. Dr. Cryshnanda Dwilaksana (Ketua Pusat Studi Ilmu Kepolisian). (Foto Ist).

Jakarta

Polisi Masa Depan yang Dipercaya Publik

Sabtu, 25 Jul 2026 - 10:50 WIB