JOGJAOKE.COM, Jogja – Pada pagi 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya lewat suara lantang Soekarno dan Mohammad Hatta di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta.
Namun di balik peristiwa bersejarah itu, ada sosok yang nyaris terlupakan, yakni Muhammad Yusuf Ronodipuro.
“Kalau Yusuf tidak menyiarkan proklamasi ke luar negeri, dunia mungkin terlambat tahu Indonesia merdeka,” begitu kisah yang terus dikenang para pejuang radio saat itu.
Saat proklamasi dibacakan, Yusuf ternyata sedang terjebak di gedung Radio Hoso Kyoku, Jakarta.
Tentara Kempetai Jepang menjaga ketat seluruh akses gedung sejak 14 Agustus 1945.
“Tidak ada yang boleh keluar masuk, bahkan siaran luar negeri dihentikan total,” tulis sejumlah catatan sejarah perjuangan radio Indonesia.
Yusuf bersama para staf radio hanya bisa menunggu tanpa kepastian di tengah suasana mencekam perang yang belum benar-benar usai.
Harapan datang ketika seorang pegawai kantor berita Domei bernama Adam Malik mengirim kabar melalui Syahruddin. Secarik kertas berisi pesan bahwa proklamasi telah dibacakan langsung membakar semangat Yusuf.
“Siaran harus dilakukan malam itu juga,” kata Yusuf kepada rekan-rekannya, Bachtiar Loebis dan Joe Seragih.
Mereka lalu diam-diam menyusun strategi menggunakan studio siaran mancanegara yang sudah tidak aktif agar bisa terhubung ke pemancar internasional.
Tepat pukul 19.00 WIB, suara Yusuf Ronodipuro akhirnya mengudara ke seluruh dunia.
Dengan penuh keberanian, ia membacakan teks proklamasi dalam bahasa Indonesia lalu mengulanginya dalam bahasa Inggris.
“Indonesia has proclaimed its independence,” begitu kalimat yang membuat radio-radio internasional seperti BBC London hingga Singapura menangkap kabar kemerdekaan Indonesia.
Dunia akhirnya tahu bahwa bangsa ini telah berdiri sebagai negara merdeka.
Namun keberanian itu harus dibayar mahal.
Kempetai Jepang murka setelah mendengar siaran tersebut. Yusuf dan Bachtiar Loebis langsung disergap lalu dipukuli hingga babak belur.
“Seorang perwira Jepang bahkan sudah menghunus katana dan hampir memenggal kepala Yusuf,” demikian cerita yang terus diwariskan dalam sejarah radio Indonesia.
Nyawanya selamat setelah seorang pegawai Jepang berteriak menghentikan penyiksaan karena Jepang telah kalah perang.
Dengan tubuh penuh darah, Yusuf kemudian bersepeda menuju rumah sahabatnya, pelukis Basuki Abdullah, sebelum akhirnya dirawat di rumah sakit Salemba.
Perjuangan Yusuf tak berhenti setelah malam proklamasi. Pada 11 September 1945, ia ikut mendirikan Radio Republik Indonesia atau RRI dan mencetuskan slogan legendaris, “Sekali di Udara Tetap di Udara.”
Yusuf Ronodipuro wafat pada 27 Januari 2008 di usia 88 tahun. Namanya memang jarang muncul di buku pelajaran, tetapi suaranya menjadi salah satu alasan dunia akhirnya mengenal Indonesia sebagai negara merdeka. (waw)






