Optimalisasi Ruang Literasi Desa melalui Pendekatan Kreatif dan Partisipatif

Sabtu, 25 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

kegiatan Sambirejo Literacy Festival yang digagas oleh dosen UMY untuk meningkatkan literasi masyarakat desa Sambirejo, Prambanan, Sleman

kegiatan Sambirejo Literacy Festival yang digagas oleh dosen UMY untuk meningkatkan literasi masyarakat desa Sambirejo, Prambanan, Sleman

JOGJAOKE.COM, Persoalan literasi di tingkat desa tidak selalu terletak pada ketiadaan fasilitas, melainkan pada belum optimalnya pemanfaatan ruang dan program yang sudah tersedia. Banyak perpustakaan telah berdiri dengan dukungan infrastruktur memadai, tetapi belum sepenuhnya menjadi pusat aktivitas belajar masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa penguatan literasi tidak cukup hanya melalui penyediaan sarana, tetapi juga memerlukan inovasi pendekatan agar masyarakat terlibat secara aktif.

Merespons kondisi tersebut, dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Puthut Ardianto, S.Pd., M.Pd., bersama dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) UMY, Lanoke Intan Paradita, Ph.D., menginisiasi kegiatan pengabdian masyarakat yang berpuncak pada Sambirejo Literacy Festival.

Program ini dilaksanakan di Jl. Candi Ijo, Gunung Sari, Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan menggandeng komunitas lokal, khususnya Omah Literasi dan Tim Bimbingan Belajar Budhi Pekerti. Pendampingan yang telah berlangsung sejak Februari 2026 ini juga berfokus pada penguatan kapasitas fasilitator lokal agar mampu mengembangkan program literasi secara mandiri dan berkelanjutan.

“Kami melihat sebenarnya infrastruktur literasi di Sambirejo sudah cukup baik, bahkan aktivitasnya juga sudah ada. Namun, pemanfaatannya masih terbatas pada kelompok tertentu, khususnya anak-anak bimbingan belajar. Karena itu, kami mencoba menghadirkan variasi kegiatan literasi agar lebih inklusif dan menarik bagi masyarakat luas. Dengan begitu, ruang literasi yang sudah ada dapat dimanfaatkan secara bersama,” ungkap Lanoke, Sabtu (25/4) secara daring.

Salah satu pendekatan yang diperkenalkan adalah metode read aloud atau membaca nyaring. Metode ini tidak hanya digunakan sebagai sarana membaca, tetapi juga dikembangkan menjadi pintu masuk untuk berbagai aktivitas lanjutan seperti menulis, diskusi, hingga kegiatan kreatif. Pendekatan tersebut sekaligus menjadi strategi untuk meningkatkan kapasitas tim bimbingan belajar agar memiliki lebih banyak alternatif metode pembelajaran.

Sebagai puncak kegiatan, Sambirejo Literacy Festival digelar pada 20–25 April 2026 sebagai ruang apresiasi sekaligus perayaan proses belajar yang telah berlangsung. Festival ini menampilkan berbagai karya anak-anak, mulai dari hasil kerajinan hingga tulisan yang dihasilkan selama kegiatan.

Kegiatan festival juga melibatkan orang tua sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem literasi di lingkungan keluarga. Melalui keterlibatan ini, orang tua diharapkan tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga memahami serta mendukung proses belajar anak di rumah.

“Festival ini menjadi momen penting karena anak-anak dapat melihat bahwa karya mereka dihargai dan dipamerkan. Di sisi lain, orang tua juga dapat menyaksikan langsung perkembangan anaknya. Dari situ diharapkan muncul kesadaran bersama bahwa literasi bukan hanya tanggung jawab sekolah atau bimbingan belajar, tetapi juga perlu didukung dari lingkungan keluarga,” jelas Lanoke.

Selain festival, tim pengabdian juga menyusun guidebook yang dikembangkan bersama mahasiswa dan tim Omah Literasi. Panduan ini memuat berbagai alternatif aktivitas lanjutan setelah membaca yang dirancang untuk mengembangkan kreativitas, kemampuan berpikir kritis, serta literasi secara menyeluruh.

“Kami ingin program ini berkelanjutan. Dengan adanya panduan kegiatan dan pengalaman selama pendampingan, tim Omah Literasi memiliki bekal untuk terus mengembangkan program. Literasi tidak berhenti sebagai kegiatan, tetapi menjadi kebiasaan yang tumbuh di masyarakat,” tegasnya. (lsi)

Sumber : Humas Umy

Berita Terkait

‎Viral Aksi Gerombolan Debt Collector Bantul, Polisi Dalami Pengerusakan Rumah Warga
Kodim Wonosobo Resmikan Jembatan Garuda, Buka Akses Majukan Desa Terpencil
‎Pemda Pastikan JLFR Tetap Meluncur, Pesepeda Bebas Melintas Malioboro
‎Bedah Film UWM Bongkar Tantangan Implementasi UU Pekerja Rumah Tangga
Ruwatan Ageng Bantul Doakan Keselamatan Bangsa dan Keseimbangan Alam
Takmir NHK Borong Sawi, Petani dan Jamaah Bahagia
‎Polda DIY dan Jogja Menyapa Bergerak Bantu Warga
Ahli Waris Klaim Tanah Masuk SHGB UMK, Minta Kejelasan Bukti

Berita Terkait

Kamis, 23 Juli 2026 - 16:35 WIB

‎Viral Aksi Gerombolan Debt Collector Bantul, Polisi Dalami Pengerusakan Rumah Warga

Kamis, 23 Juli 2026 - 15:07 WIB

Kodim Wonosobo Resmikan Jembatan Garuda, Buka Akses Majukan Desa Terpencil

Rabu, 22 Juli 2026 - 15:48 WIB

‎Pemda Pastikan JLFR Tetap Meluncur, Pesepeda Bebas Melintas Malioboro

Rabu, 22 Juli 2026 - 13:45 WIB

‎Bedah Film UWM Bongkar Tantangan Implementasi UU Pekerja Rumah Tangga

Rabu, 22 Juli 2026 - 09:39 WIB

Ruwatan Ageng Bantul Doakan Keselamatan Bangsa dan Keseimbangan Alam

Berita Terbaru