UMY: Keprotokolan Seni Etika dan Komunikasi Penjaga Martabat Bangsa

Kamis, 15 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala Istana Kepresidenan Yogyakarta, Deni Mulyana, memberikan materi dalam Pelatihan Keprotokolan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Kamis (15/1/2036), di Gedung AR Fachruddin A Lantai 5 UMY. (UMY)

Kepala Istana Kepresidenan Yogyakarta, Deni Mulyana, memberikan materi dalam Pelatihan Keprotokolan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Kamis (15/1/2036), di Gedung AR Fachruddin A Lantai 5 UMY. (UMY)

JOGJAOKE.COM, Yogyakarta — Keprotokolan kerap dipersepsikan sebatas tata aturan teknis dalam penyelenggaraan acara resmi. Padahal, di balik susunan tempat duduk, urutan sambutan, hingga tata cara penyambutan tamu, terdapat peran yang jauh lebih mendasar: menjembatani relasi antarmanusia, jabatan, lembaga, sekaligus beragam kepentingan yang menyertainya.

Pandangan itu disampaikan Kepala Istana Kepresidenan Yogyakarta, Deni Mulyana, saat memberikan materi dalam Pelatihan Keprotokolan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Kamis (15/1/2036), di Gedung AR Fachruddin A Lantai 5 UMY. Menurut Deni, keprotokolan bekerja pada wilayah etika dan komunikasi, bukan semata-mata pada kepatuhan prosedural.

“Protokol itu perekat. Ia memastikan setiap orang merasa dihormati, acara berjalan tertib, dan komunikasi terjaga dengan baik,” ujar Deni di hadapan peserta pelatihan.

Secara yuridis, keprotokolan di Indonesia memiliki landasan yang kuat melalui Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan. Namun, Deni menegaskan bahwa regulasi tersebut hanyalah kerangka. Implementasinya menuntut kepekaan, kebijaksanaan, serta kemampuan membaca situasi.

“Undang-undang memberi batas dan pedoman, tetapi protokol tidak bisa dijalankan secara kaku. Ada etika, ada rasa, dan ada seni berkomunikasi. Ketika aturan ditegakkan tanpa etika, justru berpotensi menimbulkan ketegangan,” katanya.

Keprotokolan, lanjut Deni, berlandaskan sejumlah asas penting. Di antaranya asas kebangsaan yang mencerminkan watak Indonesia yang majemuk, asas ketertiban dan kepastian hukum, serta asas keseimbangan dan keselarasan antara kepentingan individu, masyarakat, dan negara. Dalam konteks hubungan internasional, asas timbal balik menjadi prinsip yang tak terpisahkan.

Jika dijalankan dengan tepat, protokol tidak hanya memastikan acara selesai sesuai jadwal, tetapi juga meninggalkan kesan yang mendalam. “Orang merasa dihargai, relasi terjaga, dan suasana menjadi harmonis. Dampaknya sering kali tidak terlihat, tetapi sangat dirasakan,” ujarnya.

Dalam relasi antarnegara, keprotokolan bahkan menjadi cermin wajah bangsa. Cara menyambut tamu negara, mengatur tempat, hingga sikap dan gestur petugas protokol mencerminkan martabat serta harga diri nasional.

Para peserta bersama pengajar. (Istimewa)

Karena itu, etika dasar menjadi fondasi utama dalam praktik keprotokolan. Etika tersebut mencakup kepercayaan diri, kemampuan memberi kesan yang baik, pelayanan yang tulus, loyalitas yang proporsional, menjaga kerahasiaan, pengendalian emosi, serta kecakapan beradaptasi dengan berbagai kalangan.

“Protokol bukan sekadar pekerjaan teknis, melainkan amanah. Di dalamnya ada tanggung jawab menjaga kehormatan pimpinan, kenyamanan tamu, dan kelancaran acara. Ketika semua pihak merasa aman dan dihormati, di situlah protokol bekerja dengan sempurna,” tutur Deni. (ihd)

Berita Terkait

Pakar UMY: Pertumbuhan 8 Persen Harus Serap Tenaga Kerja, Bonus Demografi Jadi Penentu
Ajir Hybrid untuk Kemukus, Inovasi Mahasiswa KKN UMY di Perbukitan Kulon Progo
Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama, UMY Perkuat Ikatan dengan Warga Sekitar Kampus
Malam Seribu Bulan, Dosen UMY: Hikmah Lailatul Qadar di 10 Hari Terakhir Ramadan
UMY: Pembatasan Medsos bagi Anak Perlu Dikaji Cermat, Literasi Digital Lebih Penting
UMY Berangkatkan 340 Mahasiswa Mudik Gratis 2026 hingga Lampung dan Palembang
Perempuan dan Demokrasi Lokal: UMY Dorong Penguatan Kepemimpinan di Sleman
LEADS UMY: Memimpin Perubahan, Mencerahkan Dunia di Usia ke-45

Berita Terkait

Jumat, 20 Maret 2026 - 08:08 WIB

Pakar UMY: Pertumbuhan 8 Persen Harus Serap Tenaga Kerja, Bonus Demografi Jadi Penentu

Senin, 16 Maret 2026 - 21:16 WIB

Ajir Hybrid untuk Kemukus, Inovasi Mahasiswa KKN UMY di Perbukitan Kulon Progo

Senin, 16 Maret 2026 - 20:51 WIB

Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama, UMY Perkuat Ikatan dengan Warga Sekitar Kampus

Minggu, 15 Maret 2026 - 21:25 WIB

Malam Seribu Bulan, Dosen UMY: Hikmah Lailatul Qadar di 10 Hari Terakhir Ramadan

Jumat, 13 Maret 2026 - 14:37 WIB

UMY: Pembatasan Medsos bagi Anak Perlu Dikaji Cermat, Literasi Digital Lebih Penting

Berita Terbaru