JOGJAOKE COM, Yogyakarta — Perubahan zaman yang sarat ketidakpastian menuntut umat Islam untuk tetap menjaga optimisme dan semangat kemajuan. Pesan itu disampaikan Wakil Rektor Bidang Pengembangan Universitas serta Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof Faris Al-Fadhat, dalam khutbah Jumat berbahasa Inggris di Masjid Ahmad Dahlan UMY, Jumat (9/1/2026).
Dalam khutbah bertajuk Preserving the Spirit of Progress in Changing Times tersebut, Prof Faris mengajak jamaah merefleksikan perjalanan sepanjang 2025 yang diwarnai beragam tantangan. Ia menyinggung bencana banjir di Sumatera dan sejumlah wilayah lain di Indonesia, tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, hingga dinamika geopolitik global yang turut memengaruhi stabilitas dunia.
“Semua ini mengingatkan kita bahwa hidup tidak selalu berjalan stabil dan masa depan tidak selalu mudah diprediksi,” ujarnya.
Memasuki 2026, Prof Faris menekankan pentingnya menumbuhkan harapan dan sikap optimistis. Ia menyebutkan target pertumbuhan ekonomi nasional sekitar 5,4 persen yang dipasang pemerintah. Menurut dia, target tersebut perlu disikapi dengan kerja keras, kolaborasi, serta keyakinan akan masa depan yang lebih baik.
Optimisme itu, kata Prof Faris, sejalan dengan ajaran Islam. Seorang mukmin sejati adalah mereka yang terus bergerak maju dan memperbaiki kualitas diri. Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa orang yang hari ini lebih baik dari kemarin adalah orang yang beruntung, sedangkan stagnasi merupakan bentuk kerugian.
Belajar Tanpa Henti
Prof Faris kemudian menguraikan dua pelajaran penting untuk menjaga spirit kemajuan. Pertama, memperluas cakrawala berpikir. Ia mencontohkan kisah Nabi Musa AS yang dengan kerendahan hati belajar kepada Nabi Khidir AS sebagaimana tertuang dalam Surah Al-Kahfi.
Kisah tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa kemajuan lahir dari kesediaan untuk terus belajar, membuka diri terhadap pengalaman baru, serta menyadari bahwa ilmu Allah SWT tidak terbatas.
“Sebesar apa pun pengetahuan manusia, kita harus terus belajar. Kemajuan lahir dari kerendahan hati dan keterbukaan terhadap perubahan,” katanya.
Ia mendorong civitas academica UMY menjadikan pembelajaran sepanjang hayat sebagai komitmen, termasuk dengan mengenal budaya lain dan menyerap nilai-nilai terbaik demi membangun diri, masyarakat, dan bangsa.
Mengabdi untuk Kepentingan Bersama
Pelajaran kedua yang disampaikan adalah pentingnya menjalani hidup untuk kepentingan yang lebih besar. Prof Faris mengangkat keteladanan Abu Bakar Ash-Shiddiq RA yang menyerahkan seluruh hartanya demi kepentingan umat sebagai contoh pengorbanan dan keimanan.
Dari kisah tersebut, ia menegaskan bahwa kemajuan dan kekuatan komunitas tidak lahir dari sikap egois, melainkan dari keberanian berbagi dan mengutamakan kemaslahatan bersama.
“Ketika hidup hanya untuk diri sendiri, hidup akan stagnan dan kehilangan makna. Namun ketika hidup didedikasikan untuk kemaslahatan bersama, Allah akan membuka pintu-pintu kemajuan,” ujarnya.
Menutup khutbah, Prof Faris menegaskan bahwa kemajuan sejati tidak semata diukur dari pencapaian personal, melainkan dari manfaat dan warisan kebaikan yang ditinggalkan bagi sesama.
“Menjaga spirit kemajuan berarti menjaga iman tetap hidup, pikiran tetap terbuka, dan hati tetap peduli,” katanya.
Ia mengajak jamaah menjadikan awal 2026 sebagai momentum perubahan untuk menjadi pribadi yang lebih baik, umat yang lebih kuat, dan bangsa yang lebih bermartabat. (ihd)






