Eko Suwanto Usul Anggaran Stunting di Jogja Naik, Tiap Kalurahan Rp120 Juta

Jumat, 16 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua Komisi A DPRD DIY Eko Suwanto (Jennus)

Ketua Komisi A DPRD DIY Eko Suwanto (Jennus)

Usulan tersebut disampaikan Eko dalam forum diskusi kelompok terarah (FGD) bertajuk Strategi Atasi Stunting yang digelar Kamis (15/1/2026). Menurut dia, peningkatan anggaran merupakan bagian dari komitmen PDI Perjuangan dalam mendorong kebijakan pembangunan yang berpihak langsung kepada masyarakat.

“PDI Perjuangan berkomitmen penuh agar kebijakan pembangunan benar-benar dialokasikan untuk program pro rakyat, termasuk penurunan angka stunting. Peningkatan anggaran ini adalah hasil kerja keras bersama,” kata Eko dalam keterangan tertulis.

Eko menegaskan, keberpihakan terhadap program kesehatan masyarakat di tingkat akar rumput diperkuat melalui Peraturan Daerah DIY Nomor 3 Tahun 2024 tentang Pemajuan Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan dan Kelurahan serta Peraturan Daerah Istimewa (Perdais) Nomor 1 Tahun 2024 tentang Kelembagaan.

Menurut Eko, penguatan kelembagaan kelurahan menjadi kunci agar Dana Keistimewaan dapat dimanfaatkan secara optimal. Ia mendorong agar kelurahan di Kota Yogyakarta ditetapkan sebagai organisasi perangkat daerah (OPD).

“Selama ini lurah dan jajarannya masih menjadi unsur staf kemantren sehingga memiliki keterbatasan kewenangan dalam pengelolaan anggaran. Perubahan Perda Perangkat Daerah perlu segera dilakukan,” ujar alumnus Magister Ekonomi Pembangunan Universitas Gadjah Mada tersebut.

Sementara itu, Paniradya Kaistimewan DIY Kurniawan mengapresiasi kinerja lurah dan perangkat kelurahan dalam pelaksanaan program penanganan stunting yang didukung anggaran Rp100 juta pada tahun sebelumnya. Ia menilai tata kelola pelaksanaan dan pelaporan program berjalan dengan baik.

“Terima kasih atas dedikasi dan disiplin dalam menjalankan program pemberdayaan masyarakat. Hasilnya nyata, angka stunting di Kota Yogyakarta menurun,” kata Kurniawan.

Data Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta menunjukkan, prevalensi stunting di wilayah tersebut mengalami penurunan signifikan. Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Yogyakarta Aan Iswanti menyebutkan, angka stunting turun dari 12 persen menjadi 8,6 persen.

Menurut Aan, capaian itu tidak terlepas dari kerja kolaboratif antara lurah, tim pendamping keluarga, serta tenaga kesehatan dalam melakukan pendampingan dan intervensi, terutama terhadap kasus stunting dan ibu hamil dengan anemia.

“Kami rutin melakukan pendampingan dan intervensi. Penurunan ini adalah hasil kerja bersama lintas sektor,” ujar Aan. (ihd)

Berita Terkait

DIY Siapkan Embarkasi Haji YIA, Layanan Berbasis Hotel Pertama di Indonesia
Jalan Malioboro Menuju Kawasan Pedestrian Penuh pada 2026
DIY Lacak 6.360 Kasus TBC, Skrining Keluarga Jadi Prioritas Pencegahan
Ganti Rugi Lahan JJLS Garongan–Congot Dibayar Bertahap, Target Rampung 2027–2028
Sri Sultan Dorong Kolaborasi Pariwisata DIY, InJourney Perkuat Peran UMKM
Sri Sultan: Pers Diuji Keteguhan Etika di Era Pasca-Kebenaran
Pemda DIY Perluas Akses Sertifikasi Halal untuk Dongkrak Daya Saing UMKM
Peringatan Hari Desa Nasional 2026, Sri Sultan Tekankan Integritas dan Pelayanan Kalurahan

Berita Terkait

Kamis, 5 Februari 2026 - 18:13 WIB

DIY Siapkan Embarkasi Haji YIA, Layanan Berbasis Hotel Pertama di Indonesia

Rabu, 4 Februari 2026 - 18:41 WIB

Jalan Malioboro Menuju Kawasan Pedestrian Penuh pada 2026

Selasa, 3 Februari 2026 - 22:17 WIB

DIY Lacak 6.360 Kasus TBC, Skrining Keluarga Jadi Prioritas Pencegahan

Senin, 2 Februari 2026 - 18:20 WIB

Ganti Rugi Lahan JJLS Garongan–Congot Dibayar Bertahap, Target Rampung 2027–2028

Senin, 26 Januari 2026 - 20:32 WIB

Sri Sultan Dorong Kolaborasi Pariwisata DIY, InJourney Perkuat Peran UMKM

Berita Terbaru