Waspadai Kerusakan Rumah di Musim Hujan, Pakar UMY Ingatkan Perawatan

Jumat, 7 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pakar Teknik Struktur dan Bahan Konstruksi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Ir. Restu Faizah, S.T., M.T. (Dok UMY)

Pakar Teknik Struktur dan Bahan Konstruksi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Ir. Restu Faizah, S.T., M.T. (Dok UMY)

JOGJAOKE.COM, Yogyakarta — Memasuki musim hujan dengan intensitas tinggi, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko kerusakan bangunan dan ambruknya rumah, terutama bagi hunian lama yang jarang dirawat.

Hujan deras yang mengguyur selama beberapa hari memang dapat menjadi pemicu, tetapi penyebab utama kerusakan justru terletak pada kondisi fisik rumah yang menurun serta kurangnya perawatan berkala.

Pakar Teknik Struktur dan Bahan Konstruksi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Ir. Restu Faizah, S.T., M.T., menuturkan bahwa sebagian besar kasus rumah roboh saat musim hujan disebabkan oleh kelalaian dalam pemeliharaan struktur.

Air hujan yang merembes ke bagian penting bangunan seperti atap, dinding, dan pondasi menjadi faktor utama yang mempercepat kerusakan.

“Ketika musim hujan, yang paling perlu diwaspadai adalah air yang masuk ke bagian struktur. Misalnya pada atap, jika kayu sudah lapuk dan tidak diperiksa, lama-kelamaan bisa roboh,” ujar Restu saat ditemui di Gedung AR Fachruddin A, Kampus UMY, Jumat (7/11).

Restu menjelaskan bahwa kualitas material bangunan juga berperan besar terhadap daya tahan rumah, terutama di wilayah dengan curah hujan tinggi seperti Yogyakarta.

Penggunaan bahan bangunan yang tidak sesuai dengan kondisi lingkungan, menurut dia, dapat mempercepat proses pelapukan dan membahayakan penghuni.

“Untuk daerah yang sering diguyur hujan, bahan bangunan sebaiknya tahan air. Kolom dan dinding harus diplester agar air tidak mudah merembes. Kalau betonnya terlalu porus, air bisa menembus hingga ke tulangan dan menyebabkan korosi,” katanya.

Lebih jauh, Restu mengingatkan pentingnya menyesuaikan bahan bangunan dengan risiko bencana lokal. Di daerah berintensitas hujan tinggi, ia menyarankan penggunaan material ringan dan tahan air agar tidak menambah beban struktur ketika basah.

“Prinsipnya, kita harus memahami kondisi geografis sebelum membangun. Pilih kayu tua yang sudah dipelitur, dinding diplester rapat, dan gunakan atap ringan agar tidak menambah massa bangunan saat basah,” ujarnya menambahkan.

Selain ancaman kerusakan fisik, musim hujan juga meningkatkan potensi bahaya sekunder seperti banjir dan tanah longsor. Untuk itu, Restu mendorong adanya mitigasi struktural dini melalui program pemeriksaan kondisi rumah lama.

Ia mengusulkan kerja sama antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam bentuk penilaian kelayakan struktur bangunan.

“Pemerintah bisa memberikan edukasi, sementara perguruan tinggi berperan lewat pengabdian masyarakat. Dosen dan mahasiswa teknik bisa membantu memeriksa kondisi rumah tua di desa,” tuturnya.

Dengan sinergi tersebut, risiko kerusakan bangunan dapat ditekan sekaligus memperkuat budaya hidup aman dan tangguh bencana di lingkungan permukiman. (ihd)

Berita Terkait

Masa Depan Negara Hukum Bergantung pada Integritas Advokat Indonesia
Shamsi Ali: Populasi Muslim di Amerika Capai 15 Juta Jiwa, Dua Kali Lipat Data Resmi
Di Tengah Islamofobia, Mualaf di Amerika Meningkat Drastis Usai 9/11
UMY Anugerahkan Penghargaan Tertinggi kepada Shamsi Ali, Imam Asal Indonesia di New York
Perkuat Kinerja Birokrasi, Pemprov Banten Wacanakan Perampingan Dua OPD
OJK Batasi Multi-Akun Paylater, Pakar UMY Nilai Langkah Ini Tepat
Hipertensi Anak Meningkat di Indonesia, Dosen UMY Minta Hasil CKG Tak Langsung Disimpulkan
Misi Tuan Rumah PON 2032, Banten Unjuk Gigi Lewat Diplomasi Golok Pusaka di Forum KONI

Berita Terkait

Senin, 25 Mei 2026 - 21:22 WIB

Masa Depan Negara Hukum Bergantung pada Integritas Advokat Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 - 13:34 WIB

Shamsi Ali: Populasi Muslim di Amerika Capai 15 Juta Jiwa, Dua Kali Lipat Data Resmi

Sabtu, 23 Mei 2026 - 13:29 WIB

Di Tengah Islamofobia, Mualaf di Amerika Meningkat Drastis Usai 9/11

Sabtu, 23 Mei 2026 - 13:17 WIB

UMY Anugerahkan Penghargaan Tertinggi kepada Shamsi Ali, Imam Asal Indonesia di New York

Jumat, 22 Mei 2026 - 19:56 WIB

Perkuat Kinerja Birokrasi, Pemprov Banten Wacanakan Perampingan Dua OPD

Berita Terbaru