‎Wacana Tutup Prodi Picu Kritik Akademisi, Kampus Kecil Terancam

Kamis, 30 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dosen Universitas Widya Mataram (UWM), Prof. Dr. Ir. Ambar Rukmini, M.P.

Dosen Universitas Widya Mataram (UWM), Prof. Dr. Ir. Ambar Rukmini, M.P.

JOGJAOKE.COM, SLEMAN – Wacana Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) untuk menutup program studi (prodi) yang dinilai tak relevan dengan kebutuhan industri menuai sorotan tajam.

Kalangan akademisi mengingatkan agar kebijakan tersebut tidak gegabah karena berpotensi menimbulkan dampak luas, terutama bagi perguruan tinggi swasta kecil.

Dosen Universitas Widya Mataram (UWM), Prof. Dr. Ir. Ambar Rukmini, M.P., menilai konsep “relevansi” tidak bisa disederhanakan hanya dari kebutuhan industri saat ini.

“Industri itu dinamis dan cenderung berorientasi jangka pendek,” ujarnya. Ia menegaskan, pendidikan tinggi memiliki fungsi lebih luas daripada sekadar memenuhi pasar kerja.

“Jika relevansi hanya diukur dari kebutuhan pasar kerja saat ini, maka pendidikan tinggi berisiko kehilangan fungsi dasarnya sebagai ruang pengembangan ilmu, pembentukan nalar kritis, dan penjaga kebudayaan,” tegas Ambar.

Menurutnya, pendekatan sempit justru bisa menggerus esensi perguruan tinggi.
‎Ia mencontohkan sejumlah disiplin ilmu seperti filsafat, sastra, dan ilmu dasar yang kerap dianggap tidak relevan secara langsung dengan industri.

“Padahal justru ilmu-ilmu itu menjadi fondasi penting bagi inovasi jangka panjang,” katanya.

Ia menilai, banyak terobosan besar lahir dari riset yang awalnya tidak berorientasi industri.

Ambar juga menyoroti potensi ketimpangan antarperguruan tinggi jika kebijakan ini diterapkan.

“Kampus besar mungkin bisa beradaptasi dengan membuka prodi baru atau menyesuaikan kurikulum. Tapi kampus kecil? Mereka jauh lebih rentan,” ujarnya.

Ia mengingatkan, penutupan prodi di kampus kecil bisa berdampak langsung pada akses pendidikan masyarakat.

“Jika prodi di kampus kecil ditutup karena dianggap tidak relevan, maka yang hilang bukan hanya program studi, tetapi juga akses pendidikan bagi masyarakat,” tandasnya.

Ia mendorong pemerintah mengedepankan pembinaan bertahap, insentif kolaborasi, serta dukungan finansial.

“Relevansi memang penting, tetapi pendidikan tinggi harus tetap menjadi ruang refleksi, inovasi, dan keberagaman ilmu,” pungkasnya. (andriyani)

Berita Terkait

‎Angin Kencang Terjang Sleman, Atap Rumah Rusak Parah
Ahli Ingatkan Risiko Kumarin pada Produk Herbal Kemasan jika Dikonsumsi Berlebih
‎Esti Wijayati Kawal Kasus Ilham, Tuntut Keadilan Tanpa Kompromi
Ribuan Warga Turun, Jogja Bersatu Tolak Anarkisme Jelang May Day
Mandiri Bangkit Sekolah Lansia Ngropoh Hidupkan Semangat Pemberdayaan Warga ‎
‎UMY Genjot UMKM Jamu Gendong Naik Kelas Berbasis Islami
Ruzan & Vita Ubah Kisah Cinta Jadi Tur Musik Lewat Pesta Rock n Roll Jakarta
Wamendagri Bima Arya Soroti Kelemahan Aglomerasi, Dorong Pendekatan Sektoral Lebih Efektif

Berita Terkait

Kamis, 30 April 2026 - 09:13 WIB

‎Angin Kencang Terjang Sleman, Atap Rumah Rusak Parah

Kamis, 30 April 2026 - 08:51 WIB

‎Esti Wijayati Kawal Kasus Ilham, Tuntut Keadilan Tanpa Kompromi

Kamis, 30 April 2026 - 08:43 WIB

Ribuan Warga Turun, Jogja Bersatu Tolak Anarkisme Jelang May Day

Kamis, 30 April 2026 - 08:29 WIB

‎Wacana Tutup Prodi Picu Kritik Akademisi, Kampus Kecil Terancam

Kamis, 30 April 2026 - 08:25 WIB

Mandiri Bangkit Sekolah Lansia Ngropoh Hidupkan Semangat Pemberdayaan Warga ‎

Berita Terbaru

Jakarta

LBH AMKI Hadir untuk Perkuat Perlindungan Hukum Insan Media

Kamis, 30 Apr 2026 - 09:19 WIB

Jogja

‎Angin Kencang Terjang Sleman, Atap Rumah Rusak Parah

Kamis, 30 Apr 2026 - 09:13 WIB